Prof. Dr. I Made Bandem, MA – Seniman, Budayawan,  Akademisi, dan Politisi

Prof. I Made Bandem dan istri Ny. Dr. Suasthi Widjaja Bandem bersama manajemen STIKOM Bali foto bersama Konsul Jenderal Jepang Wilayah Bali – Nusa Tenggara  Mr. Hirohisa Chiba usai menerima penghargaan dari Kementerian Luar Negeri Jepang  yang diberikan oleh Mr. Hirohisa Chiba di Kantor Konsulat Jenderal Jepang Wilayah Bali – Nusa Tenggara di Denpasar, Jumat (08/09). BNN/RAHMAN

Denpasar/balinewsnetwork.com-The New York Times (1990) menyebut I Made Bandem sebagai “the Joe Papp of Bali” karena kegigihannya dalam melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya Bali, serta sebagai salah seorang pemikir kebudayaan Bali terpenting pada abad ini.

Dalam kaitannya dengan keadilan dan demokratisasi musik dunia sejak tahun 1968, I Made Bandem ikut menyebarkan kesenian Bali (Indonesia) ke berbagai perguruan tinggi dunia termasuk di Amerika Serikat, Kanada, Eropa, dan Jepang. Seiring dengan berkembangnya gamelan Indonesia di seluruh dunia dimana telah berhasil bersanding dengan musik Barat, atas prakarsa dan usaha tersebut maka pada tahun 1994 I Made Bandem menerima International Music Council Award dari UNESCO.

Menjadi konsultan pendirian Sekolah Tinggi Seni dan Museum Seni kelompok minoritas di Yunnan, Cina Selatan pada tahun 1994 – 1995 demi kesetaraan seni kelompok minoritas dengan kelompok Han di Yunnan Cina Selatan. Sekolah  Tinggi Seni yang memiliki ratusan mahasiswa dan Museum Seni yang menampung puluhan ribu artefax kesenian kelompok minoritas Cina, kini menjadi lembaga yang prestisius di Cina Selatan.

Sebagai Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN), I Made Bandem ikut sebagai tokoh yang membangun demokratisasi pendidikan dengan menyusun Saran Pertimbangan yang disampaikan kepada Pemerintah Republik Indonesia. Saran-saran Pertimbangan itu disusun setelah mendapat masukan dari masyarakat seluruh Indonesia yang dijaring lewat kunjungan kerja ke berbagai daerah di Indonesia selama 10 tahun.

Bandem dikenal memiliki pengalaman dan prestasi yang luar biasa dalam 4 (empat) bidang sebagai berikut:

  1. Etnomusikologi

Bandem adalah orang Indonesia pertama yang meraih gelar Ph.D dalam bidang etnomusikologi dari Wesleyan University, Connecticut, Amerika Serikat pada tahun 1980. Sebagai ilmuwan musik-musik dunia, Bandem turut memajukan konsep “bi-musicality” yang menegaskan bahwa musik adalah sebuah bahasa yang universal, dan setiap etnomusikolog mesti memahami lebih dari satu jenis musik dunia.

Pemahamannya akan musik dunia seperti musik Jepang, Thailand, Korea dan Cina, serta kemampuannya dalam musik tradisi Indonesia, termasuk musik Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Bali menjadikannya seorang ilmuwan yang rajin melakukan penelitian dalam bidang musik, tari dan teater.

Sebagai seorang etnomusikolog, Bandem telah menerbitkan banyak buku dan penelitian ilmiah yang berhubungan dengan seni dan budaya di pentas nasional dan internasional.

Salah satu bukunya yang menjadi referensi utama bagi pembelajaran musik, tari dan teater Bali adalah Kaja and Kelod: Balinese Dance in Transition (Oxford University Press, Kuala Lumpur, 1981, 1995). Selain itu Bandem juga menulis Wayang Wong in Contemporary Bali (Bali Mangsi), Teater Daerah Indonesia (Kanisius), Prakempa (ASTI/STSI Denpasar), Gamelan Bali di Atas Panggung Sejarah (Penerbit STIKOM Bali).

Sebagai alumni Lemhannas Penataran Kewaspadaan Nasional Khusus Rektor 1983, Bandem memberi Orasi Ilmiah dalam rangka HUT Lemhannas 2006 berjudul “Menuju Kebangkitan Global Kebudayaan Indonesia” yang menegaskan peran seni budaya Indonesia dalam percaturan kehidupan masyarakat dunia untuk mencapai perdamaian antar bangsa.

Pengabdiannya dalam bidang etnomusikologi berlanjut sebagai salah seorang pendiri Masyarakat Musikologi Indonesia (MMI)  di tahun 1985 di Surakarta, Jawa Tengah. Tak lama kemudian, MMI pun bertransformasi menjadi Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) sebagai sebuah pusat penelitian, penciptaan dan pengembangan kesenian Indonesia, baik klasik maupun kontemporer. Melalui organisasi ini, Bandem makin meluaskan peran etnomusikologi sebagai sebuah disiplin seni unggulan di berbagai kampus seni di Indonesia.

Di tahun 1986, Bandem juga melaksanakan The First International Gamelan Festival sebagai sebuah evaluasi akan perkembangan gamelan di seluruh dunia. Festival yang diikuti 250 delegasi dari seluruh dunia ini dilaksanakan bersamaan dengan Vancouver Expo 1986 di Kanada dan berhasil menunjukkan pengaruh gamelan sebagai bagian penting dari kebudayaan dunia.

Pada tahun 1997, Bandem mendirikan Museum Gamelan (The Museum for Musical Instruments of Indonesia) di STSI Denpasar (kini ISI Denpasar), yang menampilkan ansambel-ansambel dari seluruh Indonesia sebagai arsip-dokumentasi, pusat penelitian dan inspirasi penciptaan seni-seni baru. Museum ini juga menjadi pusat arsip akan berbagai rekaman audio dan visual seni dan budaya, termasuk juga kostum tarian, topeng, wayang, patung dan lukisan.

Di tahun 2006, Bandem dianugerahi The Fumio Koizumi Prize atas dedikasi dan prestasinya dalam memajukan dunia etnomusikologi di pentas dunia.

  1. Pendidikan

Bandem adalah pendidik dan pembina ilmu-ilmu seni yang dipercaya memimpin kampus-kampus seni seperti ASTI Denpasar (1981-1989), STSI Denpasar (1989-1997) dan ISI Yogyakarta (1997-2006). Selama 25 tahun bertugas, banyak konsepnya dijadikan model pengembangan lembaga pendidikan seni di Indonesia.

Bandem menjabat sebagai anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN) selama 10 tahun (1993-2003) dan saat itu Bandem serius memperjuangkan eksistensi berbagai jenis dan jenjang pendidikan, termasuk pendidikan kejuruan. I Made Bandem juga pernah menjadi Anggota Pleno Badan Akriditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi dan bertugas menilai Perguruan Tinggi di Indonesia (1999-2004).

Bandem juga pernah menjadi salah seorang anggota Konsorsium Seni/Komisi Disiplin Ilmu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1985-2006) dan berhasil merumuskan seni sebagi bidang ilmu mandiri.

Mulai tahun 1985, seni ditetapkan sebagai ilmu mandiri dan lulusan ASTI/STSI/ISI di Indonesia diperkenankan menggunakan gelar akademis S-1. Kemudian ketika memimpin ISI Yogyakarta, Bandem bersama para pimpinan institut itu berhasil memperjuangkan berdirinya Program S-2 Kajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan tahun 2000, dan Program S-3 pada tahun 2006. Kini para mahasiswa yang mengikuti kuliah di Institut Seni di Indonesia sudah berhak untuk mengikuti studi dari jenjang S-1, S-2, dan S-3 serta berhak menjandang gelar Sarjana Seni, Magister Seni dan Doktor Seni.

Bandem ditugaskan Menteri Pariwisata untuk bergabung dengan Kelompok Sembilan Departemen Pariwisata yang tugasnya untuk menyusun pariwisata sebagai bidang ilmu mandiri. Para ahli bidang pariwisata Indonesia membutuhkan 25 tahun untuk merumuskan pariwisata sebagai bidang ilmu mandiri dan kemudian bersama Kelompok Sembilan di atas, Bandem berhasil merumuskan pariwisata sebagai bidang ilmu mandiri pada tahun 2007 dan lulusan Perguruan Tinggi Pariwisata di Indonesia akhirnya berhak menyandang gelar S-1 Ilmu Pariwisata.

Setelah pensiun, Bandem bersama istrinya, NLN Suasthi Widjaja Bandem, selama 8 tahun (2007-2015) mengajar kesenian Indonesia di College of the Holy Cross, Amerika Serikat. Bandem juga memajukan kesenian dan kebudayaan Indonesia di luar negeri dengan mengajar di University of Hawaii, University of California Los Angeles, Wesleyan University, University of Baltimore County dan Brown University.

Bandem turut mendirikan Yayasan Widya Dharma Shanti pada tahun 2001 yang berkembang menjadi salah satu badan penyelenggara pendidikan terbesar di Bali, khususnya di bidang teknologi informasi dan komputer. Keberadaan aset-aset pendidikan seperti STIKOM Bali, STT Bandung, SMKTI Bali Global, SMKTI Indonesia Global, Poltek Ganesha Guru, LPBA, Bisma Informatika dan lain-lain telah meluaskan peran serta dan sumbangsihnya dalam meningkatkan dan memajukan pendidikan tinggi dan daya saing bangsa.

Studi di bidang teknologi informatika. Para mahasiswa STIKOM Bali diwajibkan pula mempelajari bidang kesenian untuk memberi keseimbangan otak kanan dan kiri. Para pendiri STIKOM Bali yakin bahwa karakter bangsa Indonesia ke depan akan terletak pada kemampuan mereka di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.

  1. Manajemen Seni dan Diplomasi Kebudayaan

Bandem adalah juga salah seorang ahli seni yang ikut membesarkan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang dicetuskan oleh IB Mantra Gubernur Bali 1979 dan aktif melakukan rekonstrusi kesenian Bali untuk dapat dipentaskan setiap tahun di PKB. Sampai saat ini Bandem masih membidani PKB sebagai pengawas independen (evaluator), penulis Buku PKB ke 39 dan 40, tahun 2017 dan 2018.

Selama kariernya sebagai seorang seniman, I Made Bandem berhasil menjadi sutradara puluhan sendratari Ramayana, Mahabharata, Oratorium Indonesia yang dipentaskan dalam berbagai festival baik nasional maupun internasional.

Salah satu gagasan besar dan karyanya yang bernama Adi Merdangga bersama ASTI Denpasar menjadi model pengembangan Blaganjur modern sampai sekarang. Bandem juga ahli dalam berbagai tari dan musik dunia, termasuk Gagaku dan Bugaku, seni tari dan musik klasik dari Jepang, yang dipelajarinya langsung dari Matsaro Togi yang dipandang sebagai maestro dan ikon budaya di Jepang.

Bandem adalah artistic director kesenian Bali dan Indonesia lainnya pada Expo Vancouver Canda (1986), Expo Brisbane Australia (1988), Pameran Kesenian Indonesia di AS (1990-1991), Expo Sevilla Spanyol (1992), Expo Hanover Jerman (1995), Festival Persahabatan Indonesia-Jepang (1996-1997). Bandem dan Tim Kesenian ASTI/STSI Denpasar berkali-kali tampil dalam PATA  Indonesia dengan mempergelarkan The Beautiful Indonesia, Rainbow Over Indonesia, bentuk  pementasan kolosal yang menggambarkan keragaman budaya Indonesia.

Pada tahun 1995 Bandem ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebagai salah seorang anggota pengarah dan pelaksana Art Summit Indonesia, serta bertugas khusus sebagai Ketua Panitia Seminar Art Summit 1995 itu.

Bandem kini adalah kurator dari festival Bali Mandara Mahalango (2016, 2017) dan penasihat festival Bali Mandara Nawanatya (2016, 2017), dua festival besar yang kian melengkapi keberadaan Pesta Kesenian Bali. Hadirnya ketiga festival ini memberi ruang pelestarian, pementasan dan pengembangan seni klasik, popular dan kontemporer di Bali.

Bandem juga mempunyai perhatian dalam memajukan dunia seni rupa dan seni visual Bali. Di tahun 2005, Bandem turut mendirikan dan melaksanakan Bali Biennale yang merupakan perhelatan seni rupa terbesar di Bali, termasuk rangkaian pra-event di 5 kota di Indonesia.

Disebut oleh Collin Guide to Bali sebagai “the Bali Art Czar” (Pengeran Kesenian Bali), Bandem menerima International UNESCO Music Council Award pada tahun 1994 karena perhatian dan dedikasinya memajukan seni dan budaya di berbagai belahan dunia.

  1. Politik

Bandem mulai terlibat dalam dunia politik sejak masa SMA dengan memimpin organisasi bernama GSNI. Selama kuliah di Amerika, khususnya di Hawaii and California, Bandem memimpin PERMIAS (Indonesian Student Association in United States of America) dan mengembangkan jejaring seni-budaya nusantara antar kampus.

Bandem adalah wakil ketua DPD Partai Golkar di Bali pada tahun 1982-1998 dan  Bandem pernah menjadi anggota MPR-RI Utusan Daerah (Bali) selama tiga periode (1988-1993, 1993-1998, 1998-2000), dan selama menjabat sebagai anggota lembaga itu Bandem bertugas sebagai sekretaris PAH II yang membidangi Non GBHN atau sering disebut Bidang Politik. Bandem selalu memperjuangkan eksistensi kebudayaan untuk memperkuat konsep Pembangunan Indonesia yang berwawasan kebudayaan. (rsn)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment