Impor 1.887 Butir Pil Ekstasi,  WN Malaysia Ini Terancam Hukuman Mati

Mohd Husaini bin Jaslee, WN Malaysia yang diduga impor 1.887 butir pil ekstasi. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Warga Negara (WN) Malaysia bernama Mohd Husaini bin Jaslee (35) yang diduga mengimpor 1.887 butir pil ekstasi, Senin (7/1) diadili di PN Denpasar. Sidang masih dengan agenda pembacaan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Purwanti Murtiasih yang diwakili oleh Jaksa Megawati.

Jika melihat dari Pasal yang tertuang dalam dakwaan, maka terdakwa yang didampingi pengacara Ketut Dody Artha Kariyawan ini pun terancam hukuman mati. Jaksa menjerat terdakwa dengan Pasal 113 ayat (2) UU Narkotika pada dakwaan kesatu atau Pasal 112 ayat (2) UU yang sama pada dakwaan kedua.

Sementara itu, dalam dakwaan diuraikan, terdakwa ditangkap petugas pada tanggal 9 Sempter 2018 di Bandara Soekarno-Hatta, Cengakerang. Saat ditangkap, terdakwa tidak sendiri. Dia bersama Nurasyqin binti AB Razak.

Dalam dakwaan diuraikan pula, sebelum ditangkap, pada tangga 3 September 2018 sekira pukul 06.00 waktu Malaysia, terdakwa bersama Nurasyqin binti AB Razak berangkat dari Kuala Lumpur menuju Bali dengan menumpang pesawat Air Asia D7798.

Tiba di Bali sekitar pukul 10.00 Wita. Terdakwa membawa satu buah tas laptop warna hitam, satu buah tas gendong, dan tas koper warna abu-abu Sedangkan temanya, membawa satu buah tas gendong warna biru dan sebuah tas koper warna silver.

Saat tiba diterminal kedatangan Bandara Ngurah Rai, keduanya yang sebelumnya sempat ke toile, menuju ke tempat pemeriksaan Bea Cukai dan mengisi Declaration Custom. Usai mengisi dan menyerahkan Declaration Custom kepada petugas, terdakwa diarahkan melakukan pemeriksaan barang di mesih X-Ray.

“Saat periksaan dengan mesin X-Ray, terdakwa hanya memasukan tas koper warna abu-abu, sedangka tas laptop warna hitam tidak terdakwa masukkan ke mesin X-Ray,”sebut jaksa Kejati Bali itu.

Aksi itu dilihat oleh petugas yang langsung meminta terdakwa untuk memasukan tas laptop warna hitam kedalam mesin X-Ray. Tapi, karena isi dari tas laptop itu adalah ekstasi, terdakwa yang merasa khawatir perbuatanya diketahui, tidak memasukan tas itu kedalam mesin X-Ray.

Terdakwa malah meletakkan tas laptop itu disamping mesin X-Ray, dan untuk mengelabuhi petugas terdakwa memasukan lagi tas koper warna abu-abu kedalam mesin X-Ray.

Setelah meletakan tas disamping mesin X-Ray, terdakwa meninggalkan bandara dengan membawa tas koper warna abu-abu. Selanjutknya terdakwa mencari penginapan, dan sore harinya melanjutkan perjalanan ke Jakarta dan dilanjutkan kembali ke Malaysia.

Sedangkan temanya, Nurasyqin binti AM Razak tetap berada di Bali yang kembali ke Malaysia tidak bersamaan dengan terdakwa.

Tidak lama setelah terdakwa bersama temanya meninggalkan Bandara, sekitar pukul 13.00 Wita, salah satu petugas mendapat laporan dari penumpang tentang adanya tas laptop warna hitam disamping mesin X-Ray.

Oleh petugas, tas laptop itu kemudian dimasukan kedalam mesin X-Ray. Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa didalam tas laptop itu berisikan Narkotika yang diduga ekstasi sebanyak 1887 butir atau sebarat 588,7 gram.

Setelah itu, dilakukan pemeriksaan CCTV oleh petugas untuk mencari tahu siapa pemilik dari tas. Dari CCTV petugas memastikan bahwa tas yang berisikan ekstasi itu adalah milik terdakwa.

Atas temuan itu, Polda Bali langsung menerbitkan Daftar Pencarian Orang (DPO) terhadap terdakwa dan juga rekanya. Polisi, baru bisa menangkap terdakwa saat terdakwa bersama rekanya kembali ke Indonesia melalui Bandara Soekarn Hatta, Cengkareng, Minggu (9/9).

Sehari kemudian, petugas Polisi Bandara Soekarno Hatta menyerahkan terdakwa kepada Polda Bali untuk diperiksa lebih lanjut. Atas dakwaan ini, terdakwa melalui pengacaranya sepakat mengajukan keberatan atau eksepsi. (pro)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment