Mantan Perbekel yang Aniaya Dokter Hanya Dituntut 2 Bulan Penjara

Jik Lanang bisa tersenyum lega karena hanya dituntut 2 bulan penjara (BNN/dok)

Denpasar/BaliNewsNetwork-Mantan Perbekel yang menjadi terdakwa kasus penganiayaan terhadap seorang dokter akhirnya bisa bernafas lega. Bagaimana tidak, dalam sidang, Selasa (10/4) kemarin terdakwa yang bernama I Gusti Lanang Umbara alias Jik Lanang (39) hanya dituntut 2 bulan penjara.

Dihadapan majelis hakim pimpinan I Gede Ginarsa, Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Made Lovi Pusnawan menyatakan terdakwa Jik Lanang terbukti bersalah melakukan tindak pidana memaksa orang lain supaya melakukan,

tidakmelakukan atau membiarkan sesuatu dengan memakai kekerasan atau dengan memakai ancaman kekerasan terhadap orang orang lain.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dalam Pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHP. “Memohon kepada majelis hakim untuk menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 2 bulan,”sebut JPU sebagai dalam surat tuntutanya.

Atas tuntutan itu, terdakwa yang tidak didampingi pengacara itu langsung mengajukan pembelaan secara lisan. Isi pembelaan itu intinya terdakwa memohon keringanan hukuman. Sementara

Seperti diberitakan sebelumnya, Korban dr. Grace Juniaty yang diperiksa di Pengadilan mengatakan, Kejadian berawal saat terdakwa datang ke RSUD Badang tanggal 25 Pebruary 2018 lalu.

Terdakwa datang membawa ibu kandungnya yang bermana Ni Wayan Asih yang mengalami sesak nafas.

Saat tiba di UGD, pasien (ibu kandung terdakwa) langsung ditangani oleh korban dengan mengambil beberapa tindakan medis yang salah satunya memasang oksigen.

Karena pasien disebut memiliki riwayat sakit jantung, korban lalu memberi obat sakit jantung dan meyarankan agar pasien dirongent sebelum dikonsultasikan ke dokter ahli jantung.

Hasil rongent selesai, korban yang marupakan dokter jaga di UGD langsung mengamati hasil rongent tersebut.

“Saat itu datang terdakwa dan mengatakan ibu kandung terdakwa harus dirawat inap dan sudah memesan kamar VIP,”sebut korban.

Sesuai SOP, korban pun mengatakan kepada terdakwa untuk mencari obat dan memesan kamar sendiri.

”SOP nya memang keluarga pasein yang mencari kamar dan obat,”sebut saksi korban.

Namun terdakwa tidak terima dan mengambil berkas rekam medis yang kemudian digulung dan digunakan melempar korban.

Tidak puas hanya dengan melempar, terdakwa kembali menghambil berkas rekam medis dan menggulungnya lalu menampar pipi korban dengan rekam medis tersebut.

“Dia (terdakwa) marah-marah dan mengatakan, mestinya kalian yang mencarikan kamar dan obat, kalian ini pelayan,,”kata saksi korban mengutip ucapan terdakwa.

Pelakukan kurang enak yang dialami korban ini juga disaksikan tiga orang saksi yang juga kebetulan ada bersama terdakwa.

Korbanjuga mengatakan, usai kejadian keesokan harinya dia dan terdakwa sudah ada perdamaian. “Kami sudah berdamai dan ada surat perjanjian damainya,”sebut korban.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment