Bunuh Pasutri Asal Jepang,  Astawa Terancam 15 Tahun Penjara

Terdakwa I Putu Astawa (bnn/pro)

Denpasar/BaliNewsNetwork-Sidang kasus pembunuhan pasangan suami-istri (pasutri) asal Jepang dengan terdakwa I Putu Astawa, Selasa (9/1) digelar. Sidang pimpinan Hakim I Wayan Sukanila ini dengan agenda pembacaan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Putu Darmawan dan Kadek Wahyudi yang dilanjutkan dengan memeriksa satu orang saksi.

Terdakwa dalam menghadapi perkara ini didampingi pengacara Ketut Bakuh dkk. Sementara dalam dakwaan JPU yang dibacakan di muka sidang terungkap, kasus yang menjerat terdakwa yang tinggal di Perum Mekar Blok D, Pamogan ini terjadi pada tanggal 3 September 2017 sekitar pukul 08.30 Wita.

Pada waktu tersebut, terdakwa melihat pintu gerbang rumah korban, Matsuba Hiroko (70) dan Matsuba Norio (73) di Jln. Puri Gading II Blok F No. 6 dalam keadaan terbuka.

Malihat itu terdakwa langsung masuk dan menuju teres. Di teras ini terdakwa melihat sebuah pisau. “Terdakwa mengambil pisau itu dan menyimpanya di saku celana sebelah kanan,”ungkap JPU.

Kemudian terdakwa ke belakang rumah terdakwa mengambil tali rafia. Setelah itu langsung naik ke lantai dua. Terdakwa melihat pintu salah satu kamar terbuka. Dan di dalam kamar itu ada korban Matsuba Hiroko berdiri sambil menenteng sebuah tas.

Tanpa pikir panjang terdakwa langsung menarik tas tersebut. Karena korban melawan, terdakwa lalu mendorong korban hingga terjatuh di lantai.

Saat korban terjatuh, terdakwa mengambil pisau yang dibawanya dari teras tadi dan langsung menusuk leher sebelah kiri dan kanan kobar sebanyak kurang lebih tiga kali.

“Lalu terdakwa kembali menusuk perut korban sebanyak dua kali,”sebut JPU dalam dakwaan. “Kemudian terdakwa menjerat leher korban dengan tali rafia yang dibawanya dengan tujuan agar korban benar-benar sudah tewas,”lanjutnya.

Tidak lama kemudian, terdakwa mendengar suara langkah kaki menaiki tangga. Terdakwa langsung bersembunyi dibalik pintu. Langkah kaki tersebut ternyata langkah kaki korban Matsuba Norio.

Takut aksinya diketahui, terdakwa pun langsung menghabisi nyawa Norio dengan menusuk dan menggorok lehernya.

“Untuk memastikan Norio sudah meninggal, terdakwa kembali menusuk pinggang Norio sebanyak dua kali,”kata jaksa Kejari Denpasar ini. Sekitar pukul 14.30 terdakwa pergi meninggalkan korban dengan mengendarai mobil korban menuju kedaerah Munggu.

Sampai di Munggu, terdakwa membeli bensin eceran dengan maksud membakar rumah dan mayat korban dengan tujuan menghilangkan bukti.”Setelah membeli bensin terdakwa kembali menuju ke arah Jimbaran,”tegas jaksa.

Sampai di Jimbaran, sebelum menuju ke rumah korban terdakwa membeli dua bungkus dupa dan tiga pak korek api kayu. Sekitar pukul 19.00 Wita terdakwa tiba di rumah korban, masuk dan langsung menuangkan tiga botol bensin ke dalam dua kamar tidur di lantai dua, sofa dilantai bawa dan di garasi mobil.

“Saat itu terdakwa juga membuka penutup tangki mobil dengan harapan bisa tersambar api,”ungkap jaksa.

Setelah itu terdakwa mengikat tujuah buah dupa dengan korek api kayu dan meletakan diatas jasat korban dan dibeberapa tempat yang sudah disirami bensin.

Sebelum meninggalkan rumah korban, terdakwa kembali naik ke lantai dua dan mengambil tas korban yang didalamnya berisi uang sebanyak 110.000 yen, dua buah HP merk Asus dan sebuah dompet. Sekitar pukul 22.00 terdakwa pergi meninggalkan rumah korban dengan cara memanjat pangar tembok.

Terdakwa sendiri bisa diadili setelah setelah orang tuanya dan istrinya mengatahui perbutan terdakwa. Pada tanggal 18 Septeber 2017 terdakwa menyerahkan diri ke Pos Polisi di Pemogan, Denpasar.

Akibat perbuatanya, JPU menjerat terdakwa dengan dua pasal berlapis. Yaitu Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan Pasal 365 Ayat (3) KUHP tentang tindak pidana pencurian dengan pemberatan. Terdakwa pun terancam hukuman masimal 15 tahun penjara.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment