Cabuli 4 Bocah Ingusan Kakek 69 Tahun Dituntut 9 Tahun Penjara

Terdakwa A Helmi Asni alias Pak Asni alias Pak Bayu yang dituntut 9 tahun penjara (BNN/pro)

Denpasar/BaliNewsNetwork-Masih ingat dengan pria berusia 69 tahun bernama A. Helmi Asni alis Pak Ask Alias Pak Bayu yang mencabuli 3 bocah ingusan?

Nah, pada sidang, Rabu (16/5) dia oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Peggy E. Bawengan dituntut dengan pidana penjara selama 9 tahun.

Tak hanya itu, kakek yang beralamat di Perum Puri Gading itu juga dituntut hukuman denda Rp 1 Miliar.”Apabila tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 6 bulan,”kata jaksa Kejari Denpasar itu.

Jaksa yang akrab disapa Oma Peggy ini dalam amar tuntutanya menyatakan, terdakwa yang bekerja sebagai buruh itu terbukti bersalah melakukan tindak pidana pencabulan terhadap anak dibawah umur.

Perbuatan terdakwa melanggar Pasal 76 E Jo Pasal 82 ayat (1) UU RI. No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Sebelum menjatuhkan tuntutan, jaksa terlebih dahulu mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan. Yang meberatkan adalah perbuatan terdakwa merusak masa depan korban.

Sedangkan yang meringankan, terdakwa sopan selama persidangan, terdakwa mengaku terus terang, berjanji mengulangi lagi dan terdakwa sudah lanjut usai.

“Memohon kepada majelis hakim untuk menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 9 tahun,”sebut jaksa dalam surat tuntutanya.

Atas tuntutan itu, terdakwa melalui pengacaranya sepakat untuk mengajukan pembelaan secara tertulis pada sidang pekan depan.”Kami mengajukan pembelaan,”sebut pengacara terdakwa.

Sebagaimana dalam dakwaan yang dibacakan di muka sidang terungkap, terdakwa melakukan pencabulan terhadap empat anak kecil ini pada tanggal 3, 4 dan 9 Desember 2017 silam pada jam yang hampir bersamaan. Modusnya terdakwa mengaku sebagai dukun yang bisa membuat anak menjadi pintar.

Nah, korban pertamanya adalah Ni Putu A . Ni Putu A awalnya bertemu dengan terdakwa di salah satu warung. Saat pertemuan itu terdakwa mengatakan kepada korban.

“Mau terapi otak gak biar pintar”. Korban menjawab, “Gimana Caranya”. Dijawab lagi oleh terdakwa, “Belajar Mantra”.

Selanjutnya pada tanggal 3 Desember 2017 korban berpamitan kepada ibunya untuk pergi ke rumah terdakwa. Awalnya sempat dilarang orang tuanya dengan alasan tantenya pernah ke sana dan disuruh buka baju.

Namun korban tidak menghiraukan ucapan orangnya dan nekat pergi ke tempat terdakwa. Sampai di rumah terdakwa, terdakwa meminta korban untuk masuk ke dalam kamar, sementara terdakwa mengganti pakaian dengan menggunakan sarung dan baju koko serta peci.

Terdakwa kemudian meminta korban untuk tidur di atas ranjang dan menjadikan buku pelajaran matematika dan bahasa Inggris sebagai bantal. Terdakwa lalu meminta korban untuk membuka baju.

“Awalnya korban menolak tapi terdakwa terus memaksa sambari mengatakan nggak apa kok, nggak ada yang lihat,”sebut jaksa dari Kejari Denpasar itu.

Singkat cerita korban pun diminta untuk membuka celananya dan terdakwa dengan mulut komat kamit terus menggosok tubuh dan kemaluan korban dengan menggunakan batu berwarna hijau yang sebelumnya dilumuri oleh handbody.

“Usai melakukan asksinya, terdakwa memberi uang Rp 15 kepada korban dan mengatakan jangan menceritakan apa yang terlah dilakukanya kepada siapapun,”sebut jaksa.

Tak hanya itu, terdakwa juga berpesan kepada korban apabila bisa membawa temanya untuk terapi di tempatnya, maka terdakwa akan memberikan uang sebesar Rp 5 ribu.

Nah pada tanggal 7 dan 9 Desember, korban datang dengan membawa dua temanya serta sepupunya untuk terapi di rumah terdakwa. Ketiga anak ini pun mendapat perlakuan yang sama dari terdakwa.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment