Yayasan Permatan Bunda Berbelas Kasih Flotim, Membagi Kasih di Solor

Pimpinan YPBBK Cabang Flores Timur Benedikta Noben Dasilva (kanan) menyerahkan bantuan benang tenun kepada anggota kelompok tenun Peten Kame, Desa Lamawalang (lamawohong), Kecamatan Solor Barat, Minggu (10/12/18). Foto: BNN/Emnir.

Solor/BaliNewsNetwork-Membangun kembali semangat para perantau asal Flores Timur yang dideportase dari Malaysia, serta tergerak oleh rasa belas kasihan terhadap nasib perempuan Lamaholot, Flores Timur, khususnya perempuan-perempuan  yang dilupakan para suami akibat pergi merantau, Yayasan Permata Bunda Berbelas Kasih (YPBBK) Cabang Flores Timur pun berbagi kasih.

Pimpinan YPBBK Cabang Flotim Benedikta Noben Dasilva kepada balinewsnetwork.com di sela-sela kegiatan penyerahan bantuan benang tenun kepada kelompok tenun Peten Kame di Desa Lamawalang, Kecamatan Solor Barat, Minggu, 9 Desember 2018, menjelaskan, pemberian bantuan stimulan kepada perempuan-perempuan yang dilupakan oleh suaminya yang pergi merantau.

“Dari benang-benang ini, mereka menenun, dan hasil tenun mereka itu  kami pasarkan di Jakarta. Hasil pemasaran itu murni untuk mereka. Tak hanya di kampung Lamawohong, Desa Lamawalang ini, namun masih banyak perempuan-perempuan Lamaholot yang mengalami nasib serupa, dilupakan oleh para suami, entah karena nikmat di tanah rantau, pun entah melarat di sana. Nah, mereka ini pun akhirnya terpaksa berlaku ganda, sebagai kepala keluarga sekaligus ibu rumah tangga. Bayangkan saja, betapa menderitanya mereka berusaha hidup di kampung yang serba berkekurangan,” urai Noben Dasilva sembari meriwayatkan keterpanggilan pihaknnya itu berawal dari kegiatan sosialisasi  tentang human trafficking di sejumlah desa pada Kecamatan Solor Barat, bulan Oktober  2018 silam.

Tak cuma terenyuh akan kehidupan perempuan-perempuan Lamaholot yang dilupakan para suaminya, YPBBK Cabang Flotim pun tergerak oleh rasa belas kasihan kepada warga Flotim yang dideportase dari Malaysia. Aktif menghantar mereka  hingga tiba dikampung halamannya, Noben Dasilva pun memfasilitasi mereka untuk membuka lapangan pekerjaan. Selain mengupayakan bantuan ternak sapi, Benta, demikianlah Noben Dasilva itu biasa disapa,  mendonasikan stimulus usaha perbengkelan bagi eks perantau yang dideportase.

“Untuk sementara kami masih berkonsentrasi di Solor, karena memang sebelumnya kami menghantar beberapa perantau asal Solor yang dideportasi. Sederhana saja melihatnya, ketika mereka kembali ke kampung halamannya, apa yang harus mereka lakukan, sedangkan mereka tidak memiliki modal usaha? Mereka ini bukan pulang karena telah sukses di sana, namun karena terjaring dan dipulangkan akibat tidak memiliki dokumen sebagai pekerja di luar negeri. Artinya mereka bekerja dalam situasi tidak aman, yang berdampak pada tidak berhasilnya tujuan mereka pergi merantau. Dipulangkan dengan tidak memiliki uang,” ujar Benta penuh haru. (Emnir)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment