Balai Besar Penelitian Latih Warga Likotuden Olah Sorgum

Tim Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Kementerian Pertanian Indonesia sedang melatih ibu rumah tangga, dusun Likotuden mengolah sorgum menjadi mi sorgum, brownies dan snack bar. Foto: bnn/emnir.

Demong Pagong/BaliNewsNetwork-Likotuden, demikianlah nama sebuah dusun di Desa Kawalelo, Kecamatan Demong Pagong-Flores Timur. Kini semakin terkenal hanya karena tanaman sorgum (Sorghum spp). Usaha pegiat pertanian, Maria Loretha bersama Yayasan Pembangunan Sosial Ekonomi Keusukupan Larantuka yang bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Flores Timur di musim tanam Tahun 2016 telah menjadikan kampung kecil tersebut menjadi kampung tambatan hati Kementerian Pertanian Indonesia. Terlepas dari tingginya permintaan sorgum asal Flotim oleh dunia pasar baik lokal maupun nasional, Likotuden kampung penghasil Sorgum terbesar di Flotim itu pun lantas menjadi tempat Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Kementrian Pertanian Indonesia untuk mentransferkan ilmu meracik atau mengolah sorgum menjadi makanan beragam jenis.

Sebagaimana yang disaksikan balinewsnetwork.com pada Selasa (12/09), bertempat di Markas Maria Loretha, di Dusun Likotuden, Tim Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen, Kementrian Pertanian yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Nur Richana, MS bersama Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Flotim, Ir. Antonius Wukak Sogen merasuki warga Likotuden dengan dengan praktek mengolah sorgum menjadi mi sorgum, brownies dan snack bar.  Berbagai peralatan pengolahan pun disumbangkan kepada warga dusun tersebut.

“Kami menyentuh sorgum dari sisi pasca panen. Oleh karena itu kami datang untuk melatih warga Likotuden bagaimana cara mengolah tepung sorgum menjadi makanan dalam berbagai ragam jenis. Selain kandungan gisi yang teramat kaya, melalui pelatihan ini, warga bisa menjadikan sorgum sebagai sumber penghasilan baru. Jadi tak saja rindu sebagai makanan pokok, namun harus bisa berdaya gerak ke peningkatan perekonomian warga. Ayo orang muda Flotim, lihatlah sorgum, jadikanlah masa depanmu. Sorgum sungguh menjanjikan,” ujar Profesor Nur Richana memotivasi.

Mendapat dukungan penuh dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen tersebut memacu semangat Kadis Anton Wukak Sogen dan Maria Loretha. Mimpi besar mereka menjadikan sorgum sebagai makanan pokok orang Flotim itu pun merambah pada komitmen perluasan lahan sorgum di musim tanam 2017 ini. Dari 770 Ha lahan sorgum di Flotim (musim tanam 2016), mereka pun semakin mantap menaikkan luas areal pengembangan sorgum di musim tanam 2017 menjadi 5000 Ha yang tersebar pada tiga daratan Flotim termasuk Kabupaten Lembata.

“Likotuden adalah kampung sorgum, dan kampung kehidupan pertanian baru. Daerahnya unik. Bila tanam padi dan jagung pasti mati. Namun tidak untuk sorgum. Perkembangannya sangat luar biasa dan petani Likotuden sungguh merasakan manfaat tanaman sorgum itu kini. Berkat kerja sama dengan Yaspensel dan Ibu Maria Loretha dan kini mendapat dukungan penuh dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen, kami telah merencakan meluaskan perkembangannya pada seluruh wilayah Flotim di musim tanam tahun ini,” papar Ir.Anton Wukak dalam semangat membara. (Emnir)

Editor: Ni Ketut Budiantari

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment