Perempuan Desa Nobo Masuk Laut, “Uang  Ada di Sana”

Perempuan desa Nobo membeli ikan dan menjualnya kembali.Foto :BNN/Emnir.

Ilebura/BaliNewsNetwork.com-“Beginilah kami di setiap hari.Jangankan pada pagi hari,di tengah malam pun kami masuk laut.Kami sampai berbasah-basah apabila ada body ikan (sebutan khas bagi perahu motor nelayan) yang masuk.Kami bahkan sampai berebutan hanya untuk mendapatkan ikan.Kami harus dapatkan ikan ! Kami harus masuk laut,kami harus jual ikan ! Karena memang uang ada di sana !” tutur ema Narra Oa Soge,ema Marni Belang,ema Ona Soge,dan ema Marlis Soge kepada BaliNewsNetwork.com di pantai desa Nobo,Kecamatan Ilebura,Flores Timur  belum lama ini.

Tak mempedulikan dingin yang sedang menempel kulit,dengan berbagai sarana tampung,kaki-kaki aneka bentuk itu menyeruak membelah laut menuju sampan yang baru bertolak dari perahu.Semuanya ingin segera menjumpai si pendayung sampan itu.Semua mereka merindukan sebagai pihak yang paling pertama menitip pesan pada si pendayung sampan itu.Sembari memperkenalkan sarana tampung mereka yang telah mereka letakan dalam sampan,bertubi-tubi lentingan pesanan terdengar penuh harap,berharap agar si pendayung tersebut  memberikan yang terbaik bagi masing-masing mereka.

Pantai pun menjadi ramai.Lengkingan suara serta gerak-gerik bersimbolkan pesan dari ema-ema penjual ikan itu menjadikan pantai desa Nobo selalu ramai.Menanti si pendayung tersebut kembali ke tepian dengan ikan yang telah berada dalam tempat tampungan mereka, mereka melakukan diskusi ala ema-ema kampung.Dari soal harga ikan,ikan mereka yang belum terbayarkan oleh si pembeli,hingga pada angsuran UBSP,Koperasi bahkan bank yang belum mereka setor.

Uang ada di sini ! Uang ada di pantai ini.Uang ada di ikan ini.Ketika membayar,dengan gesit mereka bergerak.Berjalan sambil berteriak “ikan…ikan…atau beli ikan” dengan gesit mereka melangkah menuju rumah dan selanjutnya menghubungi tukang ojek dan bergerak ke kampung-kampung incaran mereka.

“Uang ada di sana itu ! Uang ada di body sana itu! Uang ada di ikan ini,makanya kami seperti ini.Entah tengah malam,entah dalam hujan,kami tetap ke sini untuk beli ikan dan selanjutnya kami pergi menjualnya lagi.Hokeng,Boru menjadi sentra pergerakan kami untuk mendapatkan rupiah.Ada untung,sering pula hanya kembali modal.Bahkan rugi.Namun itulah hidup,kami menikmati itu.”ujar ema-ema itu sambil mengumpulkan ikan-ikan mereka.(Emnir)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment