Dampak Kekeringan, Warga NTT Konsumsi Ubi Beracun

Foto warga saat menggali ubi. Foto: bnn/amar ola keda.

Kupang/BaliNewsNetwork-Warga Desa Tana Mbanas Selatan, Kecamatan Umbu Ratunggai Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini mengalami rawan pangan. Sejumlah warga setiap hari terpaksa mencari ubi beracun yang tumbuh di lereng-lereng bukit untuk dikonsumsi.

Ubi beracun ini dalam Bahasa Sumba berbeda-beda, ada yang menyebutnya iwi atau uwi, sementara warga Tana Mbanas Selatan menyebutnya ui.

Warga setempat terpaksa makan ubi tersebut karena tidak ada lagi cadangan makanan yang tersisa di rumah. Jagung yang ditanamnya pada musim tanam kedua, April lalu mengalami gagal panen. Demikian pula keladi dan ubi kayu yang ditanam hanya pohon tak ada umbinya.

“Jagung yang masyarakat tanam pada musim tanam kedua gagal panen karena curah hujan yang sangat minim. Sementara keladi dan ubi kayu pun tak ada hasilnya akibat kondisi tanah yang berbatuan. Jadi masyarakat terpaksa mencari ui untuk dimakan karen sudah tidak ada lagi makanan,” ujar Dena Kondaratu, Ketua RW 06, Dusun Waipanjelu kepada wartawan, Selasa (12/09).

Warga terpaksa mencari ubi untuk dimakan karena selain gagal panen, besar raskin yang dinanti juga tak kunjung datang. “Kami sudah setor uang raskin tapi jatah perguliran ketiga belum didistribusi dari pemerintah kabupaten. Informasinya raskin masih dalam proses di kabupaten,” katanya.

Hamba Manganatauma (76), warga Dusun Waipanjelu mengatakan karena tidak ada lagi cadangan makanan di rumahnya, dirinya terpaksa ikut bersama kelompok warga untuk menggali ubi.

Menurutnya, ubi yang didapat langsung diiris dan dijemur di tempat tersebut. Keesokan harinya ubi tersebut dibawa ke anak sungai Langga Liru yang jaraknya sekitar 14 kilometer untuk direndam selama sehari untuk menghilangkan zat racunnya.

“Setelah direndam, barulah dijemur lagi dan sudah kering baru bisa dikonsumsi. Prosesnya cukup panjang mulai dari mencari, mengiris tipis-tipis, dijemur, kemudian direndam untuk menghilangkan racunya, dan dijemur lagi untuk layak dimakan membutuhkan waktu 5-7 hari,” kata Hamba.

Dirinya meminta perhatian Pemkab Sumba Tengah untuk membantu warga yang mengalami rawan pangan saat ini dengan berasa cadangan pemerintah.

Kepala Desa Tana Mbana Selatan, Merry Enga Ngelun membenarkan kondisi ini. Menurutnya, setiap tahun warganya mempertahankan hidupnya dengan mencari ubi untuk dimakan. Menurutnya, kondisi kesulitan pangan warga Tana Mbanas Selatan bukan masalah baru karena dari ratusan tahun para leluhur mendiami wilayah ini, kondisi rawan pangan selalu terjadi.

Dia mengaku jagung merupakan satu-satunya komoditi pertanian yang bisa diusahakan masyarakat karena kondisi tanah di wilayah itu tak memungkinkan untuk tanaman lain seperti ubi kayu dan keladi.

“Ada 225 KK di desanya, 157 KK merupakan penerima raskin. Namun, kondisi rata-rata raskin di setiap keluarga paling lama tiga minggu sampai satu bulan sudah habis. Sehingga, mau tidak mau harus mencari ubi untuk mempertahankan hidup,” imbuh Merry. (Amar Ola Keda)

 

Editor: Ni Ketut Budiantari

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment