Setubuhi Anak Dibawah Umur, Botak Dituntut Enam Tahun Penjara

Terdakwa I Ketut Mahardika alias Malias alias Botak yang dituntut enam tahun penjara. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yuni Astuti menjatuhkan tuntutan enam tahun penjara terhadap terdakwa I Ketut Mahardika alias Malias alias Botak yang menyetubuhi dengan anak dibawah umur.

Dalam sidang, Senin (11/2),  jaksa  Kejari Badung itu dalam amar tuntutanya menyatakan terdakwa asal Bangli itu terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 ayat (1) Jo Pasal 76 D UU Perlindungan Anak.

Yaitu, dengan kekerasan atau ancaman memaksa anak melakukan persetujuan dengannya atau dengan orang lain. Sebelum menjatuhkan tuntutan, jaksa terlebih dahulu membacakan hal-hal yang memberatkan dan meringankan.

Yang memberatkan, perbuatan terdakwa membuat tekanan psikologis terhadap korban dan keluarga korban. Sedangkan hal-hal yang meringankan, terdakwa berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya, terdakwa belum pernah dihukum dan terdakwa sopan selama persidangan.

“Memohon kepada majelis hakim untuk menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama enam tahun, denda Rp1 miliar subsider dua bulan penjara,” ujar jaksa sebagaimana dalam surat tuntutanya yang dibacakan dihadapan majelis hakim pimpin Ni Made Purnami.

Dalam surat tuntutan, jaksa juga membeberkan sejumlah fakta yang terungkap selama persidangan. Diantaranya kasus yang menjerat terdakwa ini berawal dari perkenalan terdakwa dengan korban NWE di facebook.

Dari perkenalan itu, terdakwa pada tanggal 17 Agustus 2018 sekitar pukul 21.30 wita mengajak anak korban untuk jalan-jalan. “Anak korban menyetujui untuk diajak jalan-jalan oleh terdakwa,” sebut jaksa dalam surat tuntutanya.

Sejurus kemudian, dengan menggunakan sepeda motor, terdakwa mengajak anak korban ke rumah kost milik Pak Mangku di Jalan Taman Mumbul. Sampai di dalam kamar, anak korban diminta untuk duduk diatas kasur.

“Terdakwa lalu menarik paksa celana anak korban, namun anak korban menolak sembari mengatakan, jangan-jangan,” ungkap jaksa. Namun terdakwa terus beraksi dan menarik BH anak korban, dan anak korban terus memberontak.

Karena anak korban menolak diajak berhubungan badan, terdakwa pun mengancam akan mempubilkasikan foto anak korban yang dalam keadaan telanjang di facebook. Namun anak korban tetap menolak.

Keesokan harinya, terdakwa menghubungi anak korban dan mengatakan, “Kemarin kamu tidak mau berhubungan badan dengan saya, mumpung saya ada di Nusa Dua, ayo sekarang berhubungan badan kalau tidak mau maka foto kamu akan saya unggah di facebook.” Kali ini anak korban takut dengan ancaman itu dan mengiyakan serta meminta terdakwa untuk menjemputya.

Sekitar pukul 13.00 Wita, terdakwa menjemput anak korban dan membawanya ketempat sebelumnya di kamar kost milik Pak Mangku. Sampai ditempat kost milik Pak Mangku, terdakwa membawa masuk anak korban ke dalam kamar.

Sampai di dalam kamar terdakwa langsung menarik paksa celana anak korban. Singkat cerita, terdakwa berhasil menyetubuhi korban hingga tidak menghiraukan korban yang merasa kesakitan.

Setelah itu, terdakwa kembali mengantar anak korban pulang ke rumahnya. Tak hanya itu, pada tanggal 24 September 2018 pada saat anak korban pulang kampung, terdakwa dengan ancaman yang sama mengajak anak korban untuk kembali berhubungan badan.

Karena anak korban menolak, terdakwa pun akhirnya mengunggah foto tanpa busana anak korban dan diketahui oleh sepupu korban yang langsung menanyakan hal itu kepada anak korban.

Anak korban pun akhirnya menceritakan apa yang dialaminya. Mendengar cerita itu, sepupu korban dan orang tua korban, pada tanggal 3 Oktober 2018 melaporkan kasus ini Polresta Denpasar. (pro)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment