Jadi Kurir Jual Beli Narkotika,  Stiefani Dituntut 18 Tahun Penjara

Stiefani Anindya Hadi besama kuasa hukumnya (bnn/pro)

Denpasar/BaliNewsNetwork-Kurir ekstasi sebanyak 9.675 butir bernama Stiefani Anindya Hadi (25), dituntut hukuman pidana penjara selama 18 tahun oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar pada Senin (4/12).

Dalam surat tuntutan JPU yang dibacakan oleh Jaksa I Ketut Sujaya menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana yakni tanpa hak melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menerima Narkotika golongan I dalam bentuk bukan tanaman sebagaimana diatur dalam Pasal 114 ayat 2 Undang-Undang (UU) RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Selain mendapat hukum penjara selama 18 tahun, perempuan asal Genteng, Banyuwangi,  Jawa Timur ini juga dituntut dengan hukuman pidana denda.

“Menjatuhkan pidana penjara selama 18 tahun dikurangi selama terdakwa dalam tahanan dan pidana penjara denda sebesar 2 milliar rupiah subsidair 6 bulan penjara,” tegas Jaksa Sujaya dalam surat tuntutanya yang dibacakan dihadapan Majelis hakim pimpinan Dewa Budi Warsara.

JPU juga menyampaikan beberapa hal yang dijadikan sebegai pertimbangan dalam tuntutannya. Di antaranya, terdakwa belum pernah dihukum, sopan dan mengakui perbuatannya, ungkap Jaksa sebagai hal yang meringakan.”Hal yang memberatkan perbuatan terdakwa merusak citra dan budaya Bali, serta dapat merusak kesehatan dan moral masyarakat khususnya generasi muda,” kata Jaksa

Setelah mendengar pembacaan tuntutan JPU, ketua hakim memberi kesempatan kepada pihak terdakwa untuk menanggapi tuntutan tersebut. Setelah berkonsultasi, pihak terdakwa menyatakan keberatan sehingga akan mengajukan pledoi tertulis. Sehingga sidang akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda pembacaan pledoi dari pihak terdakwa.

Diuraikan dalam dakwaan JPU sebelumnya, kasus yang menjerat terdakwa ini bermula dari perjumpaan terdakwa dengan perempuan berinisial UNO yang dikenalkan oleh IM (DPO) pada Januari 2017 lalu.

Singkat cerita, Stiefani kemudian diminta tolong untuk mengirim barang dari Palembang ke Bali. “Terdakwa dijanjikan akan diberikan ongkos dan dikirimi tiket pesawat Garuda untuk berangkat dari Banyuwangi ke Palembang via Surabaya dan Jakarta, “ujar Jaksa.

Setelah mengiyakan, keesokan harinya, terdakwa kemudian berangkat dan setiba di Palembang, Stiefani sudah disiapkan kamar dan akan dijemput seseorang bernama Boru. “Setiba di kamar hotel, oleh Boru, terdakwa kemudian dijelaskan kode putih (sabu) dan kancing (ekstasi), “imbuh Jaksa.

Keesokan harinya terbang ke Bali dan menginap di Hotel Fame Jalan Sunset Road Kuta Badung. Setiba di hotel, terdakwa kembali ditelepon oleh Imam alias Kate melalui resepsionis hotel dan mengatakan ada tamu yakni suami terdakwa datang. “Kemudian oleh terdakwa dijawab agar tamu langsung masuk ke kamar, “jelasnya.

Selanjutnya, tamu yang ternyata bukan suaminya dan melainkan Sukron Wardana itu kemudian meminta barang yang ada di dalam tas bertuliskan Chanel Paris. Selanjutnya Sukron ditangkap oleh BNNP dengan barang bukti ribuan ekstasi.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment