Dirjen Kebudayaan Minta Bali 1928 Jadi Model Pengembangan Budaya Nusantara

Dari kiri: Made Marlowe Makaradhwaja Bandem, B.Bus., Dr, Dadang Hermawan, Drs. Ida Bagus Dharmadiaksa, M.Si., Ak., Dr. Hilmar Farid (pakai udeng), Prof. Dr. I Made Bandem, MA dan I Made Dharma Suteja, SS., M.Si.

Denpasar-Setelah kunjungan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof. Muhamad Nasir ke STIKOM Bali pada 02 Februari 2018 untuk melihat hasil repatrisasi Bali 1928, kini giliran Direktur Jenderal Kebudayaaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Dr. Hilmar Farid mendatangi STIKOM Bali, Jumat (11/05/2018) guna melihat dari dekat Arsip Bali 1928, ,

Kedatangan Dirjen Kebudayaan Dr. Hilmar Farid didamping Kepala Balai Pelestraian Nilai Budaya Bali I Made Dharma Suteja, SS., M.Si diterima oleh Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti (WDS)-induk STIKOM Bali- Prof. Dr. I Made Bandem, MA., Ketua Yayasan WDS Drs. Ida Bagus Dharmadiaksa, M.Si., Ak., Wakil Ketua Yayasan WDS I Made Marlowe Makaradhwaja Bandem, B.Bus., dan Ketua STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan.

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid serius nonton film Bali 1928 di STIKOM Bali

Pada kesempatan itu, koordinator proyek Bali 1928 Made Marlowe Bandem menjelaskan upaya memulangkan kembali dan memproduksi ulang film-film dan foto-foto dokumen Bali di era 1928 – 1934 yang selama ini  tersimpan di luar negeri, baik karena koleksi perorangan maupun universitas, melalui  proyek “Restoration, Dissemination and Repatriation of the Earliest Music Recordings and Films in Bali” yang dilakukan oleh peneliti utama Dr. Edward Herbst bekerjasama dengan Alan Evans, seorang arbiter of cultural traditions di New York dan STIKOM Bali dari sisi teknologi digitalnya.

“Ini adalah upaya pemugaran, penyebaran, dan pemulangan kembali warisan pusaka seni dan budaya Bali dari tahun 1930-an, proyek ini menerbitkan lima volume CD yang berisi berbagai rekaman tabuh dan nyanyian karya seniman dan sekaa gamelan legendaris dari berbagai daerah di Bali, dilengkapi dengan lima volume DVD  cuplikan film tentang pemandangan alam dan kehidupan masyarakat Bali pada masa tahun 1930-an termasuk pula  berbagai pilihan seni tari dan tabuh yang dipentaskan oleh para seniman besar Bali pada di masa itu,” kata Marlowe Bandem.

Hilmar Farid makin tertari ketika diperlihatkan film tentang selah sseorang tokoh Bali di masa lampau yakni Ida Pedande Made Sidemen dari Sanur maupun pemandangan sawah Jati Luwih serta film dokumen lainnya. Hilmar Farid langsung meminta Bali 1928 harus menjadi model pengembangan kebudayaan nusantara.

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid menerima 5 keping CD dan DVD Bali 1928 dari STIKOM Bali

“Dari tadi saya berpikir, kira-kira apa yang bisa pemerintah lakukan untuk ke depannya. Tapi pada intinya, ada dua hal pemerintah bisa masuk. Pertama, melengkapi apa yang sudah ada dan kedua  memfasilitasi paket keliling Indonesia untuk memperlihatkan apa yang sudah dikerjakan Bali 1928  sehingga menjadi inspirasi bagi daerah sekaligus STIKOM Bali membantu daerah untuk menginvetaris aset seni dan budaya menggunakan kecanggihan teknologi,” terang Hilamr Farid sambil mempersilahkan Marlowe Bandem ke Jakarta untuk mendiskusikan hal ini lebih lanjut.

“Arsip Bali 1928 ini adalah upaya luar biasa mengumpulkan informasi mengenai Bali abad 20 dan memberi inspiasri karena sesungguhnya kekayaan budaya ini baru secuil, inilah jalan untuk menemukan kembali kekayaan budaya kita yang selama ini tersimpan di luar negeri,” lanjutnya.

Pada kesempatan ini Ketua STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan memberikan satu set atau lima volume CD dan VCD Arsip Bali 1928 kepada Hilmar Farid untuk menjadi koleksi Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud RI. Hilmar Farid juga didualau untuk menyampaikan ucapan selamat kepada wisudawan STIKOM Bali yang diwisuda hari ini, Sabtu Mei 2018 di Nusa Dua. (rsn)

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment