Pengakuan Benyamin Henuk, Korban Selamat KM Multi  Prima Tenggelam – 1 Terombang Ambing 5,5 Jam di Laut Sebelum Diselamatkan

Benyamin Henuk alias Mimin, salah seorang korban selamat. Foto: BNN/ist.

Peristiwa nahas tenggelamnya KM Multi Prima di perairan  Pulau Kapoposanbali, sebelah utara Pulau Sumbawa, NTB, pada Kamis 22 Nopember 2018 masih menyisakan trauma dan kesedihan mendalam bagi Benyamin Henuk. Pria 34 tahun asal Kelurahan Weri, Larantuka, Flores Timur inilah yang pertama kali diselamatkan oleh KM Cahaya Abadi 201, setelah dia  terombang ambing selama 5,5 jam di tengah laut dihantam gelombang setinggi 2 meter. Berikut penuturannya kepada Rahman Sabon Nama melalui sambungan telepon selular.

Denpasar/BaliNewsNetwork-KM Multi Prima yang membawa bahan bangunan itu berangkat dari pelabuhan Kalimas, Surabaya dengan 14 Anak Buah Kapal (ABK) pada Selasa, 20 Nopember 2018 pukul 21.00 WIB. Dari  14 ABK tersebut, 9 orang berasal dari NTT, diantaranya 8 orang berasal dari  Flores Timur yakni Debiyallah Sastria (Lamakera, Solor), Zainal Arifin (Eka Sapta, Larantuka), Benyamin Henuk (Weri, Larantuka), Haji Jamaludin (Lamahala, Adonara), Philipus Kopong Beni Bahy (Wato One, Adonara), Tarsisius Atulolong (Puka One, Adonara), Syamsul Syahdan (Larantuka), Sonny Kansil (Larantuka). Seorang lagi berasal dari Kupang  yakni  Nahum Naibahas alias Riski. Lima ABK lagi yaitu Bob Chris Butarbutar (Medan), Rahmattuloh (Jawa), Aldy Hidayat (Bantaeng, Makasar),  Sutrisno (Sragen, Jawa Tengah), dan M. Pande Saleh (Jakarta).

Menurut Benyamin Henuk yang akrab dipanggil Mimin, sejak berangkat dari Surabaya cuaca dan gelombang laut biasa saja.  Petaka baru mulai terasa begitu mereka memasuki perairan Selat Bali, Kamis, 22 Nopember 2018 sekitar pukul 17.00 WIB. Gelombang setinggi 2 meter mulai menghantam kapal Multi Prima, milik Tony Sunur itu. Sang nakhoda Tarsisius Atulolon kemudian memutuskan mengarahkan kapal ke Pulau Kapoposanbali untuk berlindung.

“Sudah hampir sejam perjalanan, mercusuar di Kapoposanbali sudah kelihatan tapi kondisi makin bahaya. Kapten memutuskan menhentikan kapal dalam posisi mesin tetap hidup tapi kecepatan kapal sudah netral, di titik nol. Kapten mengirim sinyal bahaya, SOS (Save Our Ship-red). Kapal sudah mulai miring, kapten mengumpulkan kami   semua ABK di anjungan, lengkap dengan life jacket dan body guard, setelah itu kami semua melompat ke laut. Saat itu pukul 18.10 WIB. Kami ber-14 berusaha berenang sekuat tenaga menjauhi kapal. Tak lama kemudian kapal tenggelam,” kisah Mimin.

Dia melanjutkan, pada saat di laut, mereka terpisah, tidak bisa berpegangan tangan. Hanya 5 orang yang berada di satu kasur sepon. Setelah terombang-ambing beberapa jam, baru terlihat cahaya kapal dari kejauhan mendekati mereka. Itulah KM Cahaya Abadi 201 yang sebelumnya sudah menerima sinyal bahaya SOS dari KM Multi Prima. Kapal Cahaya Abadi 201 itu sebenarnya dalam perjalanan menuju Probolinggo.

“Saya hanya berdoa sambil berharap kapal segera datang karena sudah lemas sekali. Sekitar jam 23.30 baru kapal tiba. Saya diselamatkan ABK KM Cahaya Abadi. Mereka menurunkan tali, lalu saya pegang sekuat tenaga hingga bisa terangkat ke atas kapal. Tiga puluh menit kemudian, 5 ABK lagi diselamatkan. Ini karena kelima teman saya itu berada di satu kasur sepon penyelemat, yakni Deby, Bob Butarbutar, Zainal, Jamal dan Aldy,”  terang Mimin.

KM Cahaya Abadi terus melakukan pencarian. Sekitar pukul 00.30 Rahmat ditemukan. Karena masih ada 7 ABK lagi yang belum ditemukan, maka pencarian terus dilakukan di tengah  gelombang laut yang mencapai 2 meter. Sayang, hingga pukul 04.00 pagi, ke-7 ABK itu tidak berhasil ditemukan sehingga nakhoda memutuskan melanjutkan perjalanan ke Probolinggo.

“Apalagi kata mereka, persediaan bahan bakar semakin tipis sehingga mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalalan. Kami tiba di Probolinggo Sabtu (24/12/2018) sore hati,” lanjutnya.

Ketujuh ABK yang dinyatakan hilang itu adalah Philipus Kopong Beni Bahy (47), Tarsisius Atulolong, M. Pande Saleh (67), Syamsul Syahdan (38), Sonny Kansil (41), Sutrisno (57), dan Nahum Naibahas alias Riski (26). Tapi Riski masih bernasib baik. Enam hari terapung di laut, pada Rabu (28/12/2018) dia diselamatkan oleh kapal JPO Virgo berbendera Portugal di perairan sebelah utara Pulau Satenger, Sumbawa, atau 54 Nmi, sekitar 100.008 km dari Pulau Satengar. Asal tahu saja 1 Nmi = 1,852 km.

Sabtu, 24 Nopember 2018, sore barulah Mimin dan keenam rekan lainnya bersama KM Cahaya Abadi 2018 tiba di pelabuhan Probolinggo. Di sana Mimin cs  sudah ditunggu oleh Direktur PT Sunindo Transnusa Sejahtera yang juga pemilik kapal Multi Prima, Tonny Sunur dan Kapolres Probolinggo.

“Meski kami selamat tapi kami masih trauma dan tetap sedihkarena rekan kami yang lain belum ketahuan nasib mereka,” ucap Benyamin Henuk, yang berayah asal Belu dan ibu dari Larantuka,  tapi masih  membujang  ini.

Lalu seperti apa perlakuan Tonny Sunur, terhadap anak buahnya yang sedang tertimpa musibah ini? (bersambung)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment