Terapkan Konsep “Sister Village”, Warga Gunung Agung Masih Bertahan di Radius 12 Km

Pengungsi Gunung Agung. Foto: bnn/sid.

Karangasem/BaliNewsNetwork-Seminggu (18 September 2017-red) pasca penetapan status Gunung Agung dari normal menjadi waspada, kemudian dari waspada ke siaga, hingga awas, Kepala Humas Pusat dan Data Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pihaknya secara tidak langsung telah menerapkan konsep “Sister Village”.

Dan hal ini sudah berlangsung di Bali, dimana para warga Bali secara sukarela membantu warga pengungsi Gunung Agung dalam hal penitipan ternak, penampungan, pengiriman bantuan sembako, dan lain sebagainya.

“Di Klungkung ada masyarakat yang menyediakan lahan untuk penampungan ternak sapi. Juga di dekatnya tempat pengungsi untuk warga yang memiliki sapi. Masyarakat menyediakan itu dengan gratis bahkan menyampaikan informasinya ke medsos disertai nomor hp. Ini luar biasa. Spontanitas dan gotong-royong yang muncul karena solidaritas masyarakat,” ujar Sutopo Minggu (24/09).

Pihaknya mengaku surprise bahwa di Bali hal ini sudah diterapkan. Pihaknya tidak menemukan hal ini di tempat lain. “Tapi di Bali langsung banyak sekali. Bahkan dimana-mana menawarkan bantuan, baik tempat tinggal untuk pengungsian, ternak, sembako, dan lain-lain, pengungsi banyak yang menempati titik-titik yang tidak disiapkan tenda. Tapi justru dari masyarakat,” jelasnya.

Bahkan di Jepang, hampir 80 persen masyarakat menangani dirinya sendiri dan keluarganya saat terjadi bencana sampai tiga hari. Setelah itu bantuan baru berdatangan. “Jangan sampai ketangguhan masyarakat Bali dilemahkan oleh media sosial,” tandasnya.

Meski demikian, ratusan warga pengungsi Gunung Agung yang berada di radius sekitar 8 km dari gunung cenderung memilih mengungsi ke desa-desa terdekat. Pantauan di lokasi, masih banyak warga yang memilih mengungsi mandiri ke banjar-banjar terdekat desa tetangga.

Seperti yang dilakukan oleh ibu Nyoman (38), warga desa Selat ini memilih mengungsi ke Banjar Kikian, Desa Sinduwati, Karangasem lantaran dirasa lebih dekat dengan desanya. Namun Kikian belumlah aman, banjar ini masuk dalam di KRB II dengan radius 12 km dari Gunung Agung.

Tak hanya bu Nyoman, beberapa warga lainnya mengaku memilih mengungsi ke desa terdekat agar lebih mudah memberi makan hewan ternak dan mengurusi lahan pertanian mereka sebagai sumber mata pencaharian mereka.

Namun sayangnya mengungsi dengan cara mandiri ini justru menimbulkan masalah baru. Pantauan di lokasi, banyak warga yang masih tinggal di banjar-banjar kecil dengan kondisi yang memprihatinkan. Bu Nyoman yang membawa anaknya ini harus tidur berhimpit-himpitan dengan warga dari desa lain yang turut mengungsi di banjar yang kondisinya tidak layak untuk para pengungsi.

“Ya di sini ada 700 orang warga yang mengungsi tapi sebagian sudah pergi menyebar ke tempat lain. Di sini mayoritas lansia dan anak-anak,” kata kaling Banjar Kikian, Desa Sinduwati, Karangasem.

Adanya peningkatan status Gunung Agung dari level III (siaga) ke IV (awas) disebutkan Kepala PVMBG, Kasbani bahwa Gunung Agung bisa meningkat ke level V yang artinya radius 20 km sudah tidak ada lagi aktivitas di kawasan tersebut.

“Sehingga jika terjadi letusan diperkirakan letusannya 10 kali lipat dari Gunung Merapi di Yogyakarta yang berada di level IV, karena itu radius 20 km warga harus sudah steril,” ujar Kasbani belum lama ini. Pihaknya berkaca pada letusan tahun 1963 lalu. Dimana Gunung Agung mengalami erupsi selama setahun.

Adanya sistim peringatan dini dari pemerintah soal kemungkinan-kemungkinan, dan dampaknya jika Gunung Agung meletus telah disosialisasikan oleh petugas BPBD Bali dan Karangasem, dan instansi terkait lainnya agar masyarakat secepat mungkin bisa merespon jika terjadi tanda-tanda Gunung Agung akan meletus.

Namun berkaca pada kondisi di lapangan, dimana masih banyaknya warga yang tetap tinggal di radius 8 km dan 12 km. Sepertinya pemerintah harus terus mensosialisasikan dampak dan bahayanya jika Gunung Agung memuntahkan laharnya. Letusan yang kali ini diprediksi akan meningkat tajam melebihi peristiwa meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta dan Gunung Krakatau di Lampung. (Sid)

Editor: Ni Ketut Budiantari

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment