Alay, Buronan Korupsi Rp119 Miliar Diboyong Tim Kejati Lampung

Sugianto Wijaya alias Alay berada dalam mobil diangkut menuju Bandara Ngura Rai. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Bos Tripanca Group Sugiarto Wijaya alias Alay terpidana kasus korupsi senilai Rp. 119 miliiar yang buronan sejak tahun 2014 dan ditangkap di Bali, Kamis (7/2) diboyong ke Kejati Lampung untuk dijebloskan dalam pernjara.

Tim dari Kejati Lampung yang dipimpin langsung, Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Lampung, Andi Suharlis tiba di Bali, Kamis (7/2) sekitar pukul 10,45 Wita.

Setelah dilakukan pemeriksaan kurang lebih dua jam, Alay dibawa oleh petugas Kejati Lampung ke Kejaksaan Agung di Jakarta.

“Rencananya akan dibawa dahulu ke Kejaksaan Agung (Kejagung) mungkin pukul 15.30 sore sampai di sana (Jakarta),” kata Suharlis.

Suharlis menuturkan, pihaknya bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melakukan pengejaran.

Diketahui, selama kabur, koruptor ini sempat terdeteksi di Jember, Lombok, Pasuruan, dan Malang. Bahkan, ia juga pernah ke Australia.

Sugiarto Wijaya (topi putih) saat digiring menuju mobil kejaksaan sebelum dibawa ke Bandara Ngurah Rai.Foto:BNN/pro

“Kesulitan yang kami alami karena orang lari jadi dia bergerak terus ke sana ke mari. Kesulitan kita untuk mendeteksi di satu titik. Jadi, kita hrus mencari koordinat yang betul,” lanjutnya.

Selain itu, Alay juga ternyata menggandakan identitasnya. Terkahir ia menggunkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dengan nama Oei Hok Gie dengan alamat Klojen, Malang, Jawa Timur.

Sementara kepergiannya ke Australia dengan memanfaatkan masa jeda daftar cekalnya. Untuk diketahui, daftar cekal berlaku selama enam bulan. Setelah itu harus diperpanjang lagi.

Nah, untuk menghindari deteksi Imigrasi, Alay memanfaatkan jeda tersebut. “Dia sejak 2014 sudah tidak ada di Lampung lagi. Karena setelah selesai dia kabur dan menghilang dalam persidangan korupsi dia sudah kabur posisinya,” katanya.

Tak hanya itu, Alay juga diduga memiliki aset di Bali berupa rumah. Namun, pihak Kejati Lampung masih belum memastikannya.

Pihaknya akan bekerjasama dengan pusat pemulihan aset dari Kejaksaan Agung. “Bantuan dari KPK juga, indikasinya iya (punya aset) tapi belum dipastikan,” jelasnya.

Diketahui, berdasarkan putusan MA Nomor 510/K/PID.SUS/2014 tanggal 21 Mei 2014, Alay dijatuhi vonis 18 tahun penjara. Setelah itu Alay langsung menjadi buronan dan baru ditangkap di Bali. (pro)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment