Ahli Sebut, Surat Prof. Widnya Memang ada Keadaan yang Dipalsukan

Terdakwa Prof. Dr. I Ketut Widnya bersama kuasa hukumnya (BNN/pro)

Denpasar/BaliNewsNetwork-Seorang guru besar bernama Prof. Dr. I Ketut Widnya yang menjadi terdakwa dalam kasus pemalsuan, Senin (2/7) kemari kembali dihadirkan di persidangan. Sidang kemarin sudah masuk pada agenda mendengarkan keterangan saksi ahli pidana.

Saksi ahli yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Putu Gede Darmawan dan Dewa Lanang Raharja adalah Dr. iya Gusti Ketut Ariawan. Dihadapan majelis hakim pimpinan Amin Ismanto alwanya saksi memberikan pendapat soal pasal 263 KUHP.

Usai memberikan penjelasan, saksi langsung dibrodong sejumlah pertanyaan oleh JPU. Awalnya JPU bertanya kepada saksi apakah saksi telah membaca surat yang diduga dipalsukan terdakwa. Saksi langsung menjawab disetiap pemeriksaan yang dijalani selama kasus ini masih di Polisi, dia selalu membaca.

“Setelah membaca surat itu dan juga membaca beberapa kegarangan saksi, apa pendapat saksi,”tanya jaksa Dewa Lanang.

Saksi menjawab, dalam surat yang dibuat oleh terdakwa itu ada keadaan yang tidak benar atau dipalsukan. “Bagaimana saksi mengetahui dalam surat itu ada keadaan yang tidak benar atau dipalsukan,”tanya jaksa lagi.

“Setekah saya mendengar kronologi kejadian dari pihak penyidik, dan juga keterangan dari beberapa saksi yang diperiksa oleh penyidik,”sebut saksi.

Namun saksi juga menjelaskan bahwa, kasus ini bisa disidangkan apabila surat palsu ini digunakan dan menimbulkan kerugian secara nyata.

Sepeti diberitakan sebelumnya, peristiwa yang mengantarkan terdakwa ke pengadilan ini berawal saat saksi Made Mudana Wiguna yang menjabat sebagai Jro Gede Bendesa Pekraman Serangan 2008-2013 habis masa jabatannya.

Namun berdasarkan Parum IV Desa Pakraman Serangan tanggal 27 Mei 2013 No. 01/KPTS-SD/V/2013PW Made Mudana Wiguna kembali dikukuhkan sebagai Jro Gede Bendesa Pekraman Serangan periode 2013-2018.

Selanjutnya, terdakwa selaku Ketua Kerta Desa Pekraman Serangan yang masih aktif, pada tanggal 24 Februari 2014 membuat surat tentang laporan pemilihan Bendesa Pekaraman Serangan yang ditujukan kepada Majelis Madya Desa Pekraman dan Majelis Adat Desa Pekraman.

Isi surat tersebut antara lain semua anggota banjar Desa Pekraman Serangan setuju dilaksanakan pemilihan Bendesa Pekraman Serangan dilakukan secara langsung sesuai dengan Pawos 11 awig-awig Desa Pekraman, Serangan.

Namun faktanya, dari enam banjar yang ada di Desa Pekraman Serangan, 4 di antaranya, yaitu Banjar Kaja, Banjar Kawan, Banjar Dukuh dan Banjar Peken tidak setuju atau menolak dilakukan pemilihan Bendesa Pekraman.

Dengan adanya surat yang dibuat terdakwa per tanggal 24 Februari 2014 tersebut dijadikan pedoman untuk melakukan pemilihan Bendesa Pekraman Serangan pada tanggal 9 Mei 2014 dan I Made Sedana terpilih sebagai Bendesa Pekraman Serangan.

Atas perbuatan terdakwa yang nemeribitkan surat yang diantaranya berisikan bahwa semua anggota banjar Desa Pekraman Serangan sesetujud ilaksanakan pemilihan Bendesa Pekraman Serangan dilakukan secara langsung, padahal ada 4 banjar yang menolak itu mengakibatkan Made Mudana Wiguna kehilangan jabatanya.

Padahal berdasarkan Perum IV Desa Pekraman Serangan nomor : 01/KPTS-SD/V/2013PW sudah jelas bahwa Made Mudana Wiguna Mudana adalah Bendesa Pekraman Serangan 2013-2018.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment