STIKOM Bali Cetak Ahli Ukur Tingkat Kerusakan Gempa dan Ramalan Cuaca

Ketua STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan didampingi Kepala Pusat Kerja Sama dan Pemasaran I Made Sarjana, SE., MM menyerahkan cenderamata kepada Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah III Denpasar  M. Taufik Gunawan disaksikan  wisudawan Roni Verdiantoro dan AA Ketut Bagus Bandanagara.

Nusa Dua/balinewsnetwork.com-Prestasi spektakuler mewarnai Wisuda XXI  STIKOM Bali di BNDCC Nusa Dua, Sabatu, 16 Desember 2017. Dalam wisuda ini, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat menandatangani MoU dengan STIKOM Bali untuk mengembangkan dua buah karya cipta mahasiswa STIKOM Bali. Kedua alat tersebut yakni Itensity Meter atau alat pemgukur tingkat kerusakan bangunan akibat gempa ciptaan Anak Agung Ketut Bagus Banadanagara, dan Automatic Weather System atau alat ukur parameter cuaca ciptaan Roni Verdiantoro. Sebelumnya, kedua mahasiswa ini kerja praktek di Stasiun Geofisika Denpasar. Dari sinilah keduanya terinspirasi membuat alat tersebut yang ternyata sangat berguna bagi BMKG dan masyarakat.

Kepala BMKG Pusat Dwikorita Karnawati, Ph.D yang diwakili oleh Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisikan Wilaya III Denpasar M. Taufik Gunawan mengatakan, selama ini BMKG  memiliki Seismometer tetapi alat ini hanya bisa mencatat skala kekuatan gempa, magnitudo, lokasi dan kedalaman gempa dan mem­butuhkan waktu 5 menit untuk membaca, lalu dio­lah secara manual kemu­dian mengirim informasi gempa kepada masyar­akat.

Wisudawa ke-21 STIKOM Bali

“Tapi Intesity Meter buatan Agung ini, begitu ada gempa dia langsung kalkulasi, setelah dapat nilai perce­patan tertinggi, secara otomatis ditentu­kan skala intensitasnya berapa, lalu dikirim ke­pada masyarakat mel­alui handphone menggunakan aplikasi telegram,” kata Taufik Gunawan dalam testimoninya di depan wisudawan.

Cara kerja alat ini adalah ditempel di dinding gedung. Begitu ada gempa bumi, maka data dari sensor dibaca oleh mikrocontroler, lalu dikirim ke mikrocomput­er dalam bentuk “infor­masi jadi” dan langsung ke masyarakat melalui aplikasi telegram den­gan fitur @BMKG_EIM_ bot.

Perberdaan Intensi­ty Meter buatan Agung Bandana dan Seismome­ter sangat jauh. Secara fisik,  alat buatan Agung sangat kecil, seukuran asbak, sehingga mudah dibawa ke mana-mana. ini  Harganya juga tidak lebih dari Rp 2,7 juta. Sedangkan Seismometer, beruku­ran besar dan harganya ratusan juta rupiah.

Hasil karya Agung Bandana ini kemudian dituangkan dalam ben­tukskripsi) berjudul “Monitoring Ska­la Intensitas Gempa Bumi untuk Mengukur Tingkat Kerusakan Berbasis Rasp­berry Pi”.

Sementara Automatic Weather System buatan Roni  dilengkapi dengan  sensor, dipasang berdekatan dengan alat pengukur cuaca yang sudah ada, dan mampu menangkap “pesan” cucaca hingga radius 20 km.  Kelebihan alat ini karena AWS dilengkapi fiture untuk mengirim pesan tentang cuaca menggunakan aplikasi telegram dengan bot: @wforcast_bot.

Terhadap karya cipta mahasiswanya ini,  Ketua STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan sangat mengapreasinya. “Sebagai bentuk apresiasi itu, kami langsung meneken MoU dengan BMKG untuk pengembangan kedua alat tersebut ke depannya,” kata Dadang Hermawan.

Wisudawan ke-21 STIKOM Bali

Terkait wisuda, Dadang menjelaskan,  STIKOM Bali total mewisuda 332 orang. Terdiri dari  310 sarjana komputer (S.Kom) dan 22 ahli madya komputer (A.Md.Kom). Dari 310 sarjana komputer, 103 orang dari Prodi Sistem Komputer dan 207 orang dari Prodi Sistem Informasi, dan 22 ahli madya komputer Prodi Manajemen informatika. Dengan demikian, sejak berdiri pada 10 Agustus 2002, STIKOM Bali sudah menghasilkan 4.718 alumni, yang terdiri dari 4.072 sarjana komputer dan 645 ahli madya komputer.

Soal serapan lulusan STIKOM Bali, Dadang menyebut masa tunggu lulusan STIKOM Bali hanya 40 hari. Artinya, setelah wisuda dia hanya butuh waktu 40 hari sebelum memasuki dunia kerja, apakah membuka usah sendiri atau direkrut orang.

“Era digital menjadikan lulusan STIKOM Bali  diperlukan hampir di semua sektor. Hal itu yang menyebabkan lulusan kami relatif lebih dicari di dunia kerja dibandingkan lulusan program studi lain,” imbuh Dadang.

Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti –yang menaungi STIKOM Bali-Priof. Dr. I Made Banden, MA menambahkan, guna memenuhi tuntutan masyarakat, pihak yayasan sudah lebih dari setahun mengajukan perubahan status dari sekolah tinggi menjadi institut.

“Sebagai institut, nantinya kami bisa menambah beberapa prodi. Kami sudah usulkan namanya menjadi Institut Teknologi dan Bisnis STIKOM Bali. Nama STIKOM tidak ditinggalkan karena sudah menjadibranding tersendiri.  Mudah-mudahan SK-nya segera keluar,” ujar Bandem. (rsn)

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment