Trauma Diperas Oknum AL, Nelayan Flotim Takut Melaut

Foto Ilustrasi :BNN/Emnir.

Larantuka/BaliNewsNetwork.com-Penambahan anggota tim terpadu pengawasan perairan Flores Timur dari unsur   TNI Angkatan Laut belum lama ini tidak berdampak pada terciptanya rasa aman dan nyaman bagi para nelayan Flores Timur. Justru terbalik, kehadiran mereka sungguh  meresahkan dan menakutkan para nelayan. Berdasarkan pengakuan beberapa kelompok nelayan, tak tanggung-tanggung oknum anggota TNI AL yang bertugas di Flotim itu melakukan aksi tidak bersahabat, kasar yang berbuahkan pemerasan.

Kepada wartawan, Kamis (24/5) beberapa nelayan korban aksi premanisme oknum anggota AL yang barusan bertugas di Flotim 1 April 2018 itu dengan lantang mengungkapkan traumatik mereka  akibat mengalami situasi pemerasan yang selalu diwarnai dengan ancaman itu.

“Baru terjadi dengan kehadiran mereka itu. Sudah 3 tahun kami beraktivitas di sini dan jujur baru pertama kali kami diperlakukan seperti ini. Semua dokumen lengkap, situasi waktu itu pun tidak ada aktivitas di laut. Tiba-tiba dengan mobil mereka datang dan menyita selang kompresor sambil memerintahkan kami untuk segera meninggalkan Flores Timur. Dalam hitungan 3 hari, kami harus meninggalkan Larantuka. Apa alasannya pun kami tidak tahu. Setelah kami lakukan pendekatan di pos mereka malah kami dipersoalkan karena tidak membangun koordinasi dengan mereka selama ini. Padahalnya mereka baru resmi bertugas di Flotim 1 April 2018,” beber bos JM, AW  seraya menambahkan kepadanyapun diminta uang sebesar Rp 15.000.000 dan diwajibkan menyetor ke mereka setiap bulan Rp 1.500.000 ditambah 1 box ikan. Ikan-ikan tersebut sebagaimana AW mengutip pernyataan oknum AL tersebut hendak dibagi-bagikan kepada  pejabat-pejabat penting di daerah itu.

Kondisi yang sama pula di alami oleh nelayan asal Riangkeroko, AH. Pemilik kapal motor perdana itu justru mengalami trauma hebat dan memilih untuk memarkirkan perahu motornya yang barusan dibelinya itu.

“Jujur, saya ini awam dengan dunia nelayan. Saya beli perahu motor ini karena ada warga kami yang ajak, karena dia mahir  mancing gurita. Barusan beli dan barusan operasi perdana, langsung berurusan dengan aparat TNI AL di perairan Sagu. Menurut ABK saya, ketika mereka merapat, langsung hentakan popor senjata dan memerintahkan mereka untuk berdiri di depan, kalau tidak ditembak. Perahu itu saya beli dari hasil pinjaman bank dan memang belum punya surat-surat. Jujur saya awam dengan itu semua. Lalu mereka arahkan body saya ke Lewoleba. Di sana mereka minta uang per ABK Rp 1.000.000. Mereka telepon saya namun saya bilang, wah,Rp 100.000 saja  berpikir susah apalagi  angka itu untuk 13 ABK ? Negoisasi terjadi hingga turun  menjadi Rp 5.000.000,” tutur AH dengan terus menerus melukiskan gaya komunikasi oknum tersebut  via HP .

Tak cuma itu, dari nelayan pemancing gurita asal Nanghale pun terlontar kabar bila mereka sempat dimintakan uang Rp 500.000 dan 25 Kg gurita. Sadisnya, pemberian para nelayan itu pun lalu dipaksakan oknum aparat TNI AL itu untuk ditimbang dengan harga perusahaan.

“Kami sudah beri uang Rp 500.000,sudah beri gurita 25 Kg lalu paksa kami untuk beli lagi gurita tadi dengan harga sebagaimana kami menjualnya kepada perusahaan. Bila per kilonya Rp 65.000 maka tinggal kalikan dengan 25 Kg saja.” ungkap mereka menyesali perilaku aparat keamanan yang seharusnya menjadi sahabat, pengayom dan pelindung masyarakat kecil .(Emnir).

Editor : Rahman Sabon Nama

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment