Pemilu 2019 Tabrak dengan Pelaksanaan Pekan Semana Santa, Pemda Flotim Minta Pempus dan KPU Geser Waktu

Bupati Flores Timur,Antonius Hubertus Gege Hadjon, ST. Foto: BNN/Emnir.

Larantuka/BaliNewsNetwork-Pemerintah Daerah Flores Timur bersama seluruh elemen masyarakat Flores Timur meminta pemerintah Pusat dan Lembaga Penyelenggara Pemilihan Umum untuk menggeser waktu pelaksanaan Pemilu 2019 yang telah ditetapkan pada Rabu, 17 April 2017 karena bertabrakan dengan perayaan Pekan Semana Santa  (ritual peribadatan tahunan umat Katolik khas Larantuka, menjelang Hari Raya Paskah yang telah mendunia itu).

Bupati Flores Timur, Antonius Hubertus Gege Hadjon yang dikonfirmasi Balinewsnetwork.com usai membuka kegiatan Jambore PKK dan Kader Posyandu Tingkat Kabupaten Flores Timur di Rujab Bupati, Jumat, 7 September 2018 mengaku pihaknya telah menyikapi  realitas tabrakan waktu pelaksanaan Pemilu 2019 itu dengan menggelar rapat bersama dengan seluruh elemen masyarakat termasuk seluruh pimpinan agama dan pimpinan Parpol dan menyepakati untuk meminta  pergeseran hari pelaksanaan pemungutan suara pileg dan pilpres itu.

“Dalam waktu dekat ini kami akan ke Jakarta dan menyerahkan Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Daerah Flotim bersama seluruh elemen masyarakat Flotim itu kepada Pemerintah Pusat dan Penyelenggara Pemilu untuk menggeser pelaksanaan Pemilu 2019. Bahwa Hari Rabu, tanggal 17 April 2019 yang telah ditetapkan KPU sebagai hari pemungutan suara dalam Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden secara serentak itu,bertepatan  dengan Perayaan Hari Rabu Trewa yang oleh umat  Katolik Flores Timur sedang melaksanakan peribadatan dalam rangkaian Semana Santa. Bila tidak digeser pelaksanaannya maka baik kegiatan keagamaan umat Katolik dan pelaksanaan Pemilu serentak  tersebut akan  berjalan  tidak maksimal! Perayaan Semana Santa bukan saja diikuti oleh umat Katolik di Flores Timur,tetapi juga umat Katolik  Indonesia , bahkan dunia  pun  datang ke Larantuka, Flores Timur. Selain dari itu, ritual Agama Katolik khas Larantuka yang bernama  Semana Santa tersebut sudah menjadi perayaan tolenransi  antar  umat beragama, karena telah menjadi tradisi di pelaksanaannya, umat dari agama lain pun terlibat aktif menyukseskan Semana Santa ini,” papar Bupati Anton Hadjon sembari menegaskan bahwa pergeseran waktu itu pun harus dilaksanakan secara serentak, karena Semana Santa tidak saja diikuti oleh umat Katolik Flores Timur, namun umat Katolik di seluruh Indonesia. (Emnir)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment