Mencari Rupiah Di Padang Kering Titehena

Keda, Salah seorang pengusaha batu merah di desa Titehena, (Lokasi Tuno Salak), Kecamatan Solor Barat. Foto: BNN/Emnir, Senin (8/10).

Solor/BaliNewsNetwork-Tak menyerah dengan kondisi alam yang kering dan tandus,sebagian besar warga desa Titehena, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, NTT mencari tambahan penghasilan dari usaha  mengolah tanah menjadi batu merah. Sembari mempersiapkan ladang mereka menyambut datangnya musim hujan, para pengrajin batu merah memanfaatkan sebidang tanah mereka untuk mendatangkan rupiah, demi kelangsungan hidup mereka.

Sebagaimana yang disaksikan balinewsnetwork.com, Senin,8 Oktober 2018, di hamparan Tuno Solak, Keda, demikian  salah seorang pengrajin batu merah di Desa Titehena, sedang memasukan  dua profil tank air ke wadah penampungan yang terbuat dari terpal pada lokasi pengolahan batu merah miliknya. Sembari menyeka keringat yang membanjiri tubuhnya, Keda yang memiliki 10 karyawan tersebut melitanikan duka mereka mencari rupiah di padang kering desa Titehena tersebut.

“Kami kesulitan air! Air ini kami beli dari Ritaebang. Semalam suntuk kami berada di lokasi pengisian air di Ritaebang, hanya untuk mengisi air dan membawanya ke sini demi kelancaran usaha kami. Banyak waktu dan biaya yang terkuras hanya untuk mendatangkan air ini! Untuk satu profil tank berukuran 1200 liter, hanya mampu bertahan 1 minggu. Artinya setiap minggu kami harus ke Ritaebang membeli air dengan sistem antrian. Andaikan Pemerintah Kabupaten Flores Timur bisa membantu kami dengan menghadirkan satu saja sumur bor di hamparan pertanian multi fungsi ini,kami tentunya sangat bersyukur,” ucap Keda dengan terus menyeka keringat bercampur debu yang melekat di wajahnya.

Di hamparan Tuno Salak, terdapat 4 pengusaha batu merah, dengan masing-masing pengusaha mempekerjakan 4 hingga 10 karyawan. Aktivitas pengolahan batu merah pun terlihat juga pada lokasi Bela’ma hingga pinggir kampung desa Titehena. Di lokasi tersebut  terlihat lebih  ramai! Ada 10 pengusaha batu merah yang walau terdera oleh kesulitan air, toh tetap menjalankan aktivitas usaha mereka. Kondisi yang sama pula terlihat pada lokasi Kahe, di desa yang sedang dipimpina Damianus Belang itu.

Walaupun batu merah memberikan harapan menjanjikan,namun setiap pengusaha menghadapi beban pembiayaan yang lumayan besar di setiap proses pengolahannya. Biaya pembelian air, merupakan pengeluaran terbesar yang harus digelontorkan setiap pengusaha batu merah selain mengupahkan karyawan mereka.

Terkait harga jual, perbuah batu merah, Keda dan kawan-kawannya mematok angka Rp900 per satu lempeng batu. Untuk menghasilkan batu merah, mereka membayar karyawan dengan hitungan perbatu Rp250. Pasca membakar batu, pengusaha batu merah harus membayar karyawan Rp50.000/orang untuk membongkar dan menyusun batu merah tersebut. (Emnir)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment