Dituntut Penjara Seumur Hidup, Willy, Budi Liman dan Iskandar Halim Minta Dibebaskan

Abdul Rahman Willy, Iskandar Halim dan Budi Liman Santoso (BNN/dok)

Denpasar/BaliNewsNetwork-Setelah dituntut penjara seumur hidup atas kasus dugaan pemufakatan jahat jual beli 19.000 butir pil ekstasi, tim kuasa hukum Abdul Rahman Willy alias Willy bin NG Leng Kong yang dimotori Robert Khuana akhirnya mengajukan pembelaan/pledoi, Kamis (22/2).

Inti dari pembelaan yang diajukan dimuka sidang pimpinan Hakim Made Pasek itu adalah meminta Willy dibebaskan dari semua tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Dalam pembelaan yang disampaikan, Robert Khuana menilai, tuntutan penjara seumur hidup terhadap Willy sarat dengan muatan intervensi.

“Intervensi dari pihak luar itu ada, tapi saya tidak bisa sebutkan,”sebut Robert Khuana. Tak hanya itu, Robert juga menyebut bahwa kasus yang menjerat klienya itu merupakan rekayasa.

Menarikanya, pengacara senior ini malah mengatakan, dalam kasus ini sejatinya yang menjadi target utama bukanlah Willy melainkan orang lain yang statusnya diatas Willy.

“Saksi ahli sendiri mengatakan ini rekayasa karena tidak masuk dalam katagori undercover maupun control delivery. Intinya rekayasa dibuat agar Willy dijadikan tersangkan, mungkin saja targetnya orang lain tapi saya tidak mau sebut namanya,”ungkap Robert Khuana.

Robert Khuana (BNN/pro)

Robert juga mengatakan, sejumlah kejanggalan sudah mulai terlihat sejak penangkapan, penyidikan hingga proses pelimpahan.

Soal penangkapan, Robert menyebut kasus ini tidak termasuk dalam klasifikasi tertangkap tangan, undercover buying maupun control delivery.

“Kalau control delivery yang melakukan itu polisi tidak menggunakan tangan orang lain. Kalau tangan orang lain dipakai, dalam kasus ini adalah Budi Liman (terdakwa dalam berkas terpisah) itu si Budi Liman harus ada jaminan dari polisi dan tidak harus dipidana,”katanya.

Selain itu, jika melakukan control delivery, barang yang digunakan juga harus legal yang bersumber dari kepolisian sendiri.

“Namun yang terjadi dalam kasus ini barang yang dipakai merupakan barang yang disita dari tangan Dedy Setiawan (terdakwa dalam berkas terpisah),”bebernya.

Dengan alasan terebut, diakhir pembelaanya Robert Khuana memohon kepada majelis hakim untuk membebaskan Willy dari segala tuntutan JPU. Atas hal itu, Hakim Made Pasek lalu menanyakan kepada JPU apakah akan menganggapinya.

NamunJPU Dewa Lanang Raharja mengatakan menanggapi pledoi secara lisan.”Kami tetap pada tuntutan,”jawab Jaksa Kejari Denpasar itu.

Sama halnya dengan dua terdakwa lain yaitu Iskandar Halim dan Budi Liman Santoso. Melalui kuasa hukumnya masing-masing, menyatakan kasus yang menimpanya adalah rekayasa semata.

Untuk itu, mereka pun memohon agar majelis hakim yang menyidangkan perkara ini memebaskan para terdakwa dari segala tuntutan JPU.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment