Perjuangan Seli Tupen “Menangkap” Sinyal Telkomsel di Kampung Halamannya

BISiKAN MAUT-Petrus Seli Tupen berbicara dengan cara membisik kepada Bupati Anton Hadjon dalam acara pernikahan putri Gubernur NTT di Bali. BNN/IST.

Banyak cara untuk membangun lewo tana (kampung halaman). Tidak harus tinggal di kampung tetapi bisa dari luar. Sekitar 3 tahun lalu, Petrus Seli Tupen, salah seorang putra Desa Lamawato yang juga salah seorang petinggi di Bank Prima Denpasar ini intens memperjuangkan hadirnya sinyal Telkomsel yang selama ini menjadi masalah krusial bagi sekitar 4.000 warga di lima desa di wilayahnya. Berikut sekelumit kisahnya.

Oleh Rahman Sabon Nama

Denpasar/BaliNewsNetwork.Com-Sejak operator telepon selular Telkomsel beroperasi di Flores Timur lebih dari 10 tahun lalu, tenyata ada desa di Kecamatan Adonara Timur ini belum “beruntung” memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara maksimal. Meski sudah ada Base Tranceiver Station (BTS) di Desa Kiwang Ona, desa tetangga mereka, toh sinyal Telkomsel tak mampu menjangkau desa mereka. Mungkin karena secara geografis letak kelima desa itu lebih tinggi. Akibatnya untuk keperluan telepon saja, mereka harus keluar dulu dari desanya agar bisa berkomunikasi dengan baik.

Keluhan sekitar 4.000 warga di lima desa di Kecamatan Adonara Timur yakni Desa Lamawato & Kwaelaga, Desa Ongebelen,  Desa Puhu dan Desa Gelong yang selama bertahun-tahun menerima sinyal “timbul tenggelam” dari Telkomsel, menjadi perhatian serius seorang Petrus Seli Tupen. Sekitar 3 tahun lalu, saya beberapa kali dihubungi oleh Petrus Seli Tupen untuk membantu meloby Telkomsel. Atas saran Seli Tupen juga, Kepala Desa Ongebelen, Eko (waktu itu) beberapa kali mengontak saya  menanyakan hal yang sama. Seli Tupen tahu, profesi wartawan lebih mudah masuk ke segala lini, termasuk para petinggi Telkomsel Bali – Nusa Tenggara yang berkedudukan di Denpasar. Hanya saja jawaban yang saya terima dari Telkomsel, syarat utama pembangunan BTS adalah masyarakat bersedia menyiapkan tanah secara gratis. Belakangan, saya mendapat informasi dari Telkomsel bahwa pihak Telkomsel tidak ada lagi  program menambah pembangunan BTS yang lokasinya tak jauh dari BTS yang sudah ada. Solusinya, pembangunan menara BTS tambahan menjadi beban pemerintah daerah setempat, sedangkan pihak Telkomsel mendukung dari sisi teknologi BTS. Informasi ini saya sampaikan kepada Petrus Seli Tupen.

Semula saya berpikir, keluhan sekitar 4.000 warga di lima desa tersebut bakal makin lama teratasi jika disampaikan melalui saluran resmi, dibahas di dewan lalu masuk dalam APBD Flotim entah tahun ke berapa.  Tetapi kekhawatiran saya hilang ketika secara kebetulan saya bertemu Bupati Flotim terpilih Anton Hadjon dalam acara ulang tahun putri Gubernur NTT di Bali pada awal 2017.  Saya segera mempertemukan Seli Tupen dengan Anton Hadjon dan Penjabat Bupati Flotim Eman Kara  di satu meja. Saat itu Seli Tupen menyampaikan keluhan warga kelima desa ini soal ketiadaan sinyal Telkomsel. Eman Kara merespon keluhan Seli Tupen. Begitu juga Anton Hadjon. Meski belum dilantik, Anton Hadjon langsung menyatakan sikapnya siap membantu. Dengan catatan, asal warga desa menyiapkan lahan untuk lokasi BTS. 

“Kalau sudah ada lokasinya dan masyarakat mau memberikan tanahnya, tanah tidak bermasalah, saya siap bangun,” janji Anon Hadjon saat itu.


Tak lama setelah dilantik, komitmen Bupati Anton Hadjon untuk rakyat di lima desa itu benar-benar dibuktikan. Bupati Anton Hadjon langsung memerintahkan dinas terkait dan Telkomsel untuk mensurvey titik mana yang tepat guna dibangun BTS. Awalnya, titik lokasi adalah di Desa Kewaelaga. Ternyata pemilik lahan “belum rela” menyerahkan tanah berukuran 20 x 20 m tersebut.

Jumat, 04 Mei 2018 malam, Bupati Anton yang ikut menghadiri pernikahan putri Gubernur NTT di Bali, saya segera mempertemukan Seli Tupen dengan Bupati Anton Hadjon. Pada kesempatan itu Seli Tupen meyakinkan bupati bahwa besok Sabtu (05/05/2018) dia mengontak para kepala desa berkumpul guna mencari solusi soal lokasi BTS.  

Sabtu (05/05/2017) siang Bupati Anton Hadjon berkenan bertemu warga Lamaholot Bali di Sekretariat IKB Flobamora Bali. Kedatangan Bupati Anton Hadjon yang diantar oleh saya dan Hans Halan diterima oleh sesepuh Lamaholot Bali Bone Bali Hada dan Petrus Seli Tupen,  Ketua Flobamora Bali Yusdi Diaz, Humas Flobamora Bali Beny Ule Ander dan Sekretaris Panitia Pelaksana Turnamen Flobanora Cup 2018 Marsel Paga serta Bahu HAMA Flobamora Bali Kasper Gambar, SH.

Menindaklanjuti pembicaraan semalam, Seli Tupen berbicara serius untuk menggolkan rencana pembangunan BTS. Karena kesulitan sinyal itulah maka melalu keluarganya, Agustinus Palang Ama Muda, yang saat itu kebetulan posisinya di luar desa, berhasil mengumpulkan para kepala desa untuk membicarakan lokasi yang bakal dibangun BTS sekaligus mendengar keputusan Bupati Anton Hadjon dari Bali.

“Saya minta, kalau tuan tanah maunya ada uang sirih piring sekedar ganti rugi, itu bisa menjadi tanggungan bersama oleh kelima desa, menggunakan dana desa yang ada, yang terpenting hari ini soal tanah harus selesai, mumpung saya sedang bicara dengan pak bupati dan sudah direspon baik sejak semalam,” kata Seli Tupen kepada Agustinus Palang Ama Muda. Pada saat bersamaan Bupati Anton Hadjon segera mengontak Kepala Dinas Kominfo Flores Timur untuk melakukan survei ulang. Jawaban yang diperoleh, sebenarnya ada dua lokasi yang sangat memungkinkan untuk dibangun BTS. Yakni lokasi  pertama di Desa Kewaelaga yang “bermasalah” tadi dan kedua di Desa Puhu yang seaera geografis letaknya memang lebih tinggi.

Mendengar penjelasan bupati soal lokasi baru di Desa Puhu, Seli Tupen langsung berkoordinasi dengan para kepala desa dan sepakat dengan lokasi terakhir untuk dibangun BTS. Terlihat Seli Tupen beberapa kali bangun dari tempat duduk, meninggalkan Bupati Anton Hadjon, Bone Bali Hada dan Yusdi Diaz dalam forum dialog ini agar bisa berkomunikasi sengan para kepala desa.

Bupati Anton juga langsung mengontak Telkomsel pusat untuk menyampaikan informasi ini. Tanpa bertele-tele lagi, Bupati Antonius Gege Hadjon memastikan bahwa dua minggu lagi Base Tranceiver Station (BTS) akan dbangun di Desa Puhu guna mengatasi kesulitan sinyal Telkomsel yang sudah bertahun-tahun dirasakan oleh warga kelima desa tersebut. Dan keputusan penting itu diambil oleh seorang Anton Hadjon, Sabtu 05 Mei 2018 sore, di rumah Yusdi Diaz yang sekaligus sebagai Sekretariat Flobamora Bali, di Jl. Tukad Musi I No. 5 Renon, Denpasar.**

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment