ICW Gelar Sekolah Anti Korupsi Bagi Aparatur Perangkat Desa di Flotim

Direktur Yaspensel Keusukupan Larantuka, RD.Benyamin Daud (Kiri)  bersama Peneliti Hukum ICW, Emerson Yuntho (Kanan) mengapiti utusan peserta Sekolah Anti Korupsi  usai penyerahan uniform sekolah. Foto: BNN/Emnir.

Larantuka/BaliNewsNetwork-Lembaga Indonesia Corruption Watch (ICW) bekerja sama dengan Yayasan Pembangunan Sosial Ekonomi Larantuka (Yaspensel) Keuskupan Larantuka menggelar Sekolah Anti Korusi (SAKTI) (Selasa, 6 sd. Jumad, 9 Nopember 2018) bagi aparatur perangkat desa di Kabupaten Flores Timur-NTT, bertempat di Rumah Khalwat St.Maria-Susteran PRR Weri, Larantuka.

Peneliti Hukum ICW, Emerson Yuntho  dalam sambutannya di acara pembukaan kegiatan yang bertajuk Desa Anti Korupsi, Desa Sejahtera itu secara lugas menjelaskan tujuan dari kegiatan Sekolah Anti Korupsi bagi Aparatur Perangkat Desa adalah untuk mencetak kader-kader anti korupsi yang tentunya  berasal dari perangkat desa. Sekolah itu sendiri dilatarbelakangi oleh  kegelisahan atau keresahan ICW akan maraknya perbuatan korupsi dana desa yang menurut catatan ICW, salah satu pelakunya adalah kepala desa.

“Nah, kita mencoba membalik itu bahwa sebenarnya kepala desa itu tidak hanya bisa jadi aktor praktek  korupsi tetapi sebenarnya bisa jadi aktor anti korupsi! Oleh karena itu kami menyelenggarakan pendidikan itu dengan harapan agar segala prosesnya yang brkaitan dengan pengelolaan dana desa tersebut baik dari proses pencairannya hingga pembelanjaannya tidak lagi terjadi praktek korupsi,” jelas Emerson.

Mengapa  Memilih NTT dan Flores Timur?

Emerson Yuntho dalam penjelasan lanjutannya menyebutkan NTT khsusunya Flores Timur terpilih sebagai tempat pihaknya melaksanakan Sekolah Anti Korupsi bagi Aparatur Perangkat Desa dikarenakan menurut data Bappenas,NTT tercatat sebagai propinsi urutan ke-3 untuk kategori propinsi yang masih terbelakang dan ICW merasa takjub menemukan fakta menarik di Larantuka yakni adanya kolabrasi yang menarik antara Lembaga Gereja Katolik (Keuskupan Larantuka) dengan masyarakat sipil dalam mendorong pemberdayaan masyarakat.

Sementara itu,Direktur Yaspensel, RD.Benyamin Daud sembari mengutip pesan Paus Fransiskus yang disampaikannya dalam misa hariannya,11 Nopember 2013 menghantar peserta Sekolah Anti Korupsi tersebut untuk memahami apa itu korupsi dan pentingnya SAKTI itu. Pesan Paus Fransiskus yang dikutif RD Benyamin Daud: Mengibaratkan korupsi itu seperti kuburan, terlihat bagus pada bagian luarnya karena di cat putih bersih tetapi di dalamnya terdapat tubuh yang membusuk atau tulang belulang.

 Menghubungkan pesan Paus Fransiskus tersebut dengan kehadiran Lembaga ICW di Flores Timur dalam kegiatan Sekolah Anti Korupsi tersebut, Direktur Yaspensel-Keuskupan Larantuka itu, menegaskan, Lembaga ICW datang  ke Flores Timur bukan untuk mencat kembali kuburan putih yang mungkin sudah berlumut atau menjadi kuburan,tetapi ICW datang ke Flotim untuk merangsang para pengguna dana desa agar tidak membangun kuburan putih mengkilat, tetapi menciptakan hati yang putih suci seperti kapas melalui Sekolah Anti Korupsi untuk aparatur perangkat desa ini.

“Kami berharap, melalui kegiatan ini menjadi bekal  supaya tidak tersandung dan jatuh karena ulah kita. Marilah kita bersama-sama membawa spirit Desa nati Korupsi, Desa Sejahtera,” ujar RD Benya memotivasi peserta Sekolah Anti Korupsi. (Emnir)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment