Dijemput Paksa, Bule Inggris Penampar Petugas Imigrasi Divonis 6 Bulan Penjara

Auj-E Taqaddas dikawal dua petugas dari Kejari Badung saat menjalani sidang dengan agenda putusan. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Sesuai perintah majelis hakim, jaksa Kejari Badung akhirnya menjemput paksa, Auj-E Taqaddas, bule Inggris yang menampar petugas Imigrasi di Bandara Ngurah Raih, Rabu (06/02).

Taqaddas, dijemput paksa saat berada di Lippo Mall, Kuta sekitar pukul 11.00 Wita. Taqaddas dijemput paksa karena tiga kali mangkir dari persidangan.

Dalam rekaman video yang diambil petugas Kejari Badung, Taqaddas tidak terima dijemput paksa. Oleh karena itu, caci makian bahkan tendangan diterima oleh tim yang melakukan penjemputan paksa.

Meski begitu, tim yang melakukan penjemputan paksa tidak peduli dan terus menggiring Taqaddas ke dalam mobil yang akan mengangkutnya ke PN Denpasar guna menjalani sidang dengan agenda pembacaan putusan.

Sampai di PN Denpasar, Taqaddas terus berteriak dan sesekali melontarkan cacian dengan menggunakan bahasa Inggris.

Majelis hakim PN Denpasar pimpinan Eksthar Oktavi akhirnya mengganjar terdakwa Taqaddas dengan pidana penjara selama 6 bulan.

Vonis ini, lebih ringgan setengah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Triarta Kurniawan yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama satu tahun.

Majelis hakim dalam amar putusnya menyatakan terdakwa Taqaddas terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 212 KUHP. Yaitu melawan petugas yang sedang menjalankan tugas.

Atas putusan itu, Taqaddas yang tidak didampingi pengacara itu langsung menyatakan banding. Namun, atas putusan itu, jaksa tidak bisa melakukan penahan terhadap terdakwa.

Alasanya, dalam amar putusan, hakim tidak secara langsung memerintahkan untuk menahan terdakwa.

Terdakwa Taqaddas menendang salah satu pentugas saat digiring keluar dari Lippo Mall.

“Karena tidak ada perintah untuk segara menahan terdakwa, maka kami pun tidak bisa menahan,”ujar Kasi Intel Kejari Badung, Waher Tarihoran.

Sementara itu sebagaimana dalam dakwaan jaksa yang dibacakan terungkap, terdakwa adili karena menampar petugas Imigrasi. Kejadian ini terjadi pada tanggal 28 Juli 2018 di raung pemeriksaan Imigrasi, Bandara Ngurah Rai.

Kasus ini berawal saat terdakwa Auj-E Taqaddas akan terbang ke Singapura. Saat dilakukan pemeriksaan dokumen oleh petugas Imigrasi, diketahui bahwa terdakwa telah over sty (melebihi izin tingg) selama 3 bulan.

Atas temuan itu, petugas bernama Bima membawa terdakwa ke ruang pemeriksaan. Sampai di ruang pemeriksaan, rekan Bima, yaitu Andhika Rahmad Santoso mengambil paspor terdakwa.

Saat itu terdakwa sudah dalam keadaan emosi. Kemudian saksi Andhika menyerahkan Paspor terdakwa kepada Ardyansyah. Saat itu saksi Ardyansyah menjelaskan kepada terdakwa bahawa terdakwa tidak bisa berangkat karena harus menjalani pemeriksaan.

Mengetahui itu, terdakwa marah-marah dan memaki hingga mengeluarkan kata-kata kotor. Terdakwa berusaha merampas paspor yang dipegang oleh Ardyansyah, tapi tidak berhasil.

Karena tidak berhasil marampas paspornya, terdakwa menampar pipi kiri Ardyansyah. Tak hanya itu, terdakwa juga berusaha mengambil router wifi dan mengarahkan kearah Ardyansyah, namun bisa dihalangi.

Saksi Ardyansyah sendiri, saat ditampar sedang menjalankan tugas dan menjabat sebagai Assitant Supervisor pada unit A Imigrasi Ngurah Rai. Akibat perbuatanya, terdakwa dijerat dengan Pasal 212 ayat (1) KUP. (pro)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment