Semalam di Sape Bersama Empat Warga SBD

Mikhael Geru Kaka. BNN, RSN

Penyeberangan dari Sape di ujung timur Pulau Sumbawa, NTB ke Labuan Bajo, di ujung barat Pulau Flores, NTT membutuhkan waktu 7 jam. Daripada bengong menunggu kapan tiba, saya menghabiskan perjalanan ini di dalam kamar seorang masinis kapal fery Cakalang untuk menuangkan kisah perkenalanku dengan empat lelaki dari Sumba Barat Daya, semalam. (Rahman Sabon Nama)

Sabtu, 17 Maret malam, saya menghabiskan Hari Raya Nyepi, di depan loby losmen Mutiara, Sape, Kabupaten Bima. NTB. Malam beranjak, hanya terdengar suara bising deru kenalpot sepeda motor yang dikendarai anak muda  lalu lalang dari dan ke pelabuhan penyeberangan Sape.

Seorang lelaki setengan baya datang ke toko, persis di samping saya duduk. Dia mengenakan sarung, memaki topi cowboy dan tanpa alas kaki. Bibirnya memerah,mulutnya sedang mengunyah sesuatu.

Kepada pemilik losmen yang juga pemilik toko,  dia bernaksud membeli kartu remi.

“Wah di sini gak ada yang jual karena pembelinya harus membawa copy KTP dan KK. Ribet, makanya orang malas jual,” kata si pemilik toko.

Karena jawaban itu menarik, saya akhirnya ikut nimbrung. Saya bertanya kenapa pembeli kartu remi harus menyerahkan copy KTP dan KK. Ternyata memang ada aturan begitu. Tujuannya guna menghindari salah satu penyakit sosial ini di masyarakat.

Saya kemudian mengajak ngobrol lelaki bibir merah tadi. Dia menyorongkan tangan memperkenalkan diri. Bahasa Indonesanya “belepotan”. Butuh jedah beberapa detik baru saya menangkap maksudya.

“Saya dari Sumba,“ ucapnya.

“Ya saya tahu karena bibirmu merah, kamu makan sirih pinang kan? Makanya saya anak ngobrol,” kataku sambil tertawa.

Kemudian perkenalkan nama dan asal saya dari Flores Timur. Mungkin karena merasa ada kedekatan seasal, NTT, dia menggeser tempat duduknya mendekati saya dan banyak bertanya tentang saya.

Selanjutnya saya balik bertanya, beli kartu remi untuk apa?

“Sekedar main-main, menghabiskan waktu sambil nunggu besok pagi ke Dompu,” jawabnya, sedikit senyum.

Semula saya menduga, dia mengunjungi anaknya yang sedang sekolah di Dompu.

“Bukan pak, kami lima orang kerja di Dompu, yang lainnya ada di pelabuhan. Kami masih nunggu anak saya dari Labuan Bajo besok baru sama-sama ke Dompu. Kami kerja di kebun jagung di Taropang,Dompu, sebagai tukang petik dan kupas jagung,” jawabnya lagi.

Saya meyakinkan dia bahwa kerja apa saja yang penting halal dan bisa menghidupi anak-istri.

“Tidak perlu malu kamu jadi kuli di tanah orang. Saya bangga, meski tetap kuli di tanah orang. Tapi tujuan kamu kan mencari penghasilan yang lebih daripada yang kamu peroleh di Sumba,” kataku, sedikit menasihati.

Nama lengkapnya Mikhael Geru Kaka (41). Asal Desa Watuwona, Kecamatan Pondok Kodi, Kabupaten SBD. Pendidikannya hanya sampai kelas 2 SMAN 1 Kodi, SBD. Tak heran, sehari-harinya dia hanyalah seorang petani. Di sela menunggu musim tanam, dia menghabiskan waktunya selama 3 bulan di Desa, Taropang, Kabupaten Dompu, Sumbawa, NTB, sebagai buruh petik dan kupas jagung. Dia memang harus bekerja keras karena punya 8 orang enak yang butuh biaya hidup, pendidikan, kesehatan dan lainnya.

Pekerjaannya sebagai buruh petik dan kupas jagung ini sudah dilakoninya sejak 4 tahun lalu. Itu berawal dari temannya warga Dompu saat mereka sama-sama bekerja sebagai buruh bangunan di pelabuhan Labuan Bajo, Flores Barat.

Temannya ini becerita, di Dompu banyak membutuhkan buruh petik dan kupas jagung dengan gaji Rp 2,5 per hektar. Makan, kopi, rokok sehari-hari dan penginapan ditanggung pemilik kebun. Karena tawaran ini menggiurkan, dia kemudian berhitung soal untung – rugi beralih profesi sebagai buruh petik dan kupass jagung.

“Kalau 1 hektar dikerjakan 5 orang dan selesai dalan 5 hari, Rp 2,5 juta dibagi berlima maka satu orang dapat Rp 500 ribu atau satu orang dapat Rp 100 ribu per hari. Itu bersih pak. Padahal jadi buruh bangunan dapat Rp 70 ribu per hari, makan tanggung sendiri. Akhirnya saya putuskan keluar. Saya ke Sumba ajak 4 orang lagi dan langsung berangkat ke Dompu. Ternyata bisa, kami 5 orang bisa kerjakan kebun jagung 1 hektar dalam wakru 5 hari. Mulai dari petik, kupas, pisahkan biji lalu masukan ke dalam karung dan bantu angkat waktu dijual,” ceritra Mikhael Geru Kaka yang punya anak 8 orang.

Dia melanjutkan, selama 3 bulan musin panen jagung, rata-rata mereka bisa mendapat penghasilan Rp 9 juta per orang.

“Kalau dipotong beli pulsa buat telepon istri – anak dan kebutuhan lain selama 3 bulan, kami bisa dapat bersih Rp 8,5 juta, pak,” ucapnya dengan raut muka berseri.

Mikhel-begitu Mikhael Geru Kaka dipanggil, kemudian mengkonversi sendiri dengan ongkos fery dari Sumba ke Sape dan ongkos bus dari Sape ke Dompu termasuk makan, sekitar Rp 300 ribu atau Rp 600 ribu PP.

“Kami bisa bawa pulang ke Sumba sekitar Rp 8 juta,” aku Mikhel.

Pengakuan yang jujur dari Mikhel Geru Kaka membuat saya angkat jempol.

Dari kiri; Lukas, Lasarus, Okta san Mikhel

“Kamu hebat. Saya suka kamu, kamu pintar cari duit. Apalagi anakmu 8 orang. Kamu tidak boleh malu, walaupun sebaga buruh petik jagung. Mana temanmu yang lain. Ayo kita ke sana, saya mau kita ngobrol sama mereka,” kataku sambil mengajak dia ke pelabuhan.

Di sinilah baru saya tahu, kenapa Mikhel bertelanjang kaki. Ternyata ketika masuk toko, dia lepas sandalnya.

Di areal pelabuhan, saya menunggu di sebuah warung, sementara Mikhel memanggil 3 teman lainnya.

Dia membawa Lukas Lelu Kanda (38), Lasarus Loge Dendo (32) dan Okavianus Yengo Bani  yang usianya,  menurut saya, belum pantas bekerja, apalagi kerja kasar seperti ini. Celakanya, Oktavianus yang tidak tamat SD ini adalah putra pertama dari Lukas. Ketiga orang ini juga srmuanya bibir merah, memah siri pinang.

Seperti Mikhel, Lukas juga punya banyak anak. “Anak saya 7 orang, pak. Nomor 6 dan 7 kembar,” ujarnya, bangga. “Okta sudah besar makanya saya ajak kerja,” lanjutnya. Sementara Lasarus mengaku “baru” punya 2 anak.

Di SBD, kebun mereka hanya ditanami jagung, ubi kayu dan yanaman laham kering lainnya. Lalu bagaimana “nasib” kebun mereka di Sumba?

“Tenang bapa, Kami sudah berrsihkan semua, nanti kami pulang tinggal tanam sa,” ujar Mikhel, kental logat khas NTT.

Loh istri kalian tidak kerja? “Tidak bapa. Mereka tenun. Bikin kain Sumba, bapa,” sambung Lukas.

Ada yang menarik dari pengakuan Mikhel. Dikatakan, di Sumba, kalau biaya sekokah anak tidak ada uang, tapi kalau biaya adat pasti ada uang. Apapun caranya harus ada uang,” ucap Mikhel. Tak lupa dia mengajak saya meliput upacara adat di kampungnya pada bulan Februari tahun depan.

Semula saya menawarkan kepada mereka ngopi bareng saya. Namun Mikhel dengan polosnya menjawab, “Kami sudah minum kopi pak. Kalo boleh kami makan sa”. Saya mempersilahkan pemilik warung mnghidangkan 4 piring nasi campur lengkap dengan 4 botol aqua tanggung.

Kami ngobrol sampai jam 13.30, saya kembali ke loamen, tidur di kamar ber-AC seharga hanya Rp 160.000 / malam. Sangat murah, memang. Saya bisa tidur nyenyak,tapi mereka tentu tidak begitu nyenyak  Maklum. mereka menghabiskan malam di emperan pelabuhan hanya beralaskan kardus bekas, berbantal tas kumal yang di dalamnya berisi pakaian mereka.

Itulah sekelumt kisah perjuangan hidup seorang lelaki SBD bernama Mikhel Geru Kaka dan kawan-kawannya. Tapi justru dari kisah inilah Mikhel menginspirasi para lelaki SBD menjadi buruh petik dan kupas jagung di beberapa di desa  kabuoaten Dompu.

“Sekarang banyak orang SBD jadi buruh kebun jagung di Dompu, itu karena informasi dari saya,” tutur Mikhel, tanpa bermaksud menonjolkan diri.

Minggu pagi, ketika saya sedang membeli rokok, saya bertemu Mikhel.

“Bapa bisa bantu saya 25 ribu ko, saya mau beli kartu?,” ucapnya, memelas.

“Haaa?.Kamu mau main remi?. Kan sudah dibilang tidak ada yang jual,” hardik saya.

“Bukan bapa, kartu perdana,” balasanya, masih dengan memelas. Barulah saya paham.

Tetapi “perilaku” Mikhel ini mengingatkan saya pada ceritra seorang teman sesama NTT di Bali. Suatu hari dia minta bantuan dua pemuda Sumba untuk membersihkan villanya, selama sepekan. Dia membayar DP 3 hari dan sisanya dibayar setelah kerja selesai. Besoknya, setelah sehari kerja, mereka malah minta dilunasi dengan alasan untuk kirim ke orang tua mereka di Sumba.

“Sudah, ade berhenti saja e. Yang saya sudah DP anggap saja kamu dapat rezeki dari saya,” kata teman saya, mengulang keputusannya tidak lagi memakai mereka.

Mikhel dan saya

Niat baik kadang dimanfaatkan untuk kepentingan lain tanpa melihat hubungan jangka panjang atau bahkan bisa menjadi korban penipuan. Siapa yang menjamin mereka tidak akan kabur setelah dibayar full padahal mereka baru sehari kerja?

Ini berbeda dengan apa yang saya alami. Ketika fery Cakalang hendak meninggalkan pelabuahan Sape, sebuah nomor tanpa nama masuk di HP saya. Dari seberang sana, terdengar suara seorang pria dengan logat khas NTT. Bahasanya “belepotan”, apalagi ditelepon saat saya tengah menyelesaikan kisah ini, membuat saya sedikit jengkel. Dia menyebut namanya, menyampaikan terima kasih dan meminta saya menyimpan nomornya yang barusan dibeli.

Hemmm…., ternyata kaka Mikhael Geru Kaka. Mungkin kamu tak pernah membaca kisahmu ini karena handphone jadul warna merah milikmu tak mendukung aplikasi di dunia maya yang kini lagi ngetrend, mulai  dari anak-anak hingga kakek – nenek. Tapi kamu telah menginspirasi banyak kelaki SBD untuk memilih jalan seperti kamu. Sekalipun dari sisi profesi, bagi banyak orang tidak membanggakan.Yang kalian butuhkan adalah penghasilan lebih agar bisa menghidupi anak-istri di SBD.

Satu hal yang “telat” dilakukan Mikhel dan Lukas adalah mengendalikan jumlah anak. Karenanya mereka bertiga saya sarankan stop “produksi” anak.

“Ya bapa, kami punya istri sudah balik rahim,” ujar Mikhel sambil tersenyum, begitu juga Lukas.

Nah kali ini jujur saya tidak mengerti, bagaimana caranya balik rahim wanita agar tidak hamil. Giliran saya yang bingung. Saya jadi tertantang ke Sumba Barat Daya sekakigus menyaksikan upacara adat seperti diceritakan Mikhel.***

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment