Sidang Kasus 19.000 Pil Ekstasi-Sebelum Ditangkap,  Budi Liman Mengaku Pernah Menghubungi Willy

Barang bukti 19.000 butir pil ekstasi yang diamankan polisi (bnn/dok)

Denpasar/BaliNewsNetwork-Kasus pemufakatan jahat jual beli 19.000 butir pil ektasi yang melibatkan Konsultan Marketing Akasaka Abdul Rahman Willy alias Willy, dengan terdakwa Iskandar Halim, Selasa (5/12) kembali dilanjutkan. Sidang masuk pada agenda pemeriksaan saksi mahkota (para terdakwa saling bersaksi).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kadek Wahyudi menghadirkan Budi Liman Santoso (terdakwa dalam berkas terpisah) sebagai saksi untuk terdakwa Iskandar Halim.

Di muka sidang, Budi Liman yang diketahui sebagai penghubung jual beli 19.000 pil eksktasi kepada Abdul Rahman Willy alias Willy bin Leng Kong mengaku mengenal Iskandar Halim sejak tiga tahun lalu.

Dia mengaku, awalnya dihubungi Iskandar Halim dan diminta untuk mencarikan pembeli. “Saya bilang saya usahakan,”ujarnya di muka sidang.

Ada pengakuan menarik dari Budi Liman saat ditanya kuasa hukum Iskandar, Ketut Ngastawa. Ngastawa menanyakan apakah saat dilakukan penangkapan saksi sempat menghubi Willy?

Dijawab oleh saksi, saat dilakukan penangkapan di kolam renang Hotel Sanur Paradise, terdakwa tidak menghubungi Willy.

Terdakwa malah mengatakan menghubungi Willy sebelum dilakukan penangkapan.

Sayangnya, apa yang dibicarakan terdakwa dengan Willy tidak terungkap karena Ngastawa tidak menanyakanya lebih lanjut.

Yang menarik lagi, saat salah satu hakim anggota, I Dewa Made Budi Watsara bertanya apakah saksi sebelumnya pernah menjual ekstasi kepada Willy dan dijawab saksi tidak pernah.

Atas jawaban itu hakim tidak langsung mempercayainya. Bahkan hakim berpendapat bahwa saksi sudah berbohong. “Tidak mungkin baru sekali manawarkan. Paling tidak sudah pernah lah,” kata hakim Budi Watsara.

“Tapi ya sudah, saya tidak akan memaksa, tapi saya tidak percaya dengan jawaban saksi,” lanjut hakim Budi Watsara.

Anehnya lagi, saat ditanya salah satu kuasa hukum terdakwa soal apakah saksi bersama tiga terdakwa lainnya pernah dipertemukan, saksi menjawab tidak pernah.

Padahal dalam berita acara pemeriksaan, ada bukti tertulis bahwa pernah dilakukan konfrontir oleh penyidik dan bukti itu sudah pula ditandatangani oleh saksi dan terdakwa lainya. “Saya memang menandatangi, tapi saya tidak tahu isinya apa,”ungkap saksi.

Terkait adanya konfrontir ini, juga dibantah oleh oleh terdakwa Iskandar Halim. Menurut Iskandar, dia dipaksa untuk menandatangani.

Atas hal itu, ketua majelis hakim Ida Ayu Nyoman Adnya Dewi meminta JPU menghadirkan penyidik untuk dikonfrontir dengan terdakwa.

“Pak jaksa, nanti penyidik dihadirkan dalam persidangan ya,” pinta majelis hakim.

Seperti diketahui, Iskandar Halim ditangkap tim Mabes Polri saat tiba di Hotel Sanur Paradise. Penangkapan terdakwa berawal dari ditangkapnya terdakwa Dedi Setiawan. Dimana saat Dedi Setiawan ditangkap dengan barang bukti 19.000 butir pil ekstasi, mengatakan ekstasi tersebut akan dijual dengan perantara Iskandar Halim.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment