Cabuli Anak di Bawah Umur,  AY Dituntut 8 Tahun Penjara

Ilustrasi (bnn/net)

Denpasar/BaliNewsNetwork-Seorang remaja bernama I Putu AY (21), sepertinya akan menghabiskan masa remajanya di balik jeruji besi. Pasalnya, I Putu AY yang menjadi terdakwa dalam kasus pencabulan anak di bawah umur ini dituntut hukuman pidana penjara selama 8 tahun oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar pada Selasa (5/12) kemarin.

JPU Cokorda Intan Melany Dewie menilai terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana duatur dalam Pasal 76 E Jo Pasal 82 ayat 2 UU RI No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Terdakwa melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan perbuatan cabul,” kata JPU di depan mkejelis hakim pimpinan I Gusti Ngurah Partha Bhargawa.

Dalam pertimbangan hal yang memberatkan, JPU menilai perbuatan terdakwa bertentangan norman kesusilaan. Sedangkan hal yang meringakan, terdakwa menyesali perbuatannya, mengakui kesalahannya, dan masih muda sehingga masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri.

“Memohon kepada majelis hakim untuk menghukum terdakwa I Putu AY dengan pidana penjara selama 8 tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan dan denda sebesar Rp 5.000.000 subsidair 3 bulan kurungan,” tegas JPU saat membacakan pokok tuntutannya.

Dirasa berat atas tuntutan JPU itu, terdakwa melalui kuasa hukumnya menyatakan mengajukan pledoi (pembelaan) secara tertulis pada sidang pekan depan.

Sebagaimana disebutkan dalam dakwaan JPU, kasus yang menjerat terdakwa ini bermula saat korban KSV yang masih berusia 13 tahun, bersama temannya berinisial YSE pergi ke pantai Mertasari, Sanur pada 17 April 2017.

Dalam perjalanan pulang, sepeda motor yang dikendarai oleh korban KSV kehabisan bensin. Korban KSV kemudian mengirim pesan kepada terdakwa melalui media sosial Instragam untuk menemuinya di depan Hotel Santika.

Singkat cerita, setelah terdakwa menemui koban dan bersedia mencarikan bensin, terdakwa kemudian mencari tempat menginap di daerah Mengwi tepatnya Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani.

Lalu, sekitar pukul 22.00 Wita terdakwa bersama korban KSV dan teman korban YSE menginap dalam satu kamar tidur. Dimana, terdakwa dan korban KSV tidur seranjang. Sedangkan teman korban YSE tidur dilantai. Kemudian terdakwa membujuk korban KSV untuk berhubungan badan. Namun korban KSV menolak dengan alasan sedang datang bulan. Tetapi terdakwa terus memaksa menjamah tubuh korban KSV.

Perbuatan terdakwa terus berlanjut selama keduanya menginap di tempat tersebut. Hingga pada 20 April 2017 pukul 22.00 Wita, orang tua korban KSV mendatangi tempat penginapan itu untuk menjemputnya.

“Sesuai dengan Visum Et Repertum Nomor: 445/4034/V/RSUD, tanggal 16 Mei 2017 dibuat dan ditanda tangani oleh dr Ida Bagus Putu Alit, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan dan tidak ditemukan tanda persetubuhan baru,” beber JPU.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment