Divonis 15 Tahun, Terdakwa Kasus Narkoba Ajukan Banding

Denpasar/BaliNewsNetwork-Sungguh malang nasib yang dialami Iwan Kurniawan. Upaya hukum pembelaan yang diajukan melalui kuasa hukumnya, Raymond Simamora agar divonis rehabilitasi, akhirnya kandas dipalu Hakim.

Buktinya, dalam sidang, Selasa (10/4) , majelis hakim pimpinan Ida Ayu Nyoman Adnya Dewi menyatakan sependapat dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eddy Arta Wijaya.

Dimana sebelumnya, Jaksa Kejati Bali itu menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana percobaan atau pemufakatan jahat jual beli Narkotika sebarat 284 gram.

Perbuatan terdakwa malanggar Pasal 114 ayat (1) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Namun majelis hakim tidak sependapat dengan lamanya hukuman 17 tahun penjara yang dimohonkan jaksa.

Setelah mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan, akhirnya majelis hakim memangkas hukuman dari 17 tahun tuntutan jaksa menjadi 15 tahun penjara.

“Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 15 tahun,”sebut Hakim Adnya Dewi dalam amar putusnya. Pun dengan nilai tuntutan kurungan atas denda Rp 1 miliiar.

SebelumnyaJPU menyatakan apabila denda tidak dibayar diganti dengan hukuman kurungan selam 6 bulan.

Namun hakim kembali memangkas hukuman itu menjadi 3 bulan kurungan. Atas putusan itu, terdakwa melalui Rayamond Simamora yang awalnya menyatakan pikir-pikir, akhirnya mengajukan banding.

Alasanya, Raymond menyebut, ada beberapa perkara yang barang buktinya sama atau bahkan lebih banyak tapi divonis lebih ringan.

“Tadi setelah kami berbicara dengan terdakwa usai sidang, sepakat untuk mengajukan banding,”sebut pengacara berdarah Batak itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 17 tahun.

Selain hukuman penjara Jaksa Eddy Artha juga menuntut terdakwa dengan hukuman denda sebesar Rp 1,5 miliar, subsider enam (6) bulan kurungan.

Di hadapan majelis hakim pimpinan IA Nyoman Adnya Dewi, JPU menilai terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana narkotika jenis shabu percobaan atau pemufakatan jahat dengan barang bukti seberat 1/4 kg lebih atau tepatnya seberat 284 gram brutto atau 282,53 gram netto.

Sementara sebagaimana dalam dakwaan JPU menyebutkan, kasus ini bermula dari tertangkapnya Samsuri (terdakwa dalam berkas terpisah) oleh petugas Derektorat Narkoba Polda Bali, pada (25/8) tahun lalu di Terminal Mengwi, Badung.

Saat itu Samsuri turun dari Bus Bali Trans rute perjalanan Jawa-Bali. Polisi yang sudah menerima informasi tersebut langsung melakukan pemeriksaan dan menggeledah Samsuri.

Di tas punggungnya ditemukan plastik berisi kristal bening sabu-sabu seberat 284 gram brutto atau 282,53 gram netto dibungkus dengan kertas koran.

Saat dilakukan interogasi, Samsuri mengaku barang tersebut didapatnya dari seorang bernama Alex yang ada di Surabaya.

“Rencananya sabu itu akan diserahkan kepada seseorang di Denpasar,”kata JPU.

Samsuri diberi upah Rp 5.000.000 dan ongkos jalan sebesar Rp 500.000. Pengakuan Samsuri inilah terbongkar jaringan penyelundupan narkotika lintas pulau.

Yaknidengan “pola control delivery”, salah satunya terdakwa Iwan. Polisi meminta Samsuri menghubungi terdakwa Iwan melalui HP untuk bertemu di Toko Indomaret Ubung.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment