Ikut Menikmati Uang Hasil Kejahatan,  Gadis 19 Tahun Asal Banyuwangi Divonis 10 Bulan Penjara

Terdakwa (pling kiri)  didampingi tim kuasa hukumnya (bnn/dok)

Denpasar/BaliNewsNetwork-Dewi Fortuna nampaknya masih berpihak pada gadis 19 tahun asal Banyuwangi bernama Siti Fatimah. Sebab, meski dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana penggelapan bersama dua rekanya, dia hanya divonis 10 bulan penjara.

Ini terungkap dalam sidang, Senin (8/1) di PN Denpasar yang mengagendakan pembacaan putusan dari majelis hakim pimpinan Estar Oktavi. Dalam sidang, majelis hakim dalam amar putusanya menyatakan sependapat dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ni Ketut Hevy Yusantini yang menyatakan terdakwa terbukti melakukan tindak pidana penggelapan.

Namun majelis hakim tidak sependapat dengan lanya hukuman yang dimohonkan oleh jaksa Kejari Denpasar itu yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 1,5 tahun. Setelah mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringakan, Hakim Estar Oktavi akhirnya menjatuhkan vonis 10 bulan penjara.

“Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 10 bulan, “demikian vonis hakim yang dibacakan dihadapan terdakwa, jaksa dan tim kuasa hukum terdakwa.

Terdakwa Siti Fatimah bersama salah satu kuasa hukumnya (bnn/pro)

Diketahui, putusan untuk terdakwa Siti Fatimah ini lebih ringan dibanding putusan untuk kedua rekanya. Dimana pada sidang sebelumnya, kedua rekanya yang bernama Resti Perdani Putri dan Wulandari yang sebelumnya juga dituntut 1,5 tahun akhirnya divonis 1 tahun dan 4 bulan penjara.

Perbuatan terdakwa melanggar Pasal Pasal 374 jo Pasal 64 ayat (1) jo Pasal 55 ayat (1) KUHP. Atas putusan ini, terdakwa melalui tim kuasa hukumnya, Charlie Yustus Usfunan, I Dewa Ketut Gede Kartawiguna dan I Dewa Ayu Dwiyanti menyatakan menerima.”Kami menerima putusan ini yang mulia, “tegas Dewa Ayu Dwiyanti di muka sidang.

Seperti diberitakan sebelumnya, perbuatan yang dlakukan terdakwa bersama dua rekannya itu terjadi antara bulan Januari 2017 hingga Mei 2017 di toko Girly Shop di Jln. Raya Canggu, Badung. Tugas terdakwa dan Wulandari adalah, bersih-bersih, SPG, melayani perjualan, mengimput data penjualan, mencatat transaksi dan masih banyak lagi.

Nantinya, hasil penjualan toko tersebut dilaporkan kepada pemiliknya yang bernama Putu Ayu Dewi Antasari. Diketahui toko terbut menjual berbagai macam kosmetik, serta boneka. Nah, kasus ini terungkap saat dilakukan penghitungan hasil penjualan antara bulan Januari 2017 hingga Mei 2017 oleh Resti Perdani Putri dan Wulandari dan juga terdakwa.

Seharusnya hasil penghitungan tersebut seluruhnya diserahkan kepada pemilik toko. Namun, tanpa seizin pemilik toko, ketiga terdakwa memotong hasil penjualan dan hanya menyerahkan setengahnya kepada pemilik toko. Sedangkan setengah dari uang yang dipotong itu dibagi tiga.

Perbuatan ketiga terdakwa ini terungkap saat pemilik toko merasa curiga karena hasil penjualan yang semakin menurun. Karena curiga lalu lakukan audit dan pencocokan antara buku manual penjualan dengan data penjualan di komputer.

Hasilnya, ada selisih hasil perjualan. Setalah ditanyakan kepada Resti Perdani dan Wulandari terkait adanya perbedaan antara buku catatan manual dengan data yang ada di komputer, keduanya mengaku hanya menyetor sebagian uang hasil penjualan. Sedangkan sebagain lagi dibagi tiga.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment