Yohanes Igo Manuk :Tuak Jadi Arak,Disiplin di Pohon-Disiplin di Tungku

Yohanes Igo Manuk (60),pengiris  tuak dan penyuling arak asal desa Titehena,Kecamatan Solor Barat,Flores Timur.Foto :BNN/Emnir.

Solor/BaliNewsNetwork.com-Mengatur waktu,demikianlah kunci sukses pengiris tuak sekaligus penyuling arak asal desa Titehena,Kecamatan Solor Barat, Yohanes Igo Manuk (60). Di setiap pagi pukul 06.00 wita,suami Susana Sunu Jawan (54) itu telah berada di kebunnya dan langsung bergerak disetiap batang pohon lontar untuk mengiris tuak.

Dengan tekun dan disiplin,Yohanes Igo Manuk memanjat,menyadap,serta membawa turun hasil irisannya hingga memasukannya dalam periuk tanah untuk  selanjutnya berproses menghasilkan cairan bening bernama arak itu.

“setiap pagi dan sore,saya harus naik-turun 20 batang pohon lontar,karena saya punya ne’re (pohon lontar yang sedang di iris ) sebanyak 20 pohon. Tuak yang dihasilkan dari setiap pohon itu,lalu dimasukan pada periuk tanah.Harus atur waktu,sebab ketika sudah turun dan memasak,tingkat ketajaman api menjadi hal mutlak yang harus diperhatikan.Kita harus memberi konsentrasi ekstra pada tingkat panas api dari tungku untuk menghasilkan arak yang berkualitas.”urai Yohanes Igo Manuk ketika ditemui BaliNewsNetwork.com,Senin (14/5).

Bagi bapak beranak 4 orang tersebut,walau harus bersusah-susah menggeluti ‘susu lontar’ itu  menjadi arak,namun dirinya sangat bahagia menjalankan aktivitas yang telah menjadi mata pencahariannya itu.Dari pohon lontar,dirinya bisa menyekolahkan anak-anaknya dan memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka.

Soal pemasaran,bukan menjadi kendala bagi Igo Manuk.Selain menjual di pasar Enatukan,Ritaebang,sering pula pembeli langsung membelinya di pondok penyulingan  milik Yohanes Igo Manuk tarif, per-drigen (5 liter) Rp.280.000 dan Rp.35.000 per-botol.(Emnir).

Editor :Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment