Kesal Ijazah anaknya Ditahan Pihak Sekolah,Orangtua Sahwati Nekad Polisikan Kepsek SMP Al Mu’min

Ali Igo Balela, Ayah Sahwati Bin Halim,mengaku lelah mengurus ijazah anaknya yang ditahan di Lemabaga Pendidikan Al Mu’Min, Kecamatan Adonara-Flores Timur. Foto: BNN/Emnir.

Larantuka/BaliNewsNetwork-Lelah mengurus ijazah anaknya Sahwati Bin Halim yang masih ditahan oleh Lembaga Pendidikan Al Mu’min,Kecamatan Adonara, Ali Igo Balela bahkan  ‘terdampar’ di Kantor Bupati Flores Timur,Senin 17 Agustus 2018. Tujuannya adalah bertemu dengan Bupati Anton Gege Hadjon dan melaporkan ihkwal penahanan ijazah anaknya yang telah menamatkan pendidikan SMP  pada Tahun 2014-2015 itu.

Gagal bertemu Bupati Anton Gege Hadjon,Ali Igo lalu memutuskan untuk melaporkan hal itu ke Polres Flores Timur. Namun sebelum dirinya meninggalkan halaman kantor Bupati Flotim, Ali Igo mendatangi insan media dan menceritakan kisah lelah dirinya mengurus ijazah anaknya  itu sembari memohon untuk mempublikasikan persoalan yang sedang menderanya.

“Saya sudah lelah anak! Sudah 7 kali saya mendatangi sekolah itu.Namun Kepala Sekolahnya tidak mau kasih ijazah anak saya itu.Ketika mereka minta  bayar dengan nilai Rp 3.000.000,saya datang bawa uang senilai itu. Namun tidak juga mereka kasih.Bahkan mereka bilang,mereka bukan butuh uang,melainkan butuh anak saya.Anak saya ini sakit-sakit, sampai rambutnya gugur semua. Dia dirawat di Lewoleba dan melanjutkan SMAnya di sana. Kini mau menamatkan SMA-nya. Sekolah butuh ijazah SMP. Nah ijazah SMP ini yang sampai sekarang tidak diberi oleh lembaga Al Mu’min.” tutur Ali Igo Balela dengan ekspresi sedih.

Tak hanya pihak sekolah yang ia datangi,dirinya mengaku  sudah 7 kali membangun koordinasi dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (PKO) Flotim guna menyukseskan urusannya ini. Sayang lewat jalur PKO Flotim pun pihak sekolah tidak meluluskan permintaan ayah Sahwati itu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun balinewsnetwork.com, Lembaga Pendidikan Al Mu’min memiliki peraturan internal tentang kelulusan siswa/siswi yang mengenyam pendidikan pada lembaga pendidikan itu. Salah satu di antaranya adalah setiap siswa yang tamat pada jenjang pendidikannya,wajib melanjutkan pada jenjang berikut pada lembaga pendidikan itu. Artinya tidak boleh pindah ke sekolah lain.Bahkan bagi yang telah lulus tingkatan SMA, diwajibkan mengajar pada Al Mu’min setahun lamanya.

Berkaitan dengan peraturan internal ini, Ali Igo Balela pun mengakuinya. Namun yang menjadi akar persoalannya adalah anaknya tidak bisa bertahan di lingkungan tersebut karena sakit. Dirinya menghargai peraturan lokal tersebut, namun karena kesehatan putrinya terganggu maka mau tidak mau,anaknya harus pindah sekolah.

“Masa hanya karena peraturan internal yang sifatnya lokal tersebut mengalahkan peraturan yang lebih tinggi kedudukannya? Ini soal hak asasi. Masa hak asasi dipretelin dengan kebijakan lokal? Anak saya sakit. Masalahnya anak saya sakit. Sering sakit bila berada di kampung sana, Danau Kota Kaya pantai. Karena sakit makanya dia dirawat di Lewoleba, sambil melanjutkan pendidikannya disana. Masa tidak boleh? Saya akan lapor di Polres Flotim sebentar,” tandas Ali Igo Balela sembari mengharapkan pihak-pihak yang peduli nasib anak bangsa seperti putrinya dapat membantu menyelesaikan persoalannya tersebut. (Emnir)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment