Catatan Ringan dari Turnamen Sepak Bola Flobamora Bali Cup IX – Habiskan Anggaran Rp 525 Juta Tanpa Perlu “Menjual” Proposal

Menggelar turnamen sepak bola sekelas Flobamora Bali Cup memang menghabiskan anggaran besar.  Ini disadari betul oleh lima pengurus pengurus inti  yang menjadi motor penggerak utama Flobamora Bali selama ini. Kelima orang tersebut adalah sang Ketua Umum Yosep Yulius Diaz alias Yusdi Diaz, Sekretaris Umum Fredrik Billy, Ketua I Ardy Ganggas, Ketua II Agus Dei Segu dan sang Bendahara Krisman Riwu Kore. Dari mana mereka mendapatkan duit lebih dari setengah miliar rupiah agar bisa menggelar turnamen ini?

Oleh Rahman Sabon Nama

Denpasar/BaliNewsNetwork.Com-Kiprah Flobamora Bali di tangan Yusdi Diaz cs yang kali ini memasuki periode ketiga, memang jauh berbeda dari sebelumnya terutama dalam hal menggelar turnamen sepaka bola bertajuk Flobamora Bali Cup. Masalahnya untuk menggelar turnamen yang melibatkan 19 kesebelasan dari 23 unit suka duka perwakilan kabupaten / kota se Provinsi NTT yg bergabung dalam wadah IKB Flobamora Bali ini sunguh menghabiskan anggaran yang sangat spektakuler untuk ukuran sebuah organisasi suka duka. Untuk turnamen tahun 2018 ini, anggaran yang disiapkan mencapai Rp 500 juta. “Tapi dalam pelaksanan biasanya membengkak lagi tukas Yusdi Diaz.

Dalam sambutannya saat upacara pembukaan Flobamora Cup IX di Stadion Ngurah Rai, Minggu, 15 April 2018, Yusdi Diaz mengatakan anggaran turnamen ini mencapai Rp 500 juta bahkan lebih.

“Tapi anggaran sebesar ini murni dari swadaya Flobamora Bali tanpa perlu kami menjual proposal ke mana-mana, kami tidak menjual proposal di Bali maupun di NTT untuk mengumpulkan uang,” tegas Yusdi Diaz yang membuat Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan para undangan VVIP lainnya yang duduk podium menggut-manggut, seakan tertegun mendengar “keihklasan” mereka menggelar turnamen ini.

Meski setengah bercanda, Yusdi Diaz mengatakan, seorang Ketua Flobamaora Bali dianggap gagal memimpin organisasi ini jika tak bisa menggelar turnamen sepak bola. Begitu juga seorang ketua unit suka duka dianggap gagal jika tak mampu mengikutkan timnya dalam turnamen ini.

“Karena salah satu sisi positifnya adalah melalui turnamen ini semua warga Bali keturunan NTT dapat saling mengenal satu sama lain. Ini menjadi ajang silaturahmi tahunan bagi kami,” kata Yusdi Diaz.

Lalu anggaran sebesar itu untuk apa saja? Sewa lapangan, biaya wasit, biaya keamanan, upacara pembukaan dan ceremoni penutupan serta atribut panitai menyedot anggaran terbanyak. Total pertandingan dalam turnamen ini sebanyak 42 pertandingan. Upacara pembukaan menghabiskan biaya Rp 75 juta, begitu juga penutupan nanti.

“Sederhananya, tiap kali pertandingan menghabiskan anggaran minimal Rp 7.5 juta,” sergah Yusdi.

Untuk menutupi semua biaya itu, tim kreatif dari panitia yang dikomandoi oleh Ardy Ganggas, Macel Paga, Hans Halan, Beny Ule Ander, Valerian Wangge dan Tony Rahu termasuk penulis sendiri menerbitkan buku panduan turnamen Flobamora Cup. Selain diharapkan dari penjualan buku tersebut, para mitra atau kelega Flobamora Bali yang menyampaikan ucapan “selamat bertanding” misalnya, sudah pasti dikenakan biaya tertentu. Sumber pemasukan lainnya adalah penjualan merchandise seperti syal, topi Flobamora Bali dan tiket masuk stadion.

Pada saat upacara pembukaan total pendapatan dari tiket masuk ini mencapai Rp 17 juta. “Ini pendapatan tiket terbesar dalam sejarah turnamen Flobamora Bali Cup,” ujar Marcel Paga, sang sekretaris panitia dengan nada bangga ketika diadakan evaluasi acara ini di Sekretariat Sang Dewi Flobamora Bali di Renon, dua hari setelah upara pembukaan.

Tetapi, seperti diprediksi Yusdi Diaz, Ardy Ganggas, Fredrik Billy, Agus Dei dan Krisman Riwu Kore, selama pertandingan hingga final nanti, ada saja pengeluaran tak terduga. Apalagi mulai babak semifinal hingga final nanti, siaran langsung secara full tanpa hambatan melalui akun facebook Flobamora Bali sehingga sudah barang tentu perlu dukungan kapasitas bandwidth yang besar dari operator selular dan itu membutuhkan biaya yang besar pula.

Lagi pula momentum sermoni penutupan nanti wajib didukung dengan panggung khusus bagi media untuk mengabadikan momentum tersebut dan tentu saja publikasi yang lebih luas.

“Jadi, kalaupun harus norok, gak banyaklah, masih bisa kami atasi,” pungkas Yusdi Diaz.

Turnamen sepak bola ini memang menjadi icon tersendiri yang ikut mewarnai persepakbolaan di Bali dan menjadi agenda 3 tahunan sesuai periode kepengurusan Flobamora Bali sekaligus  menjadi momentum untuk merekatkan tali persaudaraan sebagai sesama di perantauan. “Bukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang menang dan kalah adalah anak-anakku sendiri warga Bali keturunan   NTT,” begitu kata Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam sambutannya ketika membuka turnamen Flobamora Cup IX tahun 2018 senilai lebih dari setengah miliar rupiah ini di Stadion Ngurai Rai, Denpasar, Minggu, 15 April 2018.*

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment