Keroyok Orang Hingga Babak Belur Hanya Divonis 8 Bulan

Empat terdakwa kasus pengeroyokan yang divonis 8 bulan penjara. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Empat orang terdakwa kasus pengeroyokan, masing-masing, Heri Yunaryo (31), Moh. Imron alias Ron, Mohammad Rizal alias Rizal dan M. Firmansyah alias Firman benar-benar beruntung.

Setelah sebelumnya hanya dituntut hukuman 1 tahun penjara, kini oleh majelis hakim pimpinan Ni Made Purnami malah divomis 8 bulan penjara. Padahal korban dihajar hingga babak belur dan disebut mengalami patah tulang.

Dalan sidang, majelis hakim menyatakan sependapat dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Gede Agus Surharta yang menyatakan keempat terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana pengeroyokan. Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana pada Pasal 170 ayat (2) Ke-1 KUHP.

Setelah mempertimbangkan hal yang meringankan, salah satunya adalah sudah adanya perdamaian antara para pelaku dan terdakwa, majelis tidak sependapat dengan lamanya hukuman yang dimohonkan jaksa.

Majelis hakim memangkas hukuman para terdakwa dari 1 tahun tuntutan jaksa menjadi 8 bulan, “Menghukum para terdakwa dengan pidana penjara selama 8 bulan,” sebut hakim dalam amar putusnya,

Sementara itu sebagaimana dalan surat tuntuta jaksa yang dibacakan dimuka sidang terungkap, kasus pengeroyokan terjadi pada tanggal 1 Jumi 2018 pukul 01.00 Wita di depan SPBU Jalan Raya Lukluk.

Ini berawal saat keempat terdakwa sebelumnya minum arak di rumah kos terdakwa Heri Yunarno (terdakwa I). Setelah mabuk, keempat terdakwa pergi ke TKP  (tempat kejadian perkara) untuk menemui korban.

Setelah menunggu beberapa lama, saksi korban, Eka Ahmat Dian datang. “Akhirnya terjadi pembicaraan antara korban dengan terdakwa Heri Yunaryo,” sebut Jaksa dalam surat tuntanya.

Saat itu, terdakwa Heri menanyakan kepada korban terkait recana sepeda motor yang akan diover kredit kepada terdakwa, karena sebelumnya terdakwa minta tolong kepada korban untuk dijualkan motor Byson yang uangnya digunakan untuk menebus BPKB hutang di koperasi.

Namun oleh korban, motor itu tidak dijual melainkan dipakai. “Karena itu terdakwa Heri menanyakan soal uang Rp4 juta yang diberikan kepada korban dengan tujuan untuk over kredit motor,” sebut jaksa.

Ditanya begitu, saksi korban malah menjawab di Bali tidak ada yamg gratis, jadi anggap saja uang Rp4 juta adalah uang sewa. Hal ini dirasa aneh oleh terdakwa Heri karena faktanya selama ini sepeda motor digunakan oleh saksi korban.

Singkat cerita, mendengar jawaban terdakwa Heri yang dalam keadaan mabuk langsung naik pitam menghajar korban dan diiukuti oleh ketiga terdakwa lainya. (pro)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment