Minim Bukti, Gugatan Terhadap Mantan Komisaris PT. GBI Kandas

Ilustrasi (bnn/net)

Denpasar/BaliNewsNetwork-Upaya hukum yang ditempuh Dudy Riswan dengan menggugat mantan Komisaris Utama PT. Great Balloon Investmen (GBI) Kim Jung Sung karena merasa dirugikan saat terjadinya jual beli saham di PT. GBI akhirnya kandas.

Pasalnya, majelis hakim PN Denpasar pimpinan Agus Waludjo menyatakan gugatan tidak dapat diterima karena cacat formil (NO). Hal ini juga dibenarkan oleh kuasa hukum tergugat, Lukas Banu yang ditemui di Denpasar, Kamis (10/1).

Menurut Lukas, gugatan ditolak karena penggugat tidak mampu membuktikan dalil-dalil yang diajukan.”Mereka (penggugat) mengajukan gugatan, tapi tidak bisa membuktikan,”sebut Lukas Banu.

Seperti diketahui, Dudy Riswan mengajukan gugatan terhadap Kim Jung Sung karena menilai akta jual beli saham di PT. GBI cacat hukum karena saat pembuatan akta jual beli ada unsur paksaan dan desakan. Dengan alasan itu, Dudy Riswan mengugatan Kim Jung Sun sebesar Rp 48 millir.

Dalam gugatan yang diajukan terungkap ada dua hal pokok yang menjadi dasar gugutan. Yang pertama penggugat mengajukan gugatan dengan alasan akta jual beli saham atas PT. Great Balloon dan Global Bridge Investment Property cacat hukum karena saat pembuatan akta ada unsur paksaan dan desakan.

Kedua, penggugat menyatakan akta jual beli itu cacat hukum karena PT. Great Ballon Investment dan Global Bridge Investment Property ternyata tidak memiliki asset.

Atas gugatan itu, terunggugat melawan. Melalui kuasa Kim Jung Sun membatah bila pembuatan akta tahun 2011 itu dilakukan atas dasar paksaan. “Di persidangan sudah kami tunjukan bukti dan saksi bahwa dalam pembuatan akta itu tidak ada unsur paksaan dan tekanan,”sebut Lukas Banu.

Sementara terkait gugatan penggugat yang menyebut bahwa PT. Great Balloon dan Global Bridge Investment Property tidak miliki asset, juga dibantah. Menurut Lukas Banu, saat pembuatan akta jual beli saham, kedua PT tersebut masih memiliki asset.

Dikatakan Lukas Banu, asset kedua PT tersebut berupa hak sewa tanah yang saat ini berdiri hotel Wiyndham di Kuta. “Hak sewa mulai dari dari 2006 sampai 2016 , sedangkan akta jual beli dibuat tahun2011. Jadi jelas sudah bahwa kedua PT ini memiliki asset,”tandasnya.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment