Kasek Temukan Ada Keindahan Di Balik Aksi Mogok Siswa SMAN I Tanjung Bunga

Kepala Sekolah SMAN I Tanjung Bunga, Philipus Miten Kleden. Foto: BNN/Emnir.

TanjungBunga/BaliNewsNetwork-Walau mengaku kaget dengan aksi mogok belajar  oleh sebagian besar siswa SMAN I Tanjung Bunga di Senin, 18 Nopember 2018,yang diikuti dengan luncuran aneka tudingan miring yang dialamatkan pada dirinya, Kepala Sekolah SMAN I Tanjung Bunga, Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur-NTT, Philipus Miten Kleden berhasil menemukan ada keindahan yang sangat luar biasa dibalik peristiwa itu.

Dikonfirmasi di ruang kerjannya, Rabu, 21 Nopember 2018, Philipus Miten Kleden yang didampingi Kasubag Tata Usaha UPT  PKO NTT Wilayah IX (Sikka-Flotim) John Wokal, mengungkapkan peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang paling indah dan mendewasakan dirinya dalam mengemban tugas sebagai seorang pemimpin di lembaga pendidikan.

“Saya sama sekali tidak menyangka akan terjadi peristiwa sebagaimana yang telah terjadi di Senin, 18 Nopember 2018. Ada gerakan dari yang berkepentingan  dengan memanfaatkan para siswa dan melancarkan tudingan bahwa saya yang melahirkan kubu itu. Ada pembeberan soal skandal amoral dan tidak transparansi dalam pengelolaan keuangan serta ada pungli lalu berakhir pada desakan untuk mencopot jabatan saya.Saya kaget, kog bisa seperti ini? Padahal kondisi sekolah baik-baik saja! Lebih kagetnya lagi,sebelum aksi mereka itu,saya justru sudah mendapat informasi pada Minggu, 17 Nopember 2018 dari Dinas PKO Propinsi tentang rencana aksi yang akan terlaksana esok harinya itu. Artinya, semuanya telah terencana. Ada pihak-pihak yang menunggangi para siswa untuk memuluskan kepentingan mereka  dalam usaha menjatuhkan saya.Di sinilah saya menemukan keindahan itu, karena kemurnian dan kejujuran  hati jauh lebih indah dari peristiwa tersebut,” ungkap Philip Miten Kleden.

Dengan tetap melihat usaha rongrongan itu sebagai cambuk yang mendewasakan dirinya, Miten Kleden secara tegas membantah nyanyian perwakilan para siswa, orang tua, mantan Ketua Komite serta Ketua Komite yang didengungkan dalam pertemuan bersama Wakil Bupati Agustinus payong Boli tersebut. Semuanya itu tidak benar! Dirinya bahkan sangat menyayangkan aksi memboncengi para siswa hanya untuk menjatuhkan dirinya.

“Yang membuat saya heran adalah,kenapa ada aksi seperti itu dengan harus mengorbankan siswa? Bila mengetahui ada ketimpangan yang sedang terjadi di sekolah ini, kenapa tidak mempercakapkan itu di sini,di sekolah ini, baik langsung berhadapan dengan saya,atau dalam rapat dewan guru maupun rapat komite bersama orang tua  siswa? Ada apa sebenarnya? Saya ini pimpinan sekolah yang mengemban tugas untuk memajukan sekolah ini, masa saya harus membangun kubu-kubuan yang justru merusak karir saya ? Ada apa sebenarnya?,” ujar Miten Kleden seraya mengaku aktivitas KBM telah kembali normal.

Philipus Miten Kleden lebih lanjut meriwayatkan, pasca dirinya dilantik menjadi Kepala Sekolah SMAN I Tanjung Bunga,23 maret 2014 silam dan mengawali tugasnya pada lembaga pendidikan tersebut, dirinya langsung mendapat tantangan yang lebih hebat ketimbang sekarang. Isu soal skandal dirinya dengan perempuan, bahkan sudah deras terhembuskan pasca dirinya dilantik.

Lantas bagaimana dengan pengelolaan  DAK dan BOS  yang dikeluhkan tidak transparan? Miten Kleden sembari menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda tidak mengerti dengan tudingan tersebut  lalu menjelaskan, semua proses itu berjalan sangat terbuka. Mulai dari penyususnan RKS hingga pelaporan akhirnya justru berjalan sangat transparan. Pemeriksaan dari pihak Inspektorat Daerah Kabupaten Flotim dan Irda Propinsi NTT pun rutin, termasuk monitoring pihak UPT Wilayah IX. Semuanya tidak ada masalah! Lantas dimana letaknya kesalahan itu?

Soal pungutan untuk membeli server demi terlaksananya UNBK? Proses itu tersepakati dalampertemuan bersama komite dan orang tua siswa.Sebagaimana yang diriwayatkan Philipus M.Kleden, atas bangunan koordinasi dengan pihak SMA N I Larantuka yang telah melaksanakan UNBK, dirinya lalu mendapatkan bayangan harga server dan biaya pemasangan peralatan tersebut.

Semuanya itu dengan jelas dipaparkan dirinya dalam pertemuan itu.Lalu tersepakatilah pengumpulan per siswa Rp 150.000,walau ada orang tua yang mengusulkan Rp 200.000 per siswa. Dalam perjalanan, hingga mendekati pelaksanaan Ujian Nasional (UN) 2017,dana yang terkumpulkan itu belum mencapai harga server) terkumpul Rp18.000.000, sedangkan harga sebuah server mendekati 20-an juta berdasarkan informasi dari SMAN I Larantuka).

“Saya tidak pegang uang itu.Semuanya ada di bendahara. Saya bahkan pesan ibu bendahara,simpan uang itu baik-baik.Waktu itu pada posisi Januari,uang yang terkumpul baru Rp18.000.000, belum cukup untuk beli sebuah server,sedangkan aperator kami dalam hitunganya harus dua server. Belum biaya pemasangan perangkatnya, dan latihan bagi peserta UN. Dan uang itu masih ada di bendahara,saya tidak simpan uang itu ! Silahkan di cek pada ibu bendahara! Begitu pula dengan pengumpulan uang ret-ret. Saya bahkan sampaikan kepada guru agama, tidak boleh ada pengumpulan uang dari siswa, namun guru tersebut bilang semuanya telah tersepakati bersama  siswa yang hendak mengikuti ret-ret berdasarkan kebiasaan mereka selama ini. Saya berkali-kali bilang jangan, nanti dinilai pungli,namun yang bersangkutan bilang, dia siap bertanggungjawab. Lantas salah saya di mana?,” tanya Philip Miten Kleden.

Walau menyayangkan aksi rongrongan pihak-pihak yang memanfaatkan para siswa untuk menjatuhkan dirinya,namun Philipus Miten Kleden tetap melihat peristiwa itu sebagai sebuah keindahan, karena dirinya menemukan fakta, kejujuran hati jauh lebih indah dari sentimen yang digelindingkan itu. Semuanya itu dijadikannya sebagai cambuk yang mendewasakan dirinya.(Emnir)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment