Cabuli Empat Anak, Dukun Cabul 69 Tahun Divonis 7 Tahun Penjara

Denpasar/BaliNewsNetwork-Kakek 69 tahun bernama A. Helmi Asni alias Pak Asni alias Pak Bayu yang mencabuli empat bocah ingusan, Rabu (6/6) divonis 7 tahun penjara.

Majelis hakim pimpinan I Gede Ginarsa dalam putusnya menyatakan sependapat dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Peggy Elleng Bawengan yang menyatakan terdakwa yang bekerja sebagai buruh itu terbukti bersalah melakukan tindak pidana pencabulan terhadap anak dibawah umur.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana pada Pasal 76 E Jo Pasal 82 ayat (1) UU RI. No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Namun setelah mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan, majelis hakim akhirnya memangkas hukuman 9 tahun yang dimohonkan JPU menjadi 7 tahun penjara.

“Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 7 tahun,”sebut Hakim Ginarsa dalam amar putusan. Selain itu majelis juga menghukum terdakwa dengan pidana denda Rp 1 miliar subsider 4 bulan kurungan.

Atas putusan itu, baik JPU maupun terdakwa sama-sama menyatakan menerima. “Kami menerima putusan hakim,”sebut Jaksa yang akrab disapa Oma Peggy usai persidangan.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus yang mengantarkan terdakwa diadili ini berawal saat terdakwa melakukan pencabulan terhadap empat anak kecil ini pada tanggal 3, 4 dan 9 Desember 2017 silam pada jam yang hampir bersamaan.

Kepada korbannya, terdakwa mengaku sebagai dukun yang bisa membuat anak jadi pintar. Nah, korban pertamanya adalah Ni Putu A . Ni Putu A awalnya bertemu dengan terdakwa di salah satu warung. Saat pertemuan itu terdakwa mengatakan kepada korban.

“Mau terapi otak gak biar pintar”. Korban menjawab, “Gimana Caranya”. Dijawab lagi oleh terdakwa, “Belajar Mantra”.

Selanjutnya pada tanggal 3 Desember 2017 korban berpamitan kepada ibunya untuk pergi ke rumah terdakwa. Awalnya sempat dilarang orang tuanya dengan alasan tantenya pernah ke sana dan disuruh buka baju.

Namun korban tidak menghiraukan ucapan orangnya dan nekat pergi ke tempat terdakwa. Sampai di rumah terdakwa, terdakwa meminta korban untuk masuk ke dalam kamar, sementara terdakwa mengganti pakaian dengan menggunakan sarung dan baju koko serta peci.

Terdakwa kemudian meminta korban untuk tidur di atas ranjang dan menjadikan buku pelajaran matematika dan bahasa Inggris sebagai bantal. Terdakwa lalu meminta korban untuk membuka baju.

“Awalnya korban menolak tapi terdakwa terus memaksa sambari mengatakan nggak apa kok, nggak ada yang lihat,”sebut jaksa dari Kejari Denpasar itu.

Singkat cerita korban pun diminta untuk membuka celananya dan terdakwa dengan mulut komat kamit terus menggosok tubuh dan kemaluan korban dengan menggunakan batu berwarna hijau yang sebelumnya dilumuri oleh handbody.

“Usai melakukan asksinya, terdakwa memberi uang Rp 15 kepada korban dan mengatakan jangan menceritakan apa yang terlah dilakukanya kepada siapapun,”sebut jaksa.

Tak hanya itu, terdakwa juga berpesan kepada korban apabila bisa membawa temanya untuk terapi di tempatnya, maka terdakwa akan memberikan uang sebesar Rp 5 ribu.

Nah pada tanggal 7 dan 9 Desember, korban datang dengan membawa dua temanya serta sepupunya untuk terapi di rumah terdakwa. Ketiga anak ini pun mendapat perlakuan yang sama dari terdakwa.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment