Takut Meletus, Eksodus Gunung Agung Pilih ke Denpasar

Foto: bnn/ist.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Pengungsi mandiri yang dilakukan sejumlah warga yang tinggal dekat dengan Gunung Agung, Karangasem mulai memadati Kota Denpasar sejak Rabu (19/09) lalu. Terdeteksi jumlah pengungsi di Jalan Sekuta, Sanur ada 102 orang yang terdiri dari dewasa, lansia, dan anak-anak serta balita yang berasal dari Dusun Cegi, Dusun Pengalusan, dan Dusun Perasan, Kecamatan Kubu, Karangasem. Jumlah ini diprediksi akan terus bertambah, mengingat status Gunung Agung kini di level III (siaga).

Selain di Jalan Sekuta, informasi yang berhasil dihimpun pengungsi Gunung Agung tersebar di beberapa titik di Kota Denpasar, seperti di Jalan Batur Sari, Sanur Kauh dan di Padangsambian, Denpasar Barat.

Plt Kalak BPBD Kota Denpasar Made Prapta mengungkapkan, pihaknya hingga saat ini masih mendata jumlah pengungsi yang diprediksi akan terus bertambah. Menurutnya, sejumlah warga dari Dusun Cegi memutuskan eksodus ke Denpasar, lantaran frekuensi gempa di desanya yang masuk Zona Kawasan Rawan Bencana (KRB) III sangat terasa, mereka ketakutan sehingga memutuskan untuk mengungsi mandiri ke rumah saudaranya di Kota Denpasar.

“Untuk pengungsi mandiri mereka datang sendiri karena ada keluarganya, dan langsung ke Sekuta kita data untuk mengetahui jumlahnya berapa. Kita akan terus pantau untuk mengetahui kebutuhan mereka,” ujarnya di lokasi, Jumat (22/09).

Untuk bantuan yang dibutuhkan katanya, hingga saat ini pihaknya masih mendata apa saja yang dibutuhkan. Namun untuk antisipasi pertama, pihaknya bekerjasama dengan Pusdalops PB Provinsi Bali dan Dinas Kesehatan Kota Denpasar sebagai langkah awal telah memeriksa kesehatan para pengungsi. Namun yang urgensional para pengungsi tersebut membutuhkan beras, sembako, air bersih dan obat-obatan.

Selain itu terkait kelayakan tempat pengungsian, pihaknya akan mengupayakan agar para pengungsi tersebut mau dipindahkan ke tempat pengungsian sementara di Serangan.

“Kita akan ambil tindakan dalam waktu cepat habis ini saya akan laporkan ke pak Sekda dan melihat kondisi ini kita akan kaji apakah mereka akan tetap disini atau kita akan pindahkan. Kita juga punya tempat pengungsian sementara di Serangan. Kalau disana kan bisa sampai berapa lama pun tidak masalah,” ujarnya.

Sementara salah satu warga yang menampung keluarganya di Jalan Sekuta adalah I Komang Sedeng (32), penduduk asli Dusun Cegi yang sudah hijrah ke Kota Denpasar dengan menjadi peburuh selama 17 tahun.

Pria yang mengaku tak tamat SD ini memang berkeinginan membawa seluruh keluarganya untuk tinggal di Denpasar. Jarak dari Dusunnya ke Kawah Gunung Agung katanya hanya 3 km.

“Saya memang berinisiatif mengajak keluarga saya kesini (Sekuta, Denpasar Selatan-red), karena kami takut ketika ada getaran tanggal 19 September 2017 kemarin itu saya ambil keluarga saya. Di Sekuta saya dipinjamin tempat,” katanya.

Menurutnya, kondisi dusun Cegi saat ini sudah kosong melompong semua penduduknya sudah menyebar mengungsi. Namun, masih ada ternak yang sengaja ditinggalkan oleh beberapa warga.

Pihaknya berharap ada bantuan sekedarnya dari masyarakat atau pihak lain ataupun pemerintah. Saat ini yang dibutuhkan oleh para pengungsi tersebut antaralain sembako dan alat mandi.

“Kami tidak meminta tapi apa yang dibutuhkan di sini ya sembako alat mandi, dan pemerintah bisa mengijinkan kami disini dulu,” ujar I Nyoman Nawi (30) salah satu warga Dusun Pengalusan yang ikut mengungsi ke Sekuta.

Kebetulan katanya, jarak Dusun Cegi ke Pengalusan dekat dan kebetulan pula ada saudaranya yang tinggal di Sekuta. Ditanya apakah pihaknya jika disuruh pemerintah pindah lokasi ke Desa Serangan, dia mengaku enggan pindah. Begitupun sejumlah warga yang lain, mereka enggan pindah lantaran lebih memilih berkumpul bersama saudaranya.

“Memang mereka enggan pindah tadi si mereka minta tenda terbuka untuk kumpul-kumpul dan kita sedang usahakan akan kita dirikan,” tandas Made Prapta.

Memang pantauan di lokasi, tempat untuk para pengungsi tersebut sangat tidak representatif. Banyak sampah rongsokan dimana-mana yang menimbulkan bau tidak sedap. Padahal ada banyak pengungsi anak-anak serta balita yang tentunya harus mendapatkan tempat yang layak serta kebutuhan gizi mereka terpenuhi. (Sid)

 

Editor: Ni Ketut Budiantari

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment