Lima Perguruan Tinggi di Taiwan Mitra STIKOM Bali Tidak Bermasalah

Presiden Taiwan Tsai Ing Wen. FB/Ist

Denpasar/BaliNewsNetwork-Ketua STMIK STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan menegaskan, lima perguruan tinggi di Taiwan yang  telah menjalin kerja sama dengan STIKOM Bali tidak terlibat dugaan eksploitasi mahasiswa. Penegasan Dadang Hermawan ini untuk menanggapi pemberitaan media di Indonesia terkait dugaan ekploitasi para mahasiswa yang diduga dilakukan beberapa universitas di Taiwan.

Ditemui di ruang kerjanya Kamis (03/01/2019) Dadang Hermawan menjelaskan, kelima perguruan tinggi di Taiwan yang bekerja sama dengan STIKOM Bali yakni sebuah perguruan tinggi negeri dan empat perguruan tinggi swasta. Dari lima perguruan tinggi tersebut, dua di antaranya sudah menerima 24 mahasiswa yang dikirim oleh LPK DARMA (STIKOM Bali Group). Yakni Chienkuo Technology University menerima 16 mahasiswa dan Taipei University of Maritime Technology menerima 8 mahasiswa.

“Sebagian besar mereka sudah bekerja dan tidak ada masalah dengan kondisi kerja yang mereka terima,” kata Dadang Hermawan.

Disebutkan, sesuai data tahun 2018, di Taiwan terdapat 144 perguruan tinggi. Lima perguruan tinggi yang sudah bekerja sama dengan STIKOM Bali adalah National Taiwan Ocean University di Keelung yang menempati ranking 19 di Taiwan,  Chienkuo Technology University di Changhua (ranking 81),  MingDao University di Pitou (ranking 105),  WuFeng University di Minxiong (ranking 126), dan  Taipei University of Maritime Technology di Taipei City (ranking 129).

Menyusul pemberitaan dugaan eksploitasi para mahasiswa tersebut, Kementerian Luar Negeri RI melalui  juru bicaranya menyatakan menghentikan untuk sementara rekrut calon mahasiswa Indonesia ke Taiwan, sambil menunggu klarifikasi dari Kementerian Pendidikan Taiwan. Terhadap pernyataan Kemenlu RI ini, Dadang Hermawan meminta para calon mahasiswa maupun calon mahasiswa internship yang sudah lulus seleksi supaya tetap tenang, menunggu informasi selanjutnya.

“Karena dugaan eksploitasi ini sifatnya kasuistis, bukan kebijakan, sehingga kita tidak perlu khawatir, pasti ada jalan keluarnya, kita tunggu saja. Begitu juga program rekrut untuk gelombang berikutnya tetap kita agendakan, jalan terus,  agar pada saatnya nanti (aturan baru itu keluar-red) kita tidak kelabakan,” urai Dadang Hermawan. “Sebab skemah kuliah-magang ini adalah salah satu kebijakan pemerintah Taiwan,” tukasnya.

Sekedar diketahui bersama,  program kuliah sambil kuliah di Taiwan ini adalah salah satu implementasi “Kebijakan Baru ke Selatan” atau New Southbound Policy (NSP) yang telah diadopsi oleh  pemerintahan baru Taiwan di bawah Presiden Tsai Ing Wen. Tujuan  jangka panjang dari New Southbound Policy adalah mengembangkan hubungan antara Taiwan dengan negara-negara ASEAN dan Asia Selatan serta Selandia Baru dan Australia di bidang  ekonomi dan perdagangan, ilmu pengetahuan, dan teknologi  serta budaya; berbagai sumber daya, bakat dan pasar,  serta menciptakan model kerja sama baru yang saling menguntungkan dan mencapai kemenangan bagi seluruh pihak.. NSP dalam bahasa  Presdien Tsai Ing Wen, dengan upaya ini kita berusaha untuk menguatkan “rasa komunitas ekonomi”. (rsn)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment