Diduga Gelapkan Uang Hasil Penjualan, Wanita 19 Tahun Diadili

Terdakwa Siti Fatimah (paling kiri)  didampingi ketiga pengacaranya saat mengikuti persidangan di PN Denpasar (bnn/pro)

Denpasar/BaliNewsNetwork-Nasib sial menimpa wanita 19 tahun asal Banyuwangi bernama Siti Fatimah. Niat untuk mengubah nasib di Bali malah berujung ke penjara.

Pasalnya, dia bersama dua temannya, Resti Perdani Putri dan Wulandari diduga menggelapkan uang hasil penjualan di tempat kerjanya.

Alhasil, mereka pun harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di muka sidang.

Meski begitu, terdakwa Siti Fatimah tidak menghadapi perkara ini sendiri. Dia didampingi oleh tiga pengacara.

Mereka adalah Charlie Yustus Usfunan, I Dewa Ketut Gede Kartawiguna dan I Dewa Ayu Dwiyanti.

Terungkap dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ni Ketut Hevy Yusantini perbuatan yang dlakukan terdakwa bersama dua rekannya itu terjadi antara bulan Januari 2017 hingga Mei 2017 di toko Girly Shop di Jln. Raya Canggu, Badung.

Tugas terdakwa dan Wulandari adalah, bersih-bersih, SPG, melayani perjualan, mengimput data penjualan, mencatat transaksi dan masih banyak lagi. Nantinya, hasil penjualan toko tersebut dilaporkan kepada pemiliknya yang bernama Putu Ayu Dewi Antasari. Diketahui toko terbut menjual berbagai macam kosmetik, serta boneka.

Nah, kasus ini terungkap saat dilakukan penghitungan hasil penjualan antara bulan Januari 2017 hingga Mei 2017 oleh Resti Perdani Putri dan Wulandari dan juga terdakwa.

Seharusnya hasil penghitungan tersebut seluruhnya diserahkan kepada pemilik toko. Namun, tanpa seizin pemilik toko, ketiga terdakwa memotong hasil penjualan dan hanya menyerahkan setengahnya kepada pemilik toko.

“Setengah dari uang yang dipotong itu dibagi tiga,” sebut jaksa dalam dakwaannya yang dibacakan di hadapan majelis hakim pimpinan Ekstar Oktavi.

Perbuatan ketiga terdakwa ini terungkap saat pemilik toko merasa curiga karena hasil penjualan yang semakin menurun.

“Karena curiga lalu lakukan audit dan pencocokan antara buku manual penjualan dengan data penjualan di komputer,” sebut jaksa dari Kejari Denpasar itu.

Hasilnya, ada selisih hasil perjualan. Setalah ditanyakan kepada Resti Perdani dan Wulandari terkait adanya perbedaan antara buku catatan manual dengan data yang ada di komputer, keduanya mengaku hanya menyetor sebagian uang hasil penjualan. Sedangkan sebagain lagi dibagi tiga dengan terdakwa.

Charlie Yustus Usfunan salah satu kuasa hukum terdakwa Siti Fatimah mengatakan, kliennya memang mengakui ikut menikmati hasil dari perbuatan tersebut.

Namun terdakwa tidak mengetahui bahwa uang yang selama ini diberikan oleh Resti Perdani dan Wulandari adalah uang hasil penjualan yang dipotong sebelum disetor ke pemilik toko.

“Katanya sih bonus, makanya terdakwa mau ambil uang itu,” pungkas Charlie.

Atas perbuatan itu, terdakwa Siti Fatimah dijerat dengan Pasal 374 jo Pasal 64 ayat (1) jo Pasal 55 ayat (1) dan Pasal 480 ayat (1) KUHP. (pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment