Maki Petugas Farmasi RSUD Larantuka, Keluarga Pasien Berdamai di Polres Flotim

Kepala Instalasi Farmasi Ina Suban Elisabet dan Kepala Seksi Informasi dan Pengembangan SDM Stefanus Lamablawa saat memberi keterangan pers di RSUD Dr. Fernandez Larantuka. BNN/Eman Niron.

Larantuka/BaliNewsnetwork.com-Nasib apes dialami oleh Ny. VL, warga Kelurahan Sarotari, Kecamatan Larantuka pada Jumat (19/1) ketika hendak membawa bayinya pulang  ke rumah setelah dirawat  di ruangan perawatan anak  RSUD Dr. Hendrikus Fernandez Larantuka. VL  malah berurusan dengan Polres Flores Timur akibat memaki AOW, salah seorang staf Instalasi Farmasi RSUD Hendrikus Fernadez Larantuka.

Merasa dilecehkan oleh VL, AOW lantas mengikutinya ke ruangan tempat perawatan anak dan menasihatinya untuk tidak harus mengeluarkan kata makian.

Tak sampai di situ, AOW yang iklas mendapat kritikan akibat lambannya pelayanan mereka di ruangan farmasi tersebut lantas melaporkan VL ke Polres Flotim.  Aparat tim Polres Flotim pun bergegas menuju RSUD guna mengambil keterangan kepada pelaku, VL. Sayang VL telah kembali ke rumahnya dan urusan selanjutnya pun berakhir damai di Polres keesokan harinya. VL pun kembali lagi ke ruangan farmasi  menyampaikan permohonan maafnya kepada semua petugas farmasi.

Kepala Seksi Informasi dan Pengembangan SDM RSUD Larantuka Stefanus Lamabelawa  yang dikonfirmasi, Senin (22/1)  membenarkan kejadian tersebut. Walau mengaku pihak managemen RSUD  terlambat mendapat laporan tentang  percecokan antara keluarga pasien dengan salah seorang staf farmasi  tersebut, namun pihak managemen langsung menggelar rapat koordinasi  pada Senin (22/1) untuk mengurai akar persoalan itu.

“Tadi kami menggelar rapat untuk mengurai aneka keluhan yang berkaitan dengan pelayanan di RSUD ini. Terkait kasus ini, jujur, karena tidak dilaporkan ke kami, makanya kami pun terlambat menyikapi. Namun karena staf farmasi tersebut  mengambil urusan secara pribadi maka kami membiarkannya. Namun semuanya telah diselesaikan. Keduanya telah berdamai di kantor polisi dan pelaku telah datang menyampaikan permohonan maafnya kepada staf di ruangan farmasi,” papar Stefanus sembari  menandaskan pihak managemen RSUD  senantiasa terbuka terhadap kritik dan saran dari masyarakat terkait pelayanan kesehatan di RSUD Larantuk itu.

Intalasi Farmasi RSUD Larantuka

Sementara itu Kepala Instalasi Farmasi,  Ina Suban Elisabet  menguraikan, peristiwa  luapan kemarahan ibu dari  bayi yang telah direkomendasikan untuk pulang ke rumah tersebut  terpicuh oleh  perintah membawa obat sisa  perawatan anaknnya itu ke ruangan farmasi untuk dihitung.

Sebelumnya, suaminya  telah membawa resep ke ruangan farmasi, namun karena staf di ruangan perawatan anak tidak  menyertakan dengan pengembalian obat sisa, maka staf di ruangan farmasi lalu mengarahkan agar obat sisa tersebut dibawa ke ruangan farmasi.

“Kemungkinan kesal dengan kondisi itu, kenapa tidak satu kali  jalan ketika suaminya membawa resep itu? Karena bayinya telah direkomendasikan untuk pulang, maka konsentrasinya adalah untuk pulang. Ya…, kelemahan kami juga, karena teman-teman di ruangan perawatan anak  tidak serta merta mencantum semuanya itu. Kemungkinan dia kesal dengan kondisi itu apalagi ketika tiba di ruangan farmasi, dirinya terlibat perang mulut dengan suaminya karena lama menunggu. Suaminya bahkan menurut informasi, sempat memukulnya. Karena kondisi tersebut, dia lalu meluapkan kekesalannya pada petugas kami. Hanya saja diikuti dengan kata atau kalimat makian,” tutur  Ina Suban.

Sedangkan berkaitan dengan lamanya waktu tunggu pelayanan obat bagi pasien yang telah dinyatakan untuk pulang, berdasarkan SOP RSUD pasca akreditasi, pihak farmasi harus menghitung seluruh obat yang terpakai  dan sisanya, serta memberikan obat  berdsarkan resep dokter. Karena harus hitung semua perbekalan itu, maka membutuhkan waktu yang agak lama, tidak seperti sebelumnya.

Untuk obat sediaan jadi, menurut Ina Suban Elisabeth membutuhkan waktu 30 menit, sedangkan obat sediaan racikan bisa mencapai 60 menit untuk waktu menunggu. Belum terhitung dengan menghitung nilai obat-obat tersebut. Oleh karena itu, dalam rapat koordinasi tersebut,sebagaimana yang dijelaskan Stefanus Lamabelawa, pihak RSUD telah menyepakati untuk  meminimalisir waktu tunggu pelayanan di ruang farmasi dengan mengatur waktu visit dokter kepada pasien di rawat inap plus memacu kedisiplinan para dokter.

“Kami telah sepakati waktu visit dokter bagi pasien rawap inap dimulai pada pukul 07.30 -09.00 Wita dan tidak memperbolehkan dokter untuk melakukan visit pada jam besuk pasien. Hal ini penting agar sirkulasi pelayanan obat bagi pasien rawat inap tidak bertumpuk bersamaan dengan pelayanan obat bagi pasien rawat jalan. Kita harus memperbaiki ini agar baik pasien maupun keluarga tidak terlalu lama menunggu pelayanan obat di farmasi (apotik). Kami telah menyepakati itu tadi dalam rapat koordinasi kami,” tegas Stefanus Lamabelawa. (Emnir)

Editor: Rahman Sabon Nama

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment