Kasus Penggelapan-Ikut Menikmati Rp 1 Juta,  Gadis 19 Tahun Asal Banyuwangi Dituntut 1,5 Tahun Penjara

Siti Fatiman (paling kiri)  didampingi tiga pengacaranya (bnn/dok)

Denpasar/BaliNewsNetwork-Nasib sial dialami wanita 19 tahun asal Banyuwangi bernama Siti Fatimah. Pasalnya, meski hanya menikmati sebagaian kecil uang dari hasil kejahatan yang dilakukan bersama dua rekanya, dia dituntut hukuman satu tahun dan senam bulan penjara.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ni Ketut Hevy Yusantini dihadapan majelis hakim PN Denpasar pimpinan Estar Oktavi menyatakan terdakwa bersama dua temanya yang bernama Resti Perdani Putri dan Wulandari terbukti melakukan tindak pidana Penggelapan.

Perbuatan para terdakwa melanggar Pasal 374 jo Pasal 64 ayat (1) jo Pasal 55 ayat (1) KUHP. “Memohon kepada majelis hakim untuk menghukum terdakwa Siti Fatimah dengan pidana penjara selama satu tahun dan enam bulab, “tagas jaksa Kejari Denpasar itu sebagaimana tertuang dalam surat tuntutanya.

Atas tuntutan itu terdakwa Siti Fatimah yang dampingi pengacara Charlie Yustus Usfunan, I Dewa Ketut Gede Kartawiguna dan I Dewa Ayu Dwiyanti tidak terima dan mengajukan pembelaan secara tertulis.

Dalam pembelaanya yang dibacakan, Rabu (20/12) pada intinya terdakwa tidak sependapat dengan tuntutan JPU. Alasanya terdakwa Siti Fatimah selama diberi uang oleh terdakwa lainya hanya mengetahui bahwa uang itu adalah uang bonus kerja.

“Jadi terdakwa memang tidak tahu kalau uang yang diberikan kepadanya itu adalah uang hasil kejahatan, “sebut Charlie.

Selain itu, kata Charlie terdakwa juga tidak banyak menikmati uang yang diberi oleh kedua terdakwa tersebut. “Dari pengakuan Siti Fatimah di muka sidang, uang yang diberi oleh dua rekanya itu selalu ditabung.

Dan setelah dihitung jumlahnya hanya Rp 1 juta saja, “ungkap Charlie.”Terdakwa juga masih sangat muda, jadi kami mohon keringanan hukuman, “imbuh Charlie.

Seperti diberitakan sebelumnya, perbuatan yang dlakukan terdakwa bersama dua rekannya itu terjadi antara bulan Januari 2017 hingga Mei 2017 di toko Girly Shop di Jln. Raya Canggu, Badung. Tugas terdakwa dan Wulandari adalah, bersih-bersih, SPG, melayani perjualan, mengimput data penjualan, mencatat transaksi dan masih banyak lagi.

Nantinya, hasil penjualan toko tersebut dilaporkan kepada pemiliknya yang bernama Putu Ayu Dewi Antasari. Diketahui toko terbut menjual berbagai macam kosmetik, serta boneka. Nah, kasus ini terungkap saat dilakukan penghitungan hasil penjualan antara bulan Januari 2017 hingga Mei 2017 oleh Resti Perdani Putri dan Wulandari dan juga terdakwa.

Seharusnya hasil penghitungan tersebut seluruhnya diserahkan kepada pemilik toko. Namun, tanpa seizin pemilik toko, ketiga terdakwa memotong hasil penjualan dan hanya menyerahkan setengahnya kepada pemilik toko.“Setengah dari uang yang dipotong itu dibagi tiga,” sebut jaksa dalam dakwaannya yang dibacakan di hadapan majelis hakim pimpinan Estar Oktavi.

Perbuatan ketiga terdakwa ini terungkap saat pemilik toko merasa curiga karena hasil penjualan yang semakin menurun.“Karena curiga lalu lakukan audit dan pencocokan antara buku manual penjualan dengan data penjualan di komputer,” sebut jaksa dari Kejari Denpasar itu.

Hasilnya, ada selisih hasil perjualan. Setalah ditanyakan kepada Resti Perdani dan Wulandari terkait adanya perbedaan antara buku catatan manual dengan data yang ada di komputer, keduanya mengaku hanya menyetor sebagian uang hasil penjualan,  Sedangkan sebagain lagi dibagi tiga dengan terdakwa.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment