Organisasi Profesi Advokat akan Bentuk Dewan Kehormatan Bersama

Para peserta PKPA foto bareng usai penutupan. BNN/IST

Denpasar/BakiNewsNetwork.Com-Belajar dari kasus mantan penasihat hukum Setya Novanto, Fredric Yunadi, pengurus berbagai organisasi advokat di Jakarta merencanakan mebentuk dewan kehornatan advokat bersama guna mengadili para advokat yang diduga terlibat pelanggaran kode etik ketika menjalankan profesinya.

Hal itu dikatakan Wakil Ketua Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (DPN Peradi) Harry Pontoh, SH., LLM di Denpasar, Sabtu (24/02/2018), usai menutup Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPU) yang digelar DPC Denpasar Peradi pimpinan I Wayan Purwitha, SH. MH.

Menurut Hary Pontoh, selain berpegang pada Undang-Undang Advokat, seseorang yang menjalankan profesi advokat harus berlandaskan etika dan etika ini berkaitan dengan hati nurani.

“Kita tidak boleh membela seseorang jika tidak ada dasar hukumnya, kita tidak boleh membela seseorang jika bertentangan dengan hati nurani,” kata Harry.

Disebutkan, tujuan dibentuk dewan kehormatan advokat bersama ini agar seseorang pengacara yang diduga menyalahi kode etik tidak perlu mencari pelindungan ke mana-ke mana.

“Biar tidak lari-lari, tidak puas di sini, pindah ke sana. Biar organisasinya berbeda tetapi kalau sudah ada satu dewan kehormatan, maka menjadi jelas,” tegasnya.

Sementara itu, menyinggung kelanjutan PKPA ini Harry Pontoh mengatakan, para peserta nantinya mengikuti tahapan berikutnya yakni ujian profesi advokat pada bulan Juni 2018

“Lulus dari ujian barulah mereka mengikuti magang selama 2 tahun. Mungkin saat ini ada yang sudah magang, setelah itu barulah dilantik dan diambil sumpahnya sebagai advokat,” tukas Harry.

Pada kesempatan itu Dekan Fakultas Hukum Universitas Udayana Prof. Dr. I Made Arya Utama meminta para calon advokat baru nantinya dapat menjalankan profesinya secara bertanggungjawab.

Ketua DPC Denpasar Peradi I Wayan Purwitha menambahkan, PKPA selama 1 bulan lebih ini awalnya diikuti sebanyak 36 orang, namun membengkak menjadi 43 orang.

Wayan Sutita, SH, seorang staf BPN Badung yang akan pensiun pada bulan Agustus 2018 mengatakan sangat terkesan dengan PKPA ini.

“Banyak ilmu baru saya diperoleh selama pendidikan ini,” ungkapnya.

Sutita juga berpesan kepada teman-temnnya, “kalau menjadi advokat jadilah advokat yang benar, jangan menghalalkan segala cara”. (rsn)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment