Suami  Divonis Dua Tahun, Istri Langsung Pingsan

Terdakwa Gerrard Arta Warmadewa didampingi tiga kuasa hukumnya saat mendengarkan vonis hakim (bnn/pro)

Denpasar/BaliNewsNetwork-Majelis hakim pimpinan I Made Pasek pada sidang, Kamis (7/9) menjatuhkan vonis 2 tahun penjara terhadap R Gerard Arta Warmadewa yang terlibat kasus pemalsuan.

Mendengar putusan itu, Istri terdakwa, Sienny Karmana yang menyaksikan jalanya persidangan langsng jatuh pingsan dan dilarikan ke ruang mediasi untuk mendapat perawatan.

Sementara dalam sidang, majelis hakim dalam amar putusnya menyatakan terdakwa terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan pemalsuan dokumen.

Perbuatanterdakwa sebagaimana diatur dalam Pasal 263 ayat (1) KUHP.

“Menjatuhkan hukuman dua tahun penjara kepada terdakwa,” ujar majelis hakim dihadapan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suhadi dan terdakwa yang didampingi kuasa hukumnya, Edward Pangkahila dkk.

Usai sidang, kuasa hukum terdakwa, Edward Pangkahila yang ditemui mengatakan istri korban syok setelah mendengar putusan hakim yang menjatuhkan hukuman 2 tahun penjara kepada suaminya.

Pasalnya, melihat fakta persidangan, pihaknya yakin jika terdakwa Gerard tidak bersalah karena perkara ini masuk ranah perdata.

Kuasa hukum terdakwa menunjukan surat laporan ke Polisi (bnn/pro)

“Tapi putusan mengatakan lain dan menyatakan terdakwa bersalah,” jelas Edward dengan nada kecewa.

Ia mengatakan perkara ini berawal dari kerjasama antara terdakwa Gerard dan rekannya, Slamet H (korban) pada 2013 lalu.

Dalamkerjasama ini juga berisi perjanjian jual beli tanah milik Slamet yang akan dibeli terdakwa.

Di atas tanah ini nantinya akan dipecah menjadi tiga (kavling) dan akan dibangun tiga buah rumah.

Lalu atas permintaan korban dibuatlah kwitansi Rp 2 miliar seolah-olah sudah terjadi jual beli antara keduanya.

Nantinya, Gerard akan membangun tiga unit rumah di atas lahan milik Slamet ini. Setiap unit bangunan yang laku, sebagian uangnya akan digunakan untuk melunasi pembayaran tanah milik Slamet.

Awalnya satu unit rumah selesai dan laku terjual. Terdakwa memberikan sebagian hasil penjualan kepada korban.

Masalah muncul saat pembangunan rumah kedua. Pihak korban menguasai lahan tersebut dan membatalkan kerjasama.

Selain itu korban juga langsung lapor penipuan ke Polda Bali. Saat penyelidikan di kepolisian, ditemukanlah bukti baru yaitu kwitansi jual beli antara terdakwa dan korban.

Saatdikonfrontir, korban mengaku tidak pernah melakukan jual beli dan menyatakan tanda tangan di kwitansi tersebut palsu.

Akhirnya penyidik membuat laporan polisi baru yaitu pemalsuan tanda tangan hingga akhirnya terdakwa duduk di kursi pesakitan.

“Padahal jelas kalau ide membuat kwitansi jual beli tersebut dari pihak korban dan korban juga yang tanda tangan. Tapi di penyidik dia membantah,” lanjut Edward.

Dalam persidangan juga terungkap fakta menarik dimana korban dan kuasa hukumnya diduga menggunakan putusan palsu ke persidangan.

Denganputusan ini, terdakwa langsung menyatakan banding. Sementara JPU Suhadi menyatakan menerima putusan meski jauh dari tuntutan sebelumnya yaitu 4 tahun penjara.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment