Gugurkan Janin Nov, Ay Beli Obat dari Seorang Dokter di Larantuka

Meridian Dewanta Dado, SH, Kuasa Hukum Keluarga Nov, tersangka kasus dugaan aborsi. Foto: BNN/doc.

Larantuka/BaliNewsNetwork-Walau pihak penyidik Polres Flores Timur masih  terus mendalami kasus dugaan aborsi pada kehamilan Nov,seorang dara manis asal Maumere (Sikka) di area ‘kandang ayam’, Lebao-Larantuka, pada Sabtu 21 Juli 2018 silam, namun Kuasa Hukum Keluarga Nov, Meridian Dewata Dado,SH  mendesak penyidik Polres Flores Timur untuk lebih serius mengusut  asal muasal obat penggugur  kandungan bermerk Cytotec .

Dikonfirmasi melalui saluran Messenger,Rabu,15 Agustus 2018 pukul 15.58 Wita, Meridian Dado terkait asal muasal Cytotec tersebut membeberkan, berdasarkan keterangan Ay salah seorang tersangka dalam kasus tersebut, obat Cytotec itu diperolehnya dari seorang dokter yang cukup terkenal  di Larantuka, Flotim.

“Penyidik Polres Flotim harus lidik dan sidik secara serius sehingga bisa dideteksi asal muasal peredaran obat penggugur kandungan merk Cytotec di Kabupaten Flores Timur itu. Menurut keterangan salah satu tersangka dugaan tindak pidana aborsi atas nama mama Ay, bahwa obat tersebut dibelinya dari salah satu oknum dokter di Larantuka  dan memberikannya pada Nov untuk diminum pada Jumat, 20 Juli 2018,” urai pengacara yang suka berkepala botak itu.

Lain Ay, lain oknum dokter tersebut.Pengakuan Ay tersebut dibantah oleh oknum dokter tersebut.Menurut Meridian Dewanta Dado, ketika diperiksa penyidik,oknum dokter tersebut menyangkal kalau dirinya telah memberikan obat penggugur kandungan bermerk Cytotec kepada tersangka mama Ay. Obat yang diberikan ke Ay waktu itu adalah obat untuk vitamin tubuh dan bukan obat penggugur kandungan merk Cytote,” ungkap Meridian Dado sembari menambahkan bila benar yang diberikan oleh oknum dokter itu adalah obat untuk vitamin tubuh dan kemudian diminum oleh tersangka Nov pada Jumat, 20 Juli 2018  maka semestinya pada Sabtu, 21 Juli 2018 tidak ada janin bayi yang keluar sebelum waktunya dari kandungan tersangka Nov dan kemudian janin bayi itu meninggal.

Terhadap perbedaan keterangan dan kejanggalan-kejanggalan yang ditemukannya itu, Meridian Dewanta Dado berharap tim penyidik Polres Flotim untuk lebih serius mengusut kasus tersebut terutama mengurai peran oknum dokter itu  apakah memenuhi unsur-unsur sebagaimana Pasal 194 Undang-Undang No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (UU Kesehatan) yang berbunyi: Dokter atau Tenaga Kesehatan yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan,dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar. (Emnir)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment