SAR Mataram Meyakini Enam Korban Hilang Tidak Lagi di Perairan NTB

Kepala Kantor SAR Mataram I Nyoman Sidakarya. Foto: BNN/ist.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Kepala Kantor SAR Mataram I Nyoman Sidakarya meyakini, keenam Anak Buah Kapal (ABK)  KM Multi Prima 01 yang menjadi korban kapal itu tenggelam pada Kamis, 22 Nopember 2018 lalu yang sampai sekarang dinyatakan hilang, tidak lagi berada di sekitar perairan NTB. Kepastikan ini untuk menepis pihak keluarga korban yang menduga para korban hilang masih berada di seputaran perairan NTB, Bali maupun Madura.

Hal itu dikatakan Nyoman Sidakarya ketika dihubungi dari Bali melalui  telepon selularnya, Jumat 97/12/2018) petang. Nyoman Sidakarya juga menepis anggapan bahwa usaha pencarian oleh tim SAR Mataram selama ini hanya terfokus di sekitar perairan NTB.

“Sejak kapal itu tenggelam, kami sudah menyisir perairan Bali, Pulau Kangean (Madura), Sumbawa, hingga pulau-pulau di Kapoposanbali dan sekitarnya. Ternyata hasilnya nihil. Begitu juga setelah Riski ditemukan pada Rabu, 28 Nopember, tim kami menyisir semua pulau kecil di utara Pulau Satengar bahkan hingga ke Pulau Selayar di Sulawesi Selatan. Hasilnya juga nihil,” sebut Nyoman Sidakarya.

Sebelumnya, kepada pihak keluarga,  Nahum Naibahas alias Riski mengisahkan, dia diselamatkan oleh kapal JPO Virgo berbendera Portugal di perairan sebelah utara Pulau Satenger, Sumbawa, atau 54 Nmi, sekitar 100.008 km dari Pulau Satengar. Asal tahu saja 1 Nmi = 1,852 km. Lokasi penemuan Riski itu sudah mengarah ke perairan Sulawesi Selatan.

Karena itu,  operasi SAR selama ini diduga adalah salah sasaran, seperti disampaikan Opin Bahy, adik kandung korban Philipus Kopong Bahy.  “Kalau SAR Mataram fokus cari di sekitar Sumbawa dan Bali maka jelas itu salah sasaran,” tutur Opin Bahy kepada BNN, Jumat (7/12/2018) sore.

Namun dugaan Opin Bahy itu dibantah oleh Kepala Kantor SAR Mataram I Nyoman Sidakarya. Kata Nyoman, pihaknya sudah menyisir semua pulau kecil di sisi utara Pulau Satengar bahkan hingga mendekati  Pulau Selayar.

“Setelah Riski ditemukan di kawasan itu, kami segera terjun ke lokasi sekitar. Selama 24 jam anak buah saya melakukan pecarian, menyisir semua pulau kecil di situ bahkan hingga ke Pulau Selayar di Sulawesi  Selatan. Kapten kapal saya sampai lego jangkar di kedalaman 500 meter di tengah laut,” terang Nyoman Sidakarya.

“Bahkan para nelayan dan para pemancing profesional juga kami libatkan mencari. Di situ banyak sekali para pemancing dari luar,” sebutnya.

Karena itu Nyoman Sidakarya meyakini keenam korban itu sudah tidak ada  lagi di sekitar perairan NTB, Bali maupun Madura. Meski begitu, setiap ada informasi pihaknya segera bergerak untuk melakukan pencarian.

“Saya sangat memahami kondisi psikologis keluarga yang menjadi korban dalam peristiwa ini, yang sangat menginginkan para korban cepat diketemukan, apapun hasilnya. Sebagai pekerja kemanusiaan,  tanpa disuruhpun kami akan laksanakan kalau memang ada petunjuk ke sana,” kata Nyoman.

Nyoman juga membantah ada penemuan korban di Makassar tadi pagi (Jumat, 7/12/2018). Sebab pihaknya suda mengontak SAR Makassar namun tidak mendapat informasi ada penemuan jenazah di laut.

“Tapi saya minta pihak keluarga untuk mengontak juga SAR Makassar dan Polairud Polda Sulawesi Selatan untuk ikut membantu melakukan pencarian. Pemda Flotim atau NTT juga bisa bantu mengontak SAR Makassar agar lebih cepat,” tutup Nyoman Sidakarya. (rsn).

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment