Otak Pembunuh Pensiunan Polisi Dituntut 15 Tahun Penjara, Tiga Rekannya Dituntut 12 Tahun

Empat terdakwa pembunuh pensiunan polisi yang dituntut 15 dan 12 tahun penjara (bnn/pro)

Denpasar/BaliNeweNetwork– Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Denpasar, Kamis (24/5) menuntut, I Gede Ngurah Astika yang menjadi otak pelaku kasus pembunuhan pensiuan polisi bernama I Made Suanda dengan pidana penjara selama 15 tahun. Sementara tiga temannya, Dewa Putu Alit Sudiasa alias Alit, Putu Veri Permadi alias Veri dan Dewa Made Budianto alias Tonges masing-masing dituntut 12 tahun penjara.

JPU Kadek Wahyudi Ardika di depan majelis hakim pimpinan I Gede Ginarsa menyatakan, para terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan alternatif kedua. Yaitu terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pencurian dengan kekerasan yang dilakukan secara bersama-sama yang mengakibatkan matinya orang.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diamaksud dalam Pasal 365 ayat (2) ke 2, ayat (3) KUHP. Menariknya, tuntutan hukuman 15 tahun penjara untuk terdakwa I Gede Ngurah Astika adalah hukuman maksimal dari Pasal tersebut.

Dalam surat tuntutan jaksa yang dibacakan, jaksa tidak menyertakan hal-hal yang meringankan. Jaksa hanya menyebutkan hal-hal yang memberatkan. Di antaranya, perbuatan para terdakwa menyebabkan korban I Made Suanda kehilangan nyawa, perbuatan terdakwa menimbulkan kesedihan bagi keluarga korban, dan khusus untuk terdakwa I Gede Ngurah Astika jaksa menyebut terdakwa adalah seorang residivis.

“Memohon kepada majelis hakim untuk menghukum terdakwa I Gede Ngurah Astika dengan pidana penjara selama 15 tahun,”sebut jaksa Kejari Denpasar itu.

Atas tuntutan itu, setelah berkonsultasi dengan pengacaranya, keempat terdakwa sepakat untuk mengajukan pembelaan secara tertulis pada sidang berikutnya.

Sementara dalam dakwaan jaksa sebelumnya disebut, kasus pembunuhan ini terjadi di Perum Nuansa Utama Jln. Nuansa Kori No. 30 Ubung 15 Desember 2017 sekira pukul 12.00 Wita.

Berawal pada tanggal 14 Desember 2017 terdakwa I Gede Ngurah Astika mengetahui bahwa korban hendak menjual mobil Honda Jazz warna putih Nopol DK 1985 CN yang diparkir di Jln. Darmasaba, Denpasar.

“Terdakwa kemudian menghubungi korban dan menanyakan harga mobil tersebut yang dijawab korban Rp 185 juta,”sebut JPU sebagaimana dalam dakwaan.

Terdakwa juga mengatakan kepada korban akan kembali menghubunginya.

Terdakwa I Gede Ngurah Astika sempat menangis usai memberikan keterangan (BNN/pro)

Pada hari yang sama sekira pukul 16.00 Wita terdakwa menghubungi Dewa Made Budianto alias Tonges bersama anak dan istrinya serta serta Putu Veri Permadi alias Veri dan Dewa Putu Alit untuk datang ke rumah kontrakanya di Perum Graha Asih Blok D No. 4 Tabanan dengan maksud untuk membantu membersihkan rumah.

Pada hari Jumat tangal 15 Desember 2017 pukul 06.00 Wita terdakwa I Gede Ngurah Astika bersama istrinya pergi dari rumah kontrakan lama menunju rumah kontrakan baru di Perumahan Nuansa Utama Jln. Nuasa Kori No. 30 Ubung.

Di rumah kontrakan baru ini terdakwa I Gede Ngurah Astika bertemu dengan pemilik rumah yang bernama Kwee Gandhi Ganisdhi.

Terdakwa saat itu mengaku bernama Ketut dari Bondalem, Singaraja dan hendek menyewa rumah tersebut selama 2 tahun dengan harga sewa Rp 45 juta. Sekitar pukul 09.00 Wita terdakwa mengajak terdakwa lainnya yaitu Alit, Veri dan Tonges untuk pergi ke rumah kontrakan barunya di Ubung.

Dalam perjalanan, terdakwa I Gede Ngurah Astika membeli satu kotak obat tidur yang nantinya dicampur minuman yang disuguhkan kepada korban I Made Suanda. Sebelum sampai di rumah kontrakan di Ubung, terdakwa I Gede Ngurah Astika sudah menghubungi Yoyo Halim yang tidak lain adalah calon pembeli mobil.

Sampai di rumah kontrakan di Jln. Nuansa Kori, terdakwa I Gede Ngurah Astika pergi ke warung untuk membeli kopi. Sedangkan ketiga terdakwa lainya menunggu di rumah kontrakan sembari bersih-bersih. Tidak lama kemudian terdakwa I Gede Ngurah Astika datang dengan membawa kopi dan beberapa jajan.

“Terdakwa I Gede Ngurah Astika lalu memberi tahu kepada tiga terdakwa lainnya akan mengambil mobil milik korban dan meminta kepada terdakwa Tonges membuatkan kopi dicampur dengan obat tidur,”ungkap JPU.

Kemudian pada pukul 11.00 Wita terdakwa I Gede Ngurah Astika menghubungi korban untuk melanjutkan transaksi jual beli mobil tersebut. Kemudian terdakwa I Gede Ngurah Astika pergi menjemput korban di rumahnya di Jln. Darmasaba.

Tidak lama kemudian terdakwa I Gede Ngurah Astika datang ke kontrakan tersebut dengan diikuti oleh korban yang membawa serta mobil Honda Jazz waran putih yang kemudian diparkir depan rumah.

Korban lalu dipersilahkan masuk dan duduk di lantai sambil menyandarkan tubuh di tembok berhadapan dengan terdakwa I Gede Ngurah Astika. Sementara terdakwa Veri duduk di samping korban, sedangkan terdakwa Alit duduk di depan terdakwa Veri. Sementara Tonges berada dalam salah satu kamar di rumah kontrakan tersebut.

Lalu terdakwa I Gede Ngurah Astika berpura-pura bertanya kepada Veri. “Ibu sama bapak sudah datang belum” yang dijawab Veri belum datang.

Kemudian terdakwa I Gede Ngurah Astika meminta kepada terdakwa Tonges untuk membuatkan kopi dan dicampur dengan obat tidur.

Setelah korban disuguhi kopi yang sudah bercampur dengan obat tidur, terdakwa I Gede Ngurah Astika berpura-pura menelpon seseorang sambil mondar-madir.

Dan terdakwa Tonges keluar dari kamar dan bersalaman dengan korban dan duduk di samping kanan korban.

Beberapa saat kemudian korban I Made Suanda berkata “kok lama ya”. Nah saat itulah terdakwa I Gede Ngurah Astika memukul wajah korban sehingga korban jatuh ke belakang dan kepala bagian belakang membentur tembok.

Tak hanya itu, terdakwa I Gede Ngurah Astika mengkrip leher korban dari belakang dan membentur-benturkan wajah korban ke lantai. Korban pun dianiaya hingga ditemukan meninggal dunia.

Setelah korban meninggal, terdakwa Alit dan Veri menyeret tubuh korban ke dalam kamar, sedangkan terdakwa Tonges membersihkan darah yang ada di lantai.

Selanjutkan terdakwa I Gede Ngurah Astika pergi dengan mambawa tas milik korban yang berisia BPKB mobil dengan menggunakan mobil korban. (pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment