Tipu Orang, Kakek 72 Tahun Dituntut 3 Tahun dan 10 Bulan Penjara

Terdakwa Anak Agung Ngurah Mayun (baju putih) usai akhirnya dituntut 3 tahun dan 10 bulan penjara (BNN/pro)

Denpasar/BaliNewsNetwork-Anak Agung Ngurah Mayun (72) dituntut hukuman tiga tahun sepuluh bulan penjara, karena terbukti melakukan penipuan jual beli tanah seluas 1.350 meter persegi di Denpasar yang mengakibatkan korban Wayan Gede Yudiasa mengalami kerugian Rp1,05 miliar.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Made Tangkas dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Wayan Kawisada di PN Denpasar, Selasa, menyatakan terdakwa bersalah melakukan tindak pidana menguntungkan diri sendiri atau orang lain yang melawan hukum dengan tipu muslihat atau serangkaian kebohongan.

“Terdakwa terbukti melanggar Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan melakukan serangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang suatu kepadanya,” kata JPU.

Hal yang memberatkan perbuatan terdakwa karena telah merugikan orang lain, perbuatannya telah meresahkan masyarakat pemilik tanah dan pembeli tanah yang memiliki etikad baik, terdakwa tidak mengakui seluruh jumlah uang yang diterimanya, tidak ada perdamaian dengan saksi korban dan terdakwa juga belum mengembalikan uang milik korban.

Atas tuntutan itu terdakwa melalui kuasa hukumnya menyatakan mengajukan pembelaan secara tertulis yang diagendakan pekan depan.”Kami mengajukan pembelaan yang mulai,”kata pengacara terdakwa.

Sementara itu sebagaimana dalam dakwaan terungkap bahwa pada 1 Januari 2014, terdakwa memberitahukan kepada saksi Nyoman Sugra atau orang tua dari Wayan Gede Yudiasa (korban) bahwa terdakwa memiliki tanah yang akan dijual di Banjar Pitik Pedungan, Denpasar Selatan seluas 1.350 meter persegi.

Terdakwa mengatakan kepada korban bahwa tanahnya itu belum memiliki sertifikat, namun terdakwa memiliki dokumen pendukung untuk mengurus kepengurusan sertifikat tanah itu.

Kemudian, korban mengecek lokasi tanah itu dan berminat untuk membeli tanah milik terdakwa.

Selanjutnya, pada 2 Januari 2014, terdakwa meminta kepada orang tua korban agar memberikan tanda jadi Rp5 juta, pada 6 Januari 2014 terdakwa bertemu dirumah saksi Wayan Robin untuk menunjukkan bukti dokumen pendukung itu kepada korban.

Dengan menunjukkan jaminan itu, terdakwa akan menjual tanah itu kepada korban dengan harga Rp100 juta per are.

Korban yang percaya dengan bujuk rayu terdakwa kemudian menyerahkan uang Rp195 juta untuk penambahan uang tanda jadi sehingga total keseluruhan uang yang telah diberikan kepada terdakwa Rp200 juta dari total harga tanah Rp1,35 miliar.

Kemudian, korban melakukan pembayaran secara bertahap kepada terdakwa pada Rp15 Januari 2014 sebesar Rp45 juta, pada 27 Januari 2014 sebesar Rp20 juta dan pada 3 Maret 2014 sebesar Rp200 juta.

Selanjutnya, pada 17 Maret hingga 12 Juni 2014, korban memberikan pembayaran uang pembelian tanah secara bertahap sehingga totalnya mencapai Rp485 juta.

Namun pada 29 April 2014, korban diberitahukan Notaris Kade Sri Indra Anggraeni bahwa tanah yang dijual terdakwa kepada korban bermasalah karena ada keberatan dari pihak I Gusti Made Dira dalam proses penyertifikatannya.

Akibat perbuatan terdakwa itu, korban mengalami kerugian  Rp1,05 miliar dan kemudian melaporkan kejadian itu kepada polisi.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment