Gelapkan Uang Perusahaan Miras, Dihukum 2,5 Tahun Penjara

Denpasar/BaliNewsNetwork-Pria berbadan tinggi besar bernama Noldy Leonard (33) yang sebelumnya bekerja di PT. Tirta Artha Abadi hanya bisa tertunduk lesu saat majelis hakim pimpinan Esthar Oktavi pada sidang, Rabu (25/4) menjatuhkan hukuman 2 tahun dan 6 bulan penjara (2,5 tahun).

Majelis hakim dalam amar putusanya yang dibacakan dimuka sidang menyatakan sependapat dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Putu Oka Surya Atmaja yang menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana penggelapan dalam jabatan.

Perbuatan terdakwa melanggar Pasal 347 Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. Namun majelis tidak sependapat dengan tuntutan hukuman penjara yang dimohonkan jaksa.

Dimana pada sidang sebelumnya, Jaksa Kejari Denpasar itu menuntut terdakwa yang tinggal di Jln. Bypass Ngurah Rai No. 136 dengan pidana penjara selama 3 tahun.

Setelah mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan, majelis hakim akhirnya memangkas hukuman menjadi 2 tahun dan 6 bulan (2,5 tahun) penjara.

“Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 2,5 tahun,”tegas Hakim Esthar dalam amar putusnya.

Atas putusnya itu, terdakwa yang tidak didampingi pengacara itu menyatakan menerima, sedang JPU Putu Oka menyatakan pikir-pikir.”Kami pikir-pikir yang mulia,”sebut jaksa dimuka sidang.

Dalam sidang terungkap, pria asal Jakarta ini melakukan tindak pidana penggelapan dalam jabatan berawal dari terdakwa bekerja di PT. Tirta Abadai Artha di Jalan Sesetan No 5 yang bergerak dibidang penjaualan minuman keras (Miras) yang melayani bar, karoke, hotel dan restauran.

Setelah bekerja, dalam perjalanan terdakwa memiliki niat untuk berwirusaha dan memubutuhkan modal besar, sehingga timbul niat terdakwa untuk membuat order fiktif.

Berawal saat terdakwa minta kepada saksi Bintoko selaku sopir perusahaan untuk tidak mengantarkan orderan ke konsumen.”Melainkan orderan dikirim ke rumah terdakwa,”sebut jaksa Kejari Denpasar itu.

Setelah barang dikirim ke rumah terdakwa, oleh terdakwa barang terbut dijual ketempat lain dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang dijual oleh perusahaan tempat terdakwa bekerja.

Terungkappula, order fiktif ini bukan cuma sekali, melainkan sudah berkali-kali dilakukan oleh terdakwa sehingga Rudi Hadi Purwanto selaku direktur pada perusahaan tersebut mengalami kerugian Rp 207.154.000.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment