Embat Uang Kos Rp 21 Juta, Perempuan Ini Nangis Saat Diadili

Ade Helena O Sinurat alis Ade memeluk korban sembari meminta maaf atas apa yang telah diperbuatnya. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Ade Helena O Sinurat alis Ade (34) tak kuasa menahan tangis saat didudukan di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Senin (14/01). Ade dijadikan terdakwa karena mengembat uang pebayaran kos.

Sidang, selain mengagendakan pembacaan dakwaan, juga langsung dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi. Ada empat orang saksi yang dihadirkan Jaksa Ni Putu Eriek Sumyanti.

Dari empat orang saksi, satu diantaranya yaitu Ramles Marbun adalah saksi korban. Menariknya, diakhir kesaksianya, saksi korban malah memohon kepada majelis hakim untuk membebaskan terdakwa.

“Saya sudah memaafkan terdakwa yang mulia, karena itu saya mohon kalau bisa terdakwa dibebaskan,” pinta saksi kepada majelis hakim pimpinan I.A Adnya Dewi dimuka sidang.

Atas permintaan itu, hakim menjawab semuanya harus dibuktikan dalam persidangan. “Kalau nanti memang terdakwa tidak terbukti bersalah, pasti kami bebaskan. Jadi untuk saat ini kami periksa dulu,” jawab Hakim Adnya Dewi.

Majelis hakim lalu menyarankan agar terdakwa meminta maaf kepada korban. Tanpa ragu-ragu terdakwa langsung mendekati dan memeluk korban sembari meminta maaf.

Nah saat itulah tangis terdakwa pencah. “Saya mengaku bersalah yang mulia,” aku terdakwa sambil menangis terisak-isak.

Terdakwa juga mengakui, uang pembayaran kos yang semestinya diserahkan kepada saksi korban, semua digunakan untuk keperluan pribadi, termasuk diberikan kepada orang tuanya.

“Apa yang membuat terdakwa tergiur mengambil uang yang bukan milik terdakwa,” tanya Hakim Andya Dewi yang dijawab terdakwa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sementara itu sebagaimana dalam dakwaan jaksa dijelaskan, aksi terdakwa ini dilakukan pada hari Jumat, 7 September 2018 di kos-kosan milik saksi korban, Ramles Marbun di Kerobokan.

Terdakwa diberi kepercayaan oleh korban untuk mengurus, memasarkan dan memungut uang sewa kos setiap bulanya. Awalnya pekerjaan itu dijalani dengan baik oleh terdakwa.

Tapi pada Bulan September 2018, terdakwa tidak menyetor uang sewa kos kepada saksi korban. Uang kos yang tidak disetorkan kepada terdakwa jumlah sebesar Rp 21.300.000.

Atas hal itu, korban pun akhirnya melaporkan terdakwa ke polisi. Saat itu terungkap bahwa, uang sewa kos dari penghuni kos, digunakan terdakwa untuk keperluan pribadinya.

Atas perbuatan itu, jaksa Kejari Badung ini menjerat terdakwa dengan dakwaan tunggal yaitu Pasal 372 KUHP. (pro)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment