Bantah Ada Perkawinan, Terdakwa Bilang Rumah Tangganya Sudah Lama Bermasalah

I Wayan Budi Awe (kanan) bersama kuasa hukumnya I Gusti Putu Yudi Putra Sanjaya. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Sidang kasus dugaan kawain lagi tanpa sepengetahuan/izin istri dengan terdakwa I Wayan Budi Awe tidak hanya panas didalam sidang, tapi juga panas diluar sidang.

Terdakwa Budi Awe yang selama ini diam saja, akhirnya angkat bicara dan balik menyerang perlapor, yang tidak lain adalah istrinya, Ni Ketut Rai Rabudiari (41).

Dihadapan wartawan, Budi Awe yang didampingi pengacaranya I Gusti Putu Yudi Putra Sanjaya membeberekan bahwa, sejatinya rumah tangga yang dibina bersama pelapor sudah bermasalah kurang lebih lima tahun.

Budi Awe mengatakan, dia memiliki bukti bahwa istrinya meminta uang kepadanya senilai Rp 2 miliar. Gilanya lagi, untuk mendapatkan uang itu diharapkan Budi Awe menjual rumah yang selama ini ditempatinya bersama orang tuanya.

“Saya tidak mungkin menjual rumah warisan leluhur kami. Tapi apa permintaan dia (istrinya) saya berusaha sanggupi dengan cara mencicil,” ungkapnya.

Sementara itu menyinggung soal tudingan bahwa Budi Awe tidak menafkahi anaknya, langsung dibantahnya. “Tidak benar saya tidak menafkahi anak saya, selama ini anak-anak sudah punya rekening sendiri,” sangkalnya.

Sementara itu sebagaimana dalam persidangan yang sudah masuk pada agenda pembacaan pembelaan dari terdakwa, dalam pembelaan terdakwa membatah keras tudingan bahwa terdakwa melangsungkan pernikahan.

Melalui kuasa hukumnya, I Gusti Putu Yudhi Putra Sanjaya menyebutkan bahwa tidak ada pembuktian yang mengarah pada perkara terdakwa ada unsur pidananya.

Suatu pelaksanaan perkawinan baru dapat dibuktikan telah ada apabila ada Akta Perkawinan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 100 KUHP Perdata, yang pada pokoknya menyatakan bahwa bukti adanya pelaksanaan perkawinan adalah melalui Akta Perkawinan yang telah dibukukan dalam Catatan Sipil.

“Dalam fakta persidangan Jaksa Penuntut Umum tidak dapat membuktikan adanya Akta Perkawinan itu,” sentil Gusti Putu Adhi.

Lanjutnya, bahwa dalil-dalil dakwaan dan tuntutan Jaksa Penutntut Umum terbantahkan dengan sendirinya terbukti tidak ada pihak pemimpin upacara agama / Pemangku / Pendeta atau pihak-pihak lainnya yang membantu terlaksananya perkawinan sebagaimana dimaksud dalam dakwaan dan tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang ditetapkan sebagai pihak yang turut serta bertanggungjawab melaksanakan perkawinan tersebut (Pasal 55 KUHP).

Disebutkan pula, Jika terjadi pernikahan baik itu secara agama tentu ada pendeta atau pemangku yang memimpin upacara pernikahan sebagai bentuk yang bertanggung jawab. Faktanya itu tidak ada dihadirkan dalam persidangan

Karena itu pengacara yang akrab disapa Putu Yudi ini pun mengaku heran kenapa perkara ini bisa maju hingga keterasingan. “Saya juga heran kok perkara ini bisa maju sampai ke pengadilan,” pungkasnya. (pro)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment